logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 06 September 2005 SEMARANG
Line

Sudah Biasa Antre untuk Dapatkan Minyak Tanah

''NGGOLEK minyak tanah wae kok kudu antri ndisik, piye tho iki...?'' Pertanyaan dengan nada mengumpat ini terlontar di tengah kerumunan antrean di pangkalan minyak tanah Jalan Petek Dadapsari, Semarang Utara.

Mereka berjubel mengelilingi drum berisi minyak tanah dan berebut ingin dilayani lebih dahulu. Tak hanya ibu-ibu rumah tangga, bapak-bapak dan anak-anak pun ikut antre membawa jerigen, berharap mendapatkan minyak tanah.

Pemandangan ini sudah bukan menjadi hal aneh lagi bagi warga sekitar pangkalan. Pasalnya, mereka biasa melihat hal serupa saat truk tangki Pertamina datang membawa pasokan minyak tanah. Lantas, warga pun segera mengerubung pangkalan.

Menurut H Margono, pemilik pangkalan minyak tanah, kelangkaan ini telah berlangsung sejak awal tahun ini. Namun, usaha Pertamina atau pemerintah belum berhasil mengatasi kesulitan ini hingga sekarang. ''Orang berebut membeli minyak tanah sudah biasa. Saya pun ikut pusing bila harus melayani pembeli yang berebut,'' katanya saat ditemui SM Senin (5/9).

Margono memaparkan, setiap hari ia mendapatkan kiriman sebanyak 2.200 liter atau setara dengan kapasitas 11 drum. Jumlah sebanyak itu bisa langsung habis dalam beberapa jam saja. Dia terpaksa melakukan pembatasan penjualan kepada konsumen, seperti pembeli dari kalangan rumah tangga hanya boleh mendapatkan jatah 2 liter dengan harga Rp 950/ liter. ''Sedangkan pedagang minyak tanah eceran maksimal 200 liter dengan harga Rp 900/ liter,'' terangnya.

Konsumen pangkalan tersebut tidak hanya dari warga sekitar. Namun, juga warga kelurahan lain yang datang dengan mengendarai sepeda kayuh ataupun sepeda motor. Mereka bergerombol di depan pangkalan mulai pukul 08.00 WIB. Memang tak semua orang yang antre mendapatkan minyak tanah, karena seringkali stoknya habis sebelum semua mendapatkan jatah.

Tidak Memasak

Pemandangan serupa juga terlihat di wilayah Sampangan Gajahmungkur. Warga menyerbu beberapa pangkalan minyak tanah dan terlihat antre sedari pagi. Bahkan, beberapa di antara mereka, sudah menitipkan jerigen tiga hari yang lalu. Seperti yang terlihat di pangkalan minyak milik Nur Handayani, Jalan Menoreh Raya 4. Warga yang antre sejak pagi itu berkerumun dan berebut untuk mendapatkan minyak. Salah satu warga, Suminah, mengaku telah menitipkan jerigen sejak Jumat (2/9) lalu.

Humas Pertamina Unit Pemasaran IV, Happy Wulansari menjelaskan, pihaknya tidak pernah melakukan pengurangan distribusi ke konsumen. Menurutnya, suplainya sudah disesuaikan dengan volume kontrak harian yang ada.

Selama ini Pertamina menetapkan kuota minyak tanah tahun 2005 sebanyak 1.337.400 kiloliter. Hingga Juli 2005, angka realisasi distribusi yang telah dicapai sebanyak 868.230 kiloliter. ''Bulan Juli lalu, angka distribusi mengalami kelebihan hingga 6,6%'' katanya.

Mengenai kelangkaan di masyarakat, itu sudah lepas dari pengawasan Pertamina. (Moh Anhar, Fahmi ZM-18h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA