| Selasa, 06 September 2005 | WACANA |
Surat PembacaHentikan Penggunaan Mobil Silinder BesarPemerintah kini teriak-teriak karena subsidi BBM membengkak, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mau menaikkan harga BBM takut didemo, tidak dinaikkan negara bisa bangkrut. Ibarat makan buah simalakama. Sebenarnya kondisi negara sudah kritis, tetapi hanya sedikit yang mau peduli. Lihat... sering pompa bensin yang kehabisan premium, bahkan untuk mendapat 5 liter bensin saja harus antre berjam-jam. Artinya stok nasional sudah makin tipis. Ironisnya, orang-orang tertentu masih berseliweran menggunakan mobil built-up ber-cc besar, pamer jip yang bahan bakarnya boros. Juga melenggang dengan Kijang Innova yang silindernya juga gede tanpa mau mengerti artinya krisis energi. Seolah yang kesulitan BBM hanya dialami orang-orang miskin saja. Saya usul sekaligus mengampanyekan agar mulai menghemat BBM. Caranya, dengan tidak menggunakan mobil yang boros BBM untuk ke kantor atau ke mal. Jika bepergian sendirian usahakan menggunakan mobil kecil atau cukup naik motor saja. Dengan pola pengiritan seperti ini dan jika semua pejabat/bos pabrik/orang-orang kaya mau peduli, maka penggunaan BBM akan sedikit terkurangi. Apalah artinya naik mobil mewah jika nanti BBM habis. Dengan pola pengiritan yang dilakukan mulai sekarang, sampai lima tahun ke depan mungkin masih bisa naik mobil. Sebaliknya para pejabat mulai memelopori gerakan penghematan ini. Apalagi mengingat utang negara belum terbayar dan pendapatan yang masih rendah akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan. Semakin sedikit BBM yang digunakan, makin kecil pula subsidi yang diberikan. Daryoso Jl Tusam 1396 Semarang *** Mencari Solusi Beberapa waktu lalu saya kedatangan tamu yang menyatakan sebagai kepala SMPN 2 Semarang yang rumahnya di daerah belakang stasiun Poncol. Dia menanyakan tulisan saya di Surat Pembaca berjudul ''Pendidikan Murah ?''. Dia menyatakan di sekolahnya tidaklah seperti apa yang banyak disinyalir oleh masyarakat. Sistem yang diterapkan di SMPN 2 dengan subsidi silang dan apa yang telah dipaparkan/sampaikan kepada saya sama persis dengan ketua Komite Sekolah tersebut Bapak Mulyono Hadipranoto pada saat acara Sorotan yang ditayangkan TV. Yang menjadi pertanyaan saya, apakah pendidikan murah yang dicanangkan Pemerintah benar-benar bisa terwujud dan bisa dinikmati kalangan menengah ke bawah, khususnya bagi warga miskin/kurang mampu. Dan kira-kira berapa % setiap sekolah mampu menampung/menerima siswa dari keluarga miskin/kurang mampu. Mohon Pemerintah (cq Pemkot/Pemkab), Dinas P dan K dan kalangan pendidik untuk bisa mencarikan solusinya. Bagaimana caranya agar mereka benar-benar bisa menikmati pendidikan murah karena hampir semua sekolah dalam menerapkan sistem penarikan dana SPI (Sumbangan Pengembangan Institusi) melebihi standar terapan yang ditetapkan Wali Kota melalui SK 422.1/018 Hartono Jl Tmn Sri Rejeki Slt VII/63, Semarang *** Parkir di UTDC Gratis Menanggapi keluhan masyarakat tentang pelayanan Unit Transfusi Darah PMI Kota Semarang, khususnya pungutan parkir bagi masyarakat yang sukarela menjadi penyumbang darah, kami je-laskan sbb: UTDC PMI Kota Semarang tidak pernah menugaskan atau meminta salah seorang karyawannya untuk memungut uang parkir termasuk Satpam. Bila masyarakat melihat oknum yang memungut ongkos parkir, dipersilahkan melaporkan melalui Kotak Saran yang tersedia. Uni Transfusi Darah Prof Dr dr Ag Soemantri SpA(K) SSi *** Jawaban Unika Soegijapranata Menanggapi surat Bapak Marcel S Suyoko yang dimuat di Surat Pembaca 1 September 2005, kami jelaskan sbb : Sejak awal, kepada calon mahasiswa yang hendak melakukan registrasi sudah diberitahukan bahwa hanya calon mahasiswa yang diterima melalui jalur SPMB/ UMPTN dan PMDK saja yang berhak mendapatkan pengembalian dana dengan dipotong biaya administrasi. Sedang tentang pengunduran jadwal registrasi, kami laksanakan berkaitan dengan pengunduran pengumuman hasil Ujian Nasional SMA. Untuk itu, kami telah melakukan komunikasi melalui surat hanya kepada masing-masing calon mahasiswa yang diterima tetapi belum melakukan registrasi. Drs.Ign.Dadut Setiadi, MM Ka PPRM Unika Soegijapranata *** Salut Perpusda Kabupaten Magelang Beberapa waktu lalu, saya dan suami ke perpustakaan Kabupaten Magelang. Di pintu saya disuguhi pemandangan menarik. Perpustakaan penuh pengunjung yang asyik membaca. Serius. Ada yang sesekali terlihat bercakap-cakap, tetapi tidak sampai mengganggu. Saya masuk bergabung ke ruagan perpustakaan yang dilengkapi meja kursi nyaman. Ada pula karpet lebar dengan meja untuk membaca. Ruangan bersih. Sirkulasi udara bagus, apalagi ad kipas angin. Uniknya lagi, ada tempat penitipan tas layaknya di swalayan. Petugasnya ramah dan kooperatif. Saya melihat lagi kepada para pengunjung. Kebanyakan mereka pelajar, anak-anak dan remaja. Mereka membaca majalah hiburan atau koran. Buku-buku serius yang kebanyakan sudah lapuk agaknya belum banyak disentuh. Saya perhatikan, koleksi koran, majalah dan tabloid memang lumayan. Mulai untuk anak-anak, remaja, juga dewasa. Berbahasa Indonesia, juga bahasa Jawa. Tak heran jika dalam sehari sekitar 200 pengunjung (data dari buku tamu). Asyiknya lagi, pengunjung bisa memberikan masukan kepada perpustakaan (disediakan buku untuk itu), juga usulan mengenai buku-buku. Saya salut dengan pengelolaan perpustakaan ini. Meski koleksi buku belum banyak, namun terlihat dimaksimalkan untuk menumbuhkembangkan budaya cinta membaca. Pada tahap awal, media hiburan memang diperlukan sebagai penarik/ perangsang minat. Selanjutnya, saya yakin akan ada pergeseran. Jadi, saya usul kepada perpustakaan untuk menyediakan anggaran membeli majalah atau tabloid hiburan, juga bacaan ringan lain. Kepada Pemkab Magelang, mohon memberi perhatian lebih (khususnya kucuran dana) kepada perpustakaan untuk pengadaan buku-buku baru. Siti Jazimah Jagang Lor Rt 3/Rw 2 Salam, Magelang *** SIM/STNK Ditahan Tanggal 15 Agustus 2005 pukul 06.30 WIB, seseorang Polantas turun dari sedan warna silver di depan SD Negeri Pleburan 06, Jl Kusumawardani Semarang, berhenti di depan mobil anak saya yang lagi menurunkan anak sekolah. Bapak petugas minta surat-surat (SIM dan STNK) kemudian menyuruh anak saya datang di kantor Ditlantas Jl Pahlawan. Waktu itu tidak diberi surat tilang. Sehari kemudian anak tersebut ke Polda untuk menghadap Bpk Poltantas tadi, namun surat-surat katanya sudah di tangan petugas lain. Karena dia harus antarjemput anak sekolah, maka belum bisa mengurusnya. Pertanyaan saya, apa kesalahan anak saya dan mengapa tidak ditilang di tempat. Mengapa harus menahan SIM dan STNK dan dibawa ke kantor tanpa surat tilang. Untuk itu pengurusannya perlu waktu. Surat yang ditahan, SIM atas nama Issaptoro Agung Nugroho, Jl Dempo 8, RT 9/RW 4 Gajah Mungkur Semarang dan STNK Suzuki Carry F 1066 BC. Mohon bantuan Bpk Kapolda menyelesaikan masalah tersebut, ditilang misalnya atau mungkin karena terlanjur surat ditahan, bisa dijelaskan kesalahannya. Maryadi Bukit Kelapa Gading V Blok AM-13 Meteseh Tembalang, Semarang |