| Rabu, 31 Agustus 2005 | WACANA |
Surat PembacaImbalan SukarelaJlika kita lewat jalan antara Temanggung - Sukorejo akan menjumpai beberapa jembatan atau gorong-gorong rusak yang sedang diperbaiki. Kendaraan yang melewati jembatan atau gorong-gorong rusak tersebut pasti antre dan agar lancar, maka ada sejumlah 'petugas' yang mengatur kendaraan secara bergantian. Mereka anak-anak muda yang mengatur antrean dengan ditindaklanjuti meminta sumbangan sukarela kepada pengemudi. Yang namanya sukarela tentu memberi boleh tidak pun tak mengapa. Na-mun sering terjadi jika ada mobil bagus tapi pengemudinya tidak memberi uang. maka mereka akan kesal dan kadang diselingi makian. Mereka tidak bisa disalahkan atau pun dibenarkan. karena terjadi tawar menawar. Ingin mendapatkan apa pun termasuk kelancaran, pasti dibutuhkan imbalan. Tapi jika imbalan sifatnya suka-rela maka tindakan petugas yang memaki pengemudi yang tidak rnemberi sumbangan tidaklah pantas dilakukan. Para pengemudi boleh jadi berniat memberi tapi karena tidak mempersiapkan uang recehan. maka tidak jadi memberi. Atau mereka beranggapan berjalan di jalan umum tidak wajib memberi imbalan. Jadi mereka bisa mengabaikan. Solusinya, alangkah baiknya jika para pengendara bermotor selalu sedia uang recehan. Apalah arti uang recehan jika mampu mengembangkan senyum para petugas sukarela dan bisa memupus sebuah makian. Sebab suka tidak suka posisi para pengendara yang tidak memberi imbalan berada pada pihak yang berhak dimaki. Adegan ini telah meluruh dan bersenyawa sama dalam segala lini kehidupan bermasyarakat. Panjang Mursepiati U Banyuurip Tng 68 Rt 3/Rw 2, Temanggung *** Maraknya Curanmor Kapolda saya harapkan menginstuksikan aparatnya khususnya untuk Polsek Gunungpati Semarang sehubungan dengan maraknya pencurian kendaraan bermotor yang menghawatirkan warga Sekaran dan Banaran Gunungpati, Khususnya para mahasiswa Unnes yang kehilangan motor dan selama ini tidak ada tindak lanjut yang efektif untuk menangani kasus tersebut. Meski keamanan sudah dilaksanakan warga Sekaran dan Banaran, tetapi kasus curanmor tersebut tetap sering terjadi. Bagaimana kinerja polisi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Saya sebagai mahasiswa me-rasa tidak aman dalam mengikuti kuliah akibat adanya kasus tersebut. Saya harapkan tindak lanjut dari Bpk polisi untuk menanggulanginya. Bagus Dorojatun Mahasiswa Unnes Semarang *** Tunjangan Guru Sejak Maret 2005 guru CPNS Kabupaten Magelang telah menjalankan tugas mengajar, namun sampai kini belum menerima tunjangan fungsional/mengajar. Beberapa rekan sudah menanyakan namun sampai penerimaan gaji bulan Agustus tunjangan tersebut belum diberikan. Juga belum ada penjelasan yang melegakan tentang 'nasib' tunjangan tersebut. Sementara di daerah lainnya guru yang menjalankan tugas sejak Maret 2005 telah mendapatkan tunjangan tersebut. Besarnya gaji guru 80% gaji pokok adari golongan dan masa bakti yang sudah dilalui, dikurangi dengan berbagai potongan. Untuk CPNS baru golongan IIIa yang masa kerjanya kurang dari satu tahun, sendirian, gaji yang dibawa pulang tidak lebih dari Rp 675.500. Setelah penggajian melalui sekolah lokasi guru tersebut ditempatkan, besarnya potongan bertambah sehingga pernah gaji yang dibawa pulang kurang dari Rp 625.000. Di daerah lain CPNS guru dengan kriteria yang sama membawa pulang gaji Rp 871.000. Mohon pihak yang berkompeten memberikan penjelasan tentang 'nasib' tunjangan tersebut. Agus Supriyo Lumbungrejo Rt 6/Rw 10 Tempel, Sleman *** Perapihan Pohon Pohon penghijauan di depan rumah saya miring ke arah rumah. Hal ini disebabkan pemangkasan selalu hanya dila-kukan pada cabang di bawah kawat lis-trik/PLN. Akibatnya pohon jadi berat sebelah dan makin lama makin miring mendekati atap rumah. Dengar-dengar memotong pohon penghijauan melanggar peraturan. Jadinya takut memotong dahannya. Tidak dipotong, takut suatu hari nanti roboh menimpa rumah dan kalau sudah demikian siapa yang harus bertanggung-jawab. Ternyata, di berbagai ruas jalan juga timbul kasus sama, miring ke arah rumah atau ke arah jalan misal di Jl Seroja atau di Jl Dokter Cipto. Jadi kalau roboh nanti akan menjatuhi mobil/motor yang sedang lewat atau parkir di bawahnya. Sebaiknya perapihan pohon dilakukan di musim kering ini. Jangan menunggu musim hujan datang. Pasti tidak keburu, lalu menyalahkan bencana alam. Padahal cara memangkas petugaslah yang membuat pohon jadi tidak seimbang bebannya lalu tumbuh miring. Harapan saya, semoga dalam program 100 hari Wali Kota sudah tercantum program perapihan pohon penghijauan di pinggir jalan. Walau sederhana, tapi akan membuat tenteram hati banyak warga kota, pengendara, pemarkir dan lainnya, walau angin pancaroba bertiup kencang di awal musim hujan nanti. H Sutedjo Jl MT Haryono 792, Semarang *** Wadah Peniru Bunyi Di beberapa negara Eropa, USA dan Jepang dan mungkin negara maju lainnya, profesi sebagai ''peniru bunyi'' (voice imitator) telah mendapat tempat tersendiri di dunia hiburan seperti halnya profesi penyanyi, pemusik, penari, pesulap, pelawak dan lainnya. Sebenarnya untuk Indonesia kiprah sebagai peniru bunyi telah dirintis dan dipopulerkan setelah diadakannya lomba Tiru Bunyi tingkat nasional oleh PT Jamu Jago yang dipimpin Pak Jaya Suprana bersama Rotary Club Cabang Semarang tahun 1988 di Semarang. Namun gaung keeksistensian peniru bunyi sebagai salah satu mata acara hiburan ternyata bertahun-tahun kemudian mulai redup kembali. Demikian pula kiprah maestro Tiru Bunyi Indonesia Sdr. Chairuddin dari Banyuwangi sudah tidak terdengar lagi. Untuk itu, saya Sukamto ITN (57) salah satu finalis lomba tiru bunyi tingkat nasional di Semarang tersebut mengajak kembali teman-teman atau siapa saja yang punya kemahiran sebagai peniru bunyi untuk bangkit mengaktualisasikan profesi ini sehingga sejajar dengan profesi lainnya. Mari bergabungi dalam wadah apa pun namanya dan silakan hubungi saya sebagai upaya dukungan dalam rangka merintis terbentuknya wadah organisasi/Paguyuban Peniru Bunyi Indonesia (Indonesian Voice Imitator Association). Ir Sukamto ITN Jl Kamelia 6 Jatibening Pondok Gede, Bekasi *** Lagi, Hp Sony Ericson Awalnya ketika pakai Hp Sony Ericson T610 saya merasa senang. Tapi rasa senang jadi hilang setelah rusak pada keypad-nya yang hang. Karena masih bergaransi saya serviskan ke Sony Ericson Jl Pandanaran 62 Semarang. Petugas counter mengatakan 4 hari lagi bisa diambil, tapi setelah waktu terlewati ternyata belum jadi. Kerusakan katanya pada hardware-nya dan harus dikirim ke Jakarta. Dijanjikan 2 minggu lagi selesai. Setelah waktunya lewat ternyata belum jadi dan dijanjikan 2 minggu lagi dan 2 minggu kedua sudah lewat pula, namun Hp belum selesai. Saya bertanya apa memang cara kerja Sony Ericson Jakarta dan Semarang mengulur waktu hingga 3 bulan agar tidak bertanggung jawab atas Hp tersebut. Apa tidak mampu memperbaiki. Para pemakai agar hati-hati menyerviskan Hp-nya dan siap dikecewakan. Nurmiyanto Jl Pandean Lamper IV, Semarang |