| Rabu, 31 Agustus 2005 | SALA |
231 Balita di Solo Bergizi Buruk
BALAI KOTA - Balita penderita gizi buruk di Solo hingga Juli lalu mencapai 231 anak.Jumlah itu meningkat tajam dibandingkan dengan hasil pendataan triwulan pertama yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta sebelumnya, yakni sebanyak 140 anak. Dari jumlah yang semuanya memiliki berat badan di bawah garis merah (BMG), yang terdapat pada Kartu Menuju Sehat-Red tersebut, menurut Kepala DKK dokter Purnomo Dwi Putro, 155 di antaranya berasal dari keluarga tidak mampu, sisanya berasal dari keluarga cukup mampu. Karena itu, ke-155 anak tersebut berhak mendapatkan bantuan APBD 2005 berupa program makanan tambahan (PMT) senilai Rp 4.000/hari selama tiga bulan berturut-turut, tetapi DKK berupaya mencarikan bantuan ke Pemerintah Provinsi Jateng. "Gizi buruk tidak hanya diderita keluarga prasejahtera. Kalangan yang mampu pun bisa mengalaminya karena keminiman perhatian ibu terhadap anaknya. Mungkin karena kesibukan ibu berkarir, sehingga anaknya tidak terperhatikan, termasuk gizinya," kata Kepala DKK didampingi Kasubdin Kesehatan Keluarga Koestanto PH di ruang kerjanya, kemarin. Meski persentasenya masih dikategorikan kecil, yakni 0,62% dari 37.167 anak usia balita di Solo, pihaknya berharap jumlah tersebut bisa ditekan. "Kami tidak bisa menyebut jumlah ini meningkat dari perhitungan sebelumnya, sebab penderita gizi buruk itu silih berganti. Jadi, ada beberapa yang sudah bisa terentaskan, di sisi lain ada pula tambahan balita baru," imbuh Koestanto. Waspadai Purnomo menegaskan, masyarakat perlu mewaspadai gizi buruk pada balita. Sebab, bila tidak segera ditangani, maka akan berdampak buruk pada masa dewasanya. "Gizi buruk mengakibatkan fungsi pankreas tidak bekerja optimal. Bila hal itu terjadi, maka hormon insulin yang dibutuhkan untuk metabolisme tubuh terhambat. Akibatnya, saat beranjak dewasa rentan terkena DM (diabetes mellitus-Red)," tutur Purnomo. Agar PMT tepat sasaran, lanjut Purnomo, DKK menunjuk beberapa kader untuk membantu memasak makanan bagi balita dengan gizi buruk tersebut. Sebab, bila diserahkan dalam bentuk uang, dikhawatirkan bakal dialihkan orang tua balita bersangkutan untuk kebutuhan yang lain. "Kami khawatir bila bantuan itu diwujudkan dalam bentuk uang, akan dipergunakan untuk menutupi kebutuhan yang lain, padahal itu hanya diperuntukkan bagi balita. Karena itu, kami menunjuk kader untuk membuatkan masakan sehat yang siap dimakan setiap hari," imbuh Purnomo. Bantuan diberikan secara bertahap setiap bulan mulai kemarin, selanjutnya diberikan tahap berikutnya hingga genap 90 hari. Selain bantuan berupa PMT, DKK akan memberikan penyuluhan kepada warga, misalnya melalui kegiatan rutin PKK di daerah masing-masing. Sementara itu, dari hasil pendataan DKK pada bulan Juli, Kecamatan Pasar Kliwon menduduki peringkat pertama dengan jumlah balita penderita gizi buruk 75 anak. Disusul Kecamatan Jebres 58 anak, Banjarsari 48 anak, Laweyan 31 anak, dan Serengan 19 anak. (G13-27h) |