| Selasa, 06 September 2005 | WACANA |
Relativisme Cak NurOleh: Adi EkopriyonoSUATU pagi, beberapa tahun silam, sekian menit setelah subuh, saya menelepon Cak Nur - Dr Nurcholish Madjid - yang pada 29 Agustus 2005 meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Mengapa harus telepon pada pagi hari setelah subuh? Itu memang pesan seorang teman, karena pada jam-jam itulah Cak Nur punya waktu untuk diwawancarai wartawan. Pada jam-jam itu, biasanya Cak Nur berolahraga setelah menunaikan shalat subuh. "Assalamuí alaikum" saya membuka percakapan. "Walaikum salam" jawabnya. Ramah dan lembut. Kami pun kemudian berbincang-bincang tentang kondisi bangsa. Tentang carut-marutnya keadaan. Tentang konflik-konflik bernuansakan agama yang tak kunjung henti. Tentang korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), dan tentang masalah kemanusiaan. Dengan gayanya yang khas, Cak Nur bicara mengenai hati nurani yang telah bangkrut. Hati nurani yang telah tergadaikan oleh egoisme dan pandangan-pandangan sempit yang menganggap diri paling benar. Kebangkrutan hati nurani itulah, yang menurut dia, mempunyai andil besar dalam menyeret bangsa ini sampai pada kondisi yang memprihatinkan. Kebangkrutan hati nurani telah membuat orang merasa paling benar dan paling selamat, sehingga merasa berhak untuk menghakimi orang lain. Manusia telah mengabsolutkan pemahamannya atau pemahaman kelompoknya sendiri. Tanpa memberi ruang untuk manusia yang lain. Pengabsolutan itulah yang sesungguhnya melawan kodrat manusia sendiri, sebab di dunia ini tidak ada yang absolut. Karena, hanya Tuhanlah yang absolut. Maha Absolut. * * * Dengan gaya sebagai "guru bangsa", Cak Nur ketika itu berkata: "Kita harus memberi peluang bahwa kita mungkin berbuat keliru dan memberi kemungkinan bahwa orang lain bertindak benar." Itulah relativisme internal. Sebuah paham yang dikembangkan cendekiawan muslim ini untuk meredam berbagai konflik atau potensi konflik yang masih saja membayang-bayangi bangsa kita. Relativisme internal sebenarnya merupakan dasar dari penerapan pluralisme. Suatu paham yang akhir-akhir ini sering diperbincangkan banyak orang. Itulah sebabnya Cak Nur sering dijuluki sebagai "Sang Pluralis." Paham yang mengajarkan kepada orang untuk mampu memahami pemahaman orang lain dengan dasar pemahaman orang lain tersebut. Sebelum bisa melakukan hal itu, tentu seseorang harus bisa menerapkan relativisme internal lebih dulu. Membuka kesempatan bahwa kita bukanlah pihak yang selalu benar dan orang lain selalu keliru. Hanya dengan relativisme internal itulah, wajah keberagamaan bisa teduh dan damai. Dalam bahasa Cak Nur, beragama secara hanif. Beragama yang membawa keteduhan dan kedamaian bagi kita sendiri dan bagi pemeluk agama lain. Bukan kerisauan dan permusuhan. Pluralisme atas dasar relativisme internal merupakan langkah lebih maju dari sekadar inklusivisme yang memahami pemahaman orang lain atas dasar pemahaman sendiri. Jauh lebih maju dari eksklusivisme yang tidak bisa memahami pemahaman orang lain dan beranggapan bahwa pemahamannya sendirilah yang paling benar. * * * Saya membayangkan betapa Indonesia ini akan tenteram dan damai seandainya relativisme internal seperti yang selalu diajarkan Cak Nur itu diamalkan oleh banyak orang. Tidak akan ada lagi orang atau kelompok yang merasa paling benar sendiri, paling selamat sendiri. Relativisme internal mengajak kita untuk selalu mawas diri, satu hal yang nampaknya sudah menjadi barang langka di negeri ini. Mengajak kita untuk sadar bahwa kita hidup dalam bahtera yang sama bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahtera yang berisi dua ratus juta lebih manusia, yang berasal dari berbagai suku, penganut agama, ras, dan golongan. Kemajemukan itu sudah demikian adanya, tidak lagi dapat dimungkiri. Kemajemukan itulah, idealnya, bhinneka tunggal ika. Tetapi, apakah kita sudah benar-benar tunggal ika? Atau baru sekadar bhinneka? Mungkin kita sudah merasa sebagai bangsa yang majemuk, namun sudahkah kita sungguh-sungguh bersatu-padu dalam kemajemukan itu? Banyak contoh yang membuktikan bahwa kita baru mencapai kebhinnekaan, tetapi belum ke-tunggal ika-an. Kita baru mencapai praktik keberagaman dalam keberagamaan, tapi belum keberagamaan dalam keberagaman. Kita sadar bahwa ada beragam agama beserta penganut-penganutnya, namun kurang paham bahwa agama itu sebaiknya selalu diposisikan dalam konteks kemajemukan. Dalam bahtera yang sama dan satu: NKRI. * * * Beragama yang hanif, seperti kata Cak Nur, tentu tidak menimbulkan konflik dan perpecahan dalam bahtera kita bersama, melainkan justru mewujudkan kemaslahatan bagi semua orang. Rahmatan il alamin. Relativisme internal adalah syarat untuk mencapai semua itu. Kita bukanlah Tuhan yang Maha Absolut, maka kita tidak berhak mengabsolutkan diri kita sendiri. Kita semua relatif, tidak layak untuk mengklaim paling benar dan paling selamat. Sayang, Cak Nur sudah pergi untuk selama-lamanya. Saya khawatir, kepergian Cak Nur akan berarti berakhirnya semangat relativisme internal dan makin merajalelanya absolutisme massal. Saya membayangkan, nun jauh di sana Cak Nur sedang memprihatinkan kondisi bangsa ini yang belum juga lepas dari konflik-konflik bernuansakan SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Saya membayangkan, Cak Nur sedang berdialog dengan Romo Mangun dan Ibu Gedong. Dua tokoh agama yang semasa hidupnya mengampanyekan keberagamaan yang teduh dan damai, sama seperti Cak Nur.(11) - Adi Ekopriyono, wartawan Suara Merdeka - |