logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Agustus 2005 SALA
Line

Manajer dan Pembimbing Spiritual Ki Manteb

GENDING Pegatsih mengantar kepergian Hj Sri Suwarni, istri dalang kondang Ki Manteb Soedharsono, dari rumah duka ke Masjid Aulia dan seterusnya ke pemakaman Kampung Sekiteran, Doplang, Karanganyar. Pegatsih artinya pemutusan tali cinta semua anggota keluarga yang ditinggal pergi selamanya wanita kelahiran Doplang, 8 Mei 1958 tersebut. Dia meninggal bertepatan dengan wetonan ulang tahun perkawinan dan menjelang ulang tahun ke-58 Ki Manteb pada 31 Agustus ini.

Semua mengenang kebaikan ibu dua anak yang sudah mendampingi Ki Manteb sejak 1978 tersebut. "Semua warga Karanganyar sangat paham dengan kiprah Mbakyu Warni yang setiap minggu sekali menggelar dan melatih karawitan ibu-ibu," ungkap KRHT Sri Sadoyo, Wabup Karanganyar.

Tentu yang paling terasa kehilangan adalah Ki Manteb dan anak-anaknya. Baginya, perjalanan hidup 27 tahun bersama almarhumah adalah saat-saat manis yang luar biasa. "Saya menikah empat kali namun hanya kepada ibunya (almarhumah) ini saya benar-benar takluk, menyerahkan diri untuk diatur apa saja yang saya jalani. Sejak awal, dia sudah nanting saya, apakah dia yang mengatur rumah tangga atau saya. Dan, saya pilih menyerahkan semua anggota keluarga kepadanya," ujar dia.

Meningkat

Karena itu, peran Sri Suwarni tidak saja istri dan ibu bagi anak-anaknya namun juga manajer keluarga.

Meski sederhana, ternyata manajemen yang diterapkan sangat berguna. Bahkan, karena itulah akhirnya kehidupan Ki Manteb secara perlahan meningkat .

Misalnya seluruh penghasilannya mendalang harus diserahkan kepada istrinya itu. Kebutuhan sehari-hari Ki Manteb dan kru semua diatur. Misalnya kendaraan operasional yang digunakan harus menyewa kepada istrinya. Sound system, wayang, dan gamelan semua menyewa.

"Uangnya diambilkan dari honor mendalang. Jadi, begitu honor mendalang saya terima sebagian dimasukkan ke kotak besar untuk sewa wayang dan gamelan. Sebagian untuk sewa kendaraan, truk, kijang, kendaraan pribadi, sound system, semua ada kotaknya sendiri-sendiri. Sisanya, setelah diambil untuk honor kru, baru dimasukkan ke bank," papar dia.

Pada akhir tahun, kotak dibuka. Isinya dihitung lagi dan biasanya sudah terkumpul puluhan juta. Ternyata oleh almarhumah untuk memperbaiki kendaraan, menambah wayang dan gamelan, atau merenovasi sound system.

Peran lain yang sangat disadari Ki Manteb, istrinyalah yang sudah ikut menjadi lantaran terbuka hatinya untuk menjadi orang Islam yang baik.

Istrinya telah menjadi pembimbing spiritual yang menunjukkan jalan kebenaran kepadanya. (Joko Dwi Hastanto, Evi Kusnindya-16j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA