logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 06 September 2005 KEDU & DIY
Line

Penyakit Bakterial Hewan Tak Bisa Diantibiotik

YOGYAKARTA - Wakil Dekan Bidang Administrasi, Keuangan, dan Sumber Daya Manusia Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yoyakarta Prof Dr drh Siti Isrina Oktavia Salasia mengemukakan, anggapan penyakit viral meningkat karena penyakit bakterial pada hewan telah dapat diatasi dengan berbagai antibiotik ternyata tidak semua benar.

Fakta di lapangan menunjukkan, wabah penyakit yang menyebabkan kematian ribuan babi dan ratusan monyet di Bali ternyata karena agen bakterial, yaitu Streptococcus zooepidemicus.

Kenyataan itu diungkap Prof Isrina ketika menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai guru besar pada Fakultas Kedokteran Hewan UGM dalam sidang majelis guru besar (MGB) dan para tamu undangan di Balai Senat UGM, Kamis (1/9).

Menurut pendapat pengajar pada Bagian Patologi Klinik dan S2/S3 Sain Veteriner Program Pascasarjana UGM itu, penyakit tersebut secara konsisten menimbulkan lesi meningitis sehingga disebut dengan Streptococcus meningitis.

Kasus tersebut yang mengakibatkan kematian ribuan babi di Bali yang pernah diduga akibat infeksi Streptococcus suis lantaran lesi yang ditimbulkan mirip dengan meningitis akibat infeksi Streptococcus suis.

Streptococcus zooepidemicus berdasarkan perkembangan penelitian terakhir berhubungan genetik dengan Streptococcus equi. Meskipun mempunyai kesamaan genetik, kedua spesies tersebut tidak sama sehingga disebut dengan Streptococcus equi subsp.

Dia mengungkapkan, walaupun berbagai antibiotik telah dikembangkan dalam rangka memerangi penyakit bakterial, ternyata berbagai penyakit bakterial masih selalu muncul, bahkan antara lain merupakan ice berg phenomena yang sulit untuk dikendalikan.

Bahkan, beberapa bulan lalu muncul pula kasus penyakit karena bakteri dari babi, penyakit tersebut sangat mencemaskan. Sebab, telah mengakibatkan kematian puluhan manusia di China yang setelah diidentifikasi penyebabnya ternyata Streptococcus suis.

Berbagai faktor yang mungkin menjadi penyebab timbulnya fenomena tersebut, antara lain adanya faktor lingkungan dan penggunaan antibiotik yang tidak tuntas.(P12-36j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA