logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Agustus 2005 SALA
Line

Batik Sukowati, Ikon Baru Sragen

ALUN-ALUN LOR - Sragen, satu di antara wilayah eks Karesidenan Surakarta yang masih dekat dengan kultur Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran, memiliki sebuah ikon yang mulai terbangun dan "meracuni" pasar. "Sragen memang lebih dikenal sebagai Kota Melon, namun beberapa tahun terakhir muncul ikon baru, batik sukowati. Padahal letaknya tidak jauh dari Solo yang tentu memiliki reputasi dan kekhasan di bidang motif sandang itu," tutur Daryono, Manajer Operasional PT Citra Pamerindo, pengelola Solo Trade Fair (STF) 2005, kemarin.

Di arena STF yang berlangsung 26 Agustus-18 September itu batik sukowati menempati satu stan dengan beberapa produk unggulan kabupaten itu. Di antaranya kripik tempe, emping, dan tentu saja ikon baru Kabupaten Sragen lainnya, yaitu beras organik nonpestisida dan melon.

Diana, penjaga stan mengatakan, sekalipun beberapa produk unggulan itu menempati satu stan di STF, pemasaran tetap bisa dilayani secara proporsional, baik saat pameran maupun pascapameran.

Artinya, batik sukowati, beras nonpestisida, apalagi melon, bisa dipesan atau dibeli secara besar-besaran langsung ke beberapa pengusaha di Sragen atau melalui stan.

"Kami siap melayani pesanan atau pembelian berapa pun jumlahnya. Apalagi, kini jumlah perajin batik sukowati di Sragen mencapai ratusan, melon sudah tiba saatnya panen, dan beras tanpa pestisida tersedia banyak," ungkap Diana. (won-27m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA