logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 03 September 2005 PANTURA
Line

Produksi Telur Itik Menurun

SIANG itu meski peluh telah membasahi seluruh tubuhnya, Kodir (55), dengan tekun memunguti telur itik dari keranjang ke tempat telur. Begitu pula dengan istrinya, Wasih (48).

Mereka adalah seorang dari ratusan peternak itik di Kelurahan Limbangan Wetan, Kecamatan Brebes, yang selama ini dikenal sebagai sentra peternakan itik di Brebes.

Satu persatu telur dipilih sesuai ukurannya. Bau menyengat dan kondisi lingkungan kandang yang kotor tak dihiraukan. Tak banyak telur yang diperolehnya hari itu, Rabu (31/8), hanya sekitar tiga keranjang. "Saat ini produksi telur sedang turun, sehingga kami mengalami kesulitan," ujar Kodir. Menurutnya, turunnya produksi telur itik akibat para peternak mengurangi takaran pakan yang biasa diberikan. Selama ini pakan terdiri atas bekatul, ikan, dan loyang (nasi yang dikeringkan).

Namun, dalam dua bulan terakhir harga pakan mengalami kenaikan mencapai 80 persen. Hal itu terutama terjadi pada produk ikan. Semula, harga ikan hanya Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per basket (keranjang).

Namun, saat ini harga ikan mencapai Rp 40.000 per basket. Bahkan, dalam beberapa hari terakhir harga ikan mencapai Rp 45.000 per basket. Sementara itu, loyang mengalami kenaikan harga Rp 200, dari harga semula Rp 800 menjadi Rp 1.000 per kilogram. Satu-satunya pakan bebek yang tidak mengalami kenaikan adalah bekatul, yaitu Rp 700 per kilogram.

Dia mengatakan, kenaikan harga diperkirakan karena dampak dari banyaknya nelayan yang tidak melaut. Pasalnya, saat ini solar untuk bahan bakar kapal besar dan minyak tanah yang biasa digunakan untuk bahan bakar kapal sopek, sulit diperoleh. Bahkan, harga bahan bakar tersebut mengalami kenaikan. Akibatnya, ikan di pasaran berkurang, sehingga harganya pun mahal.

Dari 400 bebek yang dia pelihara, saat ini hanya menghasilkan 240 butir telur per hari. Padahal, sebelumnya mampu menghasilkan sekitar 300 butir telur per hari.

Usaha Lain

Satu butir dijual seharga Rp 500 hingga Rp 630, tergantung pada besar kecilnya ukuran. Karena itu, ia mengaku rugi. Bahkan, saat ini ia mencoba mencari alternatif usaha lain dengan beralih ke pembibitan itik.

Kondisi yang sama juga dialami peternak lain. Kosim (47), misalnya, selain pengurangan porsi pakan, turunnya produkifitas telur akibat cuaca yang kurang menguntungkan.

Saat ini pergantian musim berlangsung tidak sempurna. Meskipun sudah memasuki kemarau, namun sesekali hujan masih turun sehingga cuaca dingin dan sinar matahari kurang.

Menurut dia, harga pakan itik terus naik, sementara produksi telur itik hanya berkisar antara 60 hingga 70 persen dari jumlah yang seharusnya. Dari 670 itik yang dipeliharanya, setiap hari hanya menghasilkan sekitar 400 butir telur. Padahal, kebutuhan pakan untuk ternaknya tersebut cukup banyak. Setiap hari, dibutuhkan 30 kilogram bekatul, 50 kilogram loyang, dan 2,5 basket ikan.

Akibatnya, dengan kenaikan harga ikan keuntungan yang diperoleh semakin tipis, sementara tenaga yang dikeluarkan banyak.(Wawan Hudiyanto-19)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA