| Rabu, 31 Agustus 2005 | SALA |
Ny Sri Suwarni Dimakamkan di SekiteranKARANGANYAR - Ratusan pelayat, termasuk para seniman dari berbagai daerah ikut mengantarkan jenazah Hj Sri Suwarni, istri dalang kondang, Ki H Manteb Soedharsono, ke liang lahat di pemakaman umum Desa Sekiteran, Doplang, Karangpandan, 300 meter dari tempat tinggal Ki Manteb. Sebelumnya, jenazah almarhumah dishalatkan di masjid samping rumah yang dibangun oleh dalang kondang itu dan sehari-hari digunakan untuk shalat berjamaah warga. "Ini atas permintaan almarhumah Ibu sewaktu beliau menunggui saat pembangunan masjid ini. Katanya, kalau besok meninggal minta dishalatkan di masjid ini," kata Medhot Samiyono, putra tertua Ki Manteb dari istri sebelumnya. Para seniman yang hadir antara lain Ki H Anom Suroto, Ki Tristuti, Ki H Mansyur, pelawak Haji Kirun, Yati Pesek, Marwoto, juga Pengurus Pepadi Pusat Soedharko Prawiroyudho, dan sebagainya. Pejabat yang hadir antara lain Bupati Sragen Untung Wiyono, Wabup Karanganyar Sri Sadoyo, dan pejabat pemkab Karanganyar lainnya. Jenazah tiba di rumah duka sekitar pukul 10.30 dan disambut dengan isak tangis para keluarga, tetangga, dan juga seniman. "Kami sangat kehilangan, karena selama ini kegiatan desa selalu dikomando langsung oleh Mbakyu Warni. Beliau pula yang menggiatkan ibu-ibu PKK, bahkan sampai ke kabupaten," ujar Sri, salah seorang tetangganya. Kanker Almarhum diketahui menderita kanker kandungan sejak tahun lalu. Menjelang waktu untuk ikut mendampingi Ki Manteb ke Prancis, saat itu diketahui kanker almarhum sudah dalam stadium lanjut, sehingga harus dioperasi dan dikemoterapi. "Usai operasi, sebenarnya Ibu (almarhumah-red) harus istirahat. Tapi dasar dia memang pekerja keras, susah sekali disuruh istirahat. Ada saja yang dikerjakan, termasuk merias manten dan sebagainya," kata Ki Manteb. Tanggal 24 Juni lalu, tiba-tiba almarhumah jatuh pingsan, karena tensinya tinggi. Setelah dibawa ke RS Metropolitan Medical Center (MMC) Jakarta, berangsur-angsur tensinya turun. Namun, ternyata itu hanya efek dari kambuhnya kanker yang sudah menjalar ke seluruh organ tubuhnya. "Namun demikian, dia masih bisa melakukan kontak, meski tidak bisa bicara," tutur Ki Manteb. Misalnya jika Ki Manteb pentas, tembang kesenangannya "Langgam Kelingan" selalu dilantunkan almarhumah, maka lewat ponsel, tembang itu diperdengarkan di telinga almarhumah. "Dia bisa merespons, tangannya bergerak mengikuti irama, namun kondisinya terus drop," lanjut Ki Manteb. Ki Manteb sendiri seperti merasa ada firasat jika akan ditinggal. Saat pentas di Gedung DPR, gapit wayang Bima tiba-tiba putus saat dipakai. Padahal, selama ini wayang Bima yang digapiti sendiri, tidak pernah ada masalah. Usai pentas, dia langsung ke rumah sakit, dan ternyata kondisi istrinya kritis. "Akhirnya, saya dan anak-anak hanya pasrah. Kalau akan pergi mendahului kami, seluruh keluarga ikhlas." (an,G18-16h) |