| Rabu, 31 Agustus 2005 | SALA |
Biro Iklan Keluhkan Pemutusan Aliran ListrikKARANGASEM - Biro-biro iklan di Solo mengeluhkan pemutusan aliran listrik ke papan reklame yang mereka pasang di pinggir jalan. Akibatnya, mereka dikomplain mitra kerja karena dinilai menyalahi kontrak. Persoalan itu mengemuka dalam pertemuan biro iklan dengan PLN Area Pelayanan Jaringan (APJ) Wilayah Surakarta yang difasilitasi Komisi III DPRD, kemarin. Irfan Sutikno dari Asosiasi Perusahaan Periklanan Solo (Aspro) misalnya. Dia kaget karena lampu beberapa papan reklame yang dia pasang padam saat malam hari. "Setelah dicek, ternyata aliran listrik padam. Okelah ada persoalan. Namun, PLN kan bisa memberitahu biro iklan sebagai penanggung jawab," ujarnya. Menurut dia, masalah itu muncul karena antara biro iklan dan PLN kurang komunikasi. Dia yakin kalau ada komunikasi yang baik, tidak akan muncul permasalahan. "Bagaimanapun biro iklan ikut memberi kontribusi pendapatan kepada PLN. Jadi kami minta jika ada persoalan, dikomunikasikan terlebih dahulu. Jangan bertindak sepihak," tegasnya. Mematuhi Ir Rasyid Naja dari PLN APJ Surakarta menyambut positif masukan tersebut. Dia berjanji akan memberitahu penanggung jawab atau pemasang papan reklame bila ada pengecekan aliran listrik. Namun ia meminta biro iklan mematuhi kesepakatan pemasangan jaringan. Dia menjelaskan, 24 papan iklan melakukan pelanggaran dan sebagian besar karena menaikkan daya melebihi ketentuan. Misalnya, sesuai dengan meter hanya berkekuatan 1.600 watt, namun dinaikkan jadi 2.200 watt. Kenaikan daya itu dimanfaatkan untuk kebutuhan yang bersifat mendesak, misalnya perbaikan kontruksi dengan cara pengelasan. "Siapa yang mengubah daya, kami tidak tahu. Namun yang jelas, kami menemukan beberapa pelanggaran di lapangan," ujarnya. Ketua Komisi III DPRD Bimo Putranto menilai pertemuan itu bermanfaat bagi kedua belah pihak. Dia berharap pertemuan bisa mengurai perbedaan pendapat yang muncul. Biro iklan, kata dia, ikut andil terhadap peningkatan pendapatan daerah. Meski demikian, PLN sebagai penyedia jaringan listrik jangan sampai dirugikan. "Saya melihat persoalan utama terletak pada komunikasi. Dalam pertemuan, terlihat semangat dari kedua pihak untuk meningkatkan komunikasi dalam rangka mengatasi berbagai masalah," tuturnya. (G10-27m) |