| Selasa, 06 September 2005 | WACANA |
tajuk rencanaAmerika dan Amukan Katrina-- Kawasan belahan bumi bagian utara, mulai dari Asia hingga Amerika Utara, dikenal sebagai wilayah rawan topan. China selatan, Korea, Jepang, Filipina, dan AS setiap tahun beberapa kali diamuk topan yang punya nama-nama wanita. Karena sudah menjadi hal rutin, penduduk negara-negara tersebut biasanya telah menyiapkan diri atau disiapkan untuk menghadapi. Namun, amukan Katrina di beberapa negara bagian AS, khususnya Louisiana, tetap saja mendatangkan bencana kemanusiaan yang mengerikan. Paling parah di Kota New Orleans. Belum jelas berapa jumlah korban. Ada yang memperkirakan mencapai 10.000 jiwa. Ironisnya, mereka kebanyakan warga kulit hitam yang -- karena miskin -- tidak punya sarana untuk menyelamatkan diri. -- Muncullah tudingan rasialisme. Pemerintahan (Republik) Presiden George W Bush dianggap terlambat memberikan bantuan dan kurang tanggap, karena pada serangan topan kali ini yang menjadi korban adalah warga kulit hitam. Bush dituding tidak mampu melindungi warga New Orleans dari ancaman bahaya saat Katrina menyerang, juga dalam penanggulangan situasi pasca-topan. Ketiadaan pasukan keamanan yang memadai, mendorong orang-orang tidak bertanggung jawab menjarahi toko-toko atau rumah yang ditinggal mengungsi. Rupanya, stok militer di dalam negeri sendiri sekarang sedang kosong, karena banyak serdadu negeri adikuasa itu yang masih ditugaskan di wilayah-wilayah konflik di luar negeri. Sebut saja di Irak, Afghanistan, Jepang, dan Korsel. -- Lousiana, Alabama, dan Mississippi dulunya dikenal sebagai wilayah-wilayah yang warga kulit putihnya tidak menyukai tindakan Washington membebaskan warga kulit hitam dari perbudakan. Dan tidak bisa dipungkiri, masih banyak warga kulit hitam yang hidup dalam kemiskinan. Tetapi, kita tidak yakin isu rasialisme merupakan akar dari keterlambatan datangnya bantuan untuk para korban amukan Katrina. Yang lebih masuk akal, pemerintah dan rakyat Amerika tampaknya abai terhadap kekuatan alam, karena mereka merasa punya segalanya untuk melakukan perlawanan: peralatan canggih untuk memprediksi cuaca, bungker-bungker perlindungan, uang berlimpah, dan militer dengan perlengkapan paling mutakhir di dunia. Intinya, mereka lengah. -- Perasaan superior atau paling hebat biasanya membuat orang lupa diri dan lengah. Hantaman Katrina tercatat sebagai musibah besar yang kesekian kalinya bagi bangsa Amerika. Baru saja empat tahun lalu dunia dibuat tercengang oleh aksi kamikaze ke Pentagon (Departemen Pertahanan AS) dan gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York. Amerika yang mengklaim diri paling jago dalam menjaga keamanan wilayahnya, ternyata dapat ditembus dengan mudah oleh para teroris. Ke mana itu radar-radar canggih, pesawat penyergap andal, dan dinas intelijen yang katanya paling piawai di muka bumi? Banyak orang menganggap, serangan kamikaze 11/9 2001 itu merupakan harga mahal yang harus dibayar akibat kelengahan dinas-dinas keamanan AS. -- Bagaimanapun, bangsa beradab di mana pun sudah selayaknya ikut prihatin dan berbelasungkawa atas musibah yang menimpa rakyat Amerika, terutama warga New Orleans. Orang boleh saja membenci sikap mau menang sendiri Amerika belakangan ini. Orang juga boleh saja mengutuk invasi militer negara itu ke Irak, atau mengecam ancaman Washington terhadap Iran, Suriah, dan Korut. Namun pastilah tidak manusiawi ''menyukuri'' musibah yang dialami rakyat Amerika. Bangsa Indonesia, khususnya, tidak boleh melupakan jasa militer AS ketika tsunami menerjang Nanggroe Aceh Darussalam. Sekecil apa pun bantuan yang bisa kita berikan, pasti akan ada gunanya. Paling tidak, untuk menunjukkan bahwa kita bangsa beradab yang tahu membalas budi. -- Sebaliknya, bagi Washington, sekaranglah saatnya Bush lebih memusatkan perhatian pada masalah dalam negeri daripada terus merecoki negara lain. Bush lebih banyak menghabiskan energi untuk memainkan kebijakan luar negerinya. Ketika musuh seimbang (Uni Soviet) sudah tidak ada, apa lagikah yang ditakutkan oleh negara adidaya itu? Desakan agar pasukan AS ditarik dari Irak semakin kuat, menyusul serangan Katrina. Kenyataan bahwa ratusan penerbang yang ditugaskan di luar negeri -- khususnya Afghanistan -- ditarik pulang untuk membantu misi kemanusiaan di Louisiana, menunjukkan kelakgkaan tenaga penerbang di dalam negeri. Mereka dipaksa mengemban tugas yang tidak punya kaitan langsung dengan kepentingan bangsa Amerika. |