| Rabu, 31 Agustus 2005 | NASIONAL |
PIN, Upaya Memutus Rantai VirusPEMERINTAH melalui Departemen Kesehatan kembali mencanangkan dan melaksanakan program imunisasi massal melalui Pekan Imunisasi Nasional (PIN) 2005. Tujuannya adalah memutus mata rantai penularan virus polio dan meningkatkan kekebalan anak balita di seluruh wilayah Indonesia terhadap virus itu. Sebelumnya, PIN pernah dilaksanakan pada tahun 1995 (September dan Oktober), 1996, 1997, dan dilanjutkan dengan SubPIN pada tahun 2000 dan 2001 serta PIN tahun 2002. Juga melaksanakan BIAS Polio (pemberian vaksin polio kepada anak sekolah) pada tahun 1999. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya untuk menghilangkan virus polio yang mengakibatkan kelumpuhan permanen pada anak balita. Sejak tahun 1995, di Indonesia tidak ditemukan lagi kasus polio. Namun pada tahun 2005 ini, virus polio liar masuk kembali ke Indonesia. Secara tiba-tiba virus polio melumpuhlayukan sejumlah anak di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kasus polio yang terjadi di Sukabumi tersebut, ternyata diikuti juga dengan kasus serupa yang terjadi beberapa daerah lainnya, seperti Salatiga (Jawa Tengah), Jawa Timur, dan beberapa daerah lainnya di Indonesia. Selama tahun 2005 di seluruh wilayah Indonesia ditemukan 255 anak yang menderita polio. Provinsi Banten menduduki urutan pertama dalam jumlah balita penderita lumpuh karena virus ini, yakni mencapai 151 anak dari 225 anak se-Indonesia. Berdasarkan analisis, virus tersebut diduga sampai ke Indonesia melalui Sudan. Virus ini serupa dengan yang berhasil diisolasi di Arab Saudi dan Yaman. Belum dapat dipastikan bagaimana virus yang jauh dari Afrika itu bisa sampai ke suatu desa di Sukabumi. Salah satu perkiraannya adalah virus masuk ke Sukabumi dari Jakarta melalui perjalanan darat. Perkiraan lain adalah melalui penduduk yang menjadi jamaah haji dan bisa juga dari tenaga kerja asal Indonesia di Timur Tengah. Saat ini di seluruh dunia masih terdapat enam negara yang endemis polio, yaitu India, Sudan, Nigeria, Afganistan, Mesir, dan Pakistan. Meski demikian, tahun 2004 dan awal tahun 2005 beberapa negara yang sudah bebas polio, seperti Chad dan Yaman, terserang kembali oleh virus polio liar dari negara endemis. Dengan ditemukannya kembali kasus polio, merupakan ancaman baru bagi Indonesia. Sebab wabah ini menyerang anak-anak balita dan dapat juga menjangkiti anak usia remaja. Atas kejadian ini, Indonesia masuk sebagai negara ke-16 di dunia yang terserang virus polio. Pelaksanaan PIN Pekan Imunisasi Nasional (PIN) adalah pekan dimana setiap balita termasuk bayi baru lahir di Indonesia diimunisasi dengan vaksin polio, tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya. Pemberian imunisasi dilakukan dua kali, masing-masing dua tetes dengan selang waktu satu bulan. Tim atau petugas imunisasi akan memberi tanda pada kelingking jari kiri anak-anak yang telah diimunisasi. Pemberian imunisasi polio secara serentak terhadap semua sasaran akan mempercepat pemutusan siklus kehidupan virus polio liar. Pemberian imunisasi dua kali dengan interval satu bulan akan memberi kekebalan rongga usus selama 100 hari. Dengan pemberian serentak kepada seluruh balita di Indonesia terjadi penekanan serentak terhadap perkembangbiakan virus polio liar apabila masuk ke dalam usus. Di alam bebas, virus akan bertahan hanya selama 48 jam. Karena itu, pemberian serentak kepada seluruh balita merupakan kunci keberhasilan memutuskan rantai penularan. Pemberian vaksin polio dilakukan di Pos PIN, yakni bisa di Posyandu, puskesmas, puskesmas pembantu (Pustu), rumah sakit dan tempat pelayanan kesehatan lainnya termasuk pelayanan kesehatan swasta. Tempat-tempat umum lainnya yang strategis letaknya dimanfaatkan sebagai pos PIN seperti pelabuhan udara dan laut, terminal, stasiun, pasar, taman kanak-kanak, kelompok bermain, SLB, panti asuhan, tempat penitipan anak, YPAC dan lain-lain. Ada empat strategi yang dianggap manjur untuk memberantas polio. Pertama, memberi imunisasi polio kepada semua anak sebanyak empat kali sebelum usia satu tahun sebagai bagian imunisasi rutin untuk mencegah tujuh penyakit utama anak (tuberkulosis/meningitis, polio, dipteri, pertusis, tetanus, campak, hepatitis B). Kedua, lewat PIN semua anak di bawah usia lima tahun diberi dua dosis vaksin polio dengan tenggang waktu satu bulan. Ketiga, sistem pengamatan dibuat sedemikian rupa sehingga tak ada kasus polio yang tak teridentifikasi. Keempat, mengirim tim untuk melakukan imunisasi dari rumah ke rumah di wilayah virus polio dicurigai masih beredar. Pada tahun 2005 ini dilaksanakan kembali PIN yaitu pada tanggal 30 Agustus untuk putaran pertama dan 27 September untuk putaran kedua. (Cessnasri/Pusdok SM-46v) |