| Rabu, 31 Agustus 2005 | NASIONAL |
Nasib PTS di Jateng-DIY (3-Habis)SPP dan Dana Pengembangan Dicicil
MUSIM paceklik atau masa-masa sulit membuat berbagai kalangan harus mengencangkan ikat pinggang. Termasuk di antaranya kalangan perguruan tinggi swasta (PTS). Salah satunya, Universitas Pancasakti (UPS) Tegal. Bahkan, kampus PTS satu-satunya di Kota Bahari itu sejak dua tahun terakhir tidak menaikkan SPP dan dana pengembangan kampus. Selain itu, secara internal juga dilakukan efisiensi dalam penggunaan dana operasional kegiatan. ''Kalau memang ada alokasi dana yang tidak penting, kami pangkas. Termasuk di antaranya perjalanan dinas karyawan dan pembatasan dana pembelian bahan bakar minyak (BBM),'' ujar Rektor UPS Dra Hj Siti Rahsetyowati MSi, kemarin. Dia mengakui, di tengah suasana yang serba sulit ini cukup berdampak terhadap penggunaan anggaran. Pihaknya terpaksa mengambil kebijakan demi kelangsungan proses belajar-mengajar. Kebijakan itu tentu saja bagaimana penggunaan dana itu bisa mencukupi tanpa mengurangi minat masyarakat untuk masuk ke perguruan tinggi. Kebijakan tersebut, di antaranya, sejak 2003 penarikan dana SPP dan dana pengembangan kampus tidak dinaikkan. Bahkan, mahasiswa yang sampai kini berjumlah sekitar 3.400 orang itu bisa mencicil dan diberi toleransi batas waktu membayar sesuai dengan kemampuan. Secara terperinci, mahasiswa ditarik biaya SPP dengan satu satuan kredit semester (SKS) Rp 35.000 dari jumlah sebelumnya Rp 30.000 /SKS. Untuk dana pengembangan kampus gelombang I Rp 2,5 juta dan gelombang II Rp 3 juta. ''Komitmen kami, dengan kebijakan itu tidak terlalu memberatkan mahasiswa,'' paparnya. Dan, kebijakan tersebut ternyata cukup jitu untuk penyerapan calon mahasiswa. Terhitung pada masa penerimaan mahasiswa dari tahun ke tahun tidak surut. Buktinya, pada masa penerimaan mahasiswa baru (PSB) 2005 ini, sudah tercatat 860 calon mahasiswa. ''Jumlah tersebut akan bertambah, mengingat kami masih membuka untuk golongan khusus yang tiap tahun mampu merekrut 200 calon mahasiswa.'' Terobosan lain untuk melakukan penghematan, menurut Siti Rahsetyowati, pihaknya tidak sekadar melakukan efisiensi internal, namun meningkatkan kerja sama dengan pihak ketiga. Di antaranya, pemberian beasiswa kepada mahasiswa berprestasi. Sedangkan untuk menutup biaya operasional, UPS melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah setempat setiap ada kegiatan. Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Hamidah Abdurrahman SH MHum menambahkan, beberapa terobosan dengan kerja sama melalui jalur akademik pun acapkali dilakukan. Pelayanan Satu Hari Universitas Muria Kudus (UMK) di Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus, dalam menjaring mahasiswa baru meluncurkan strategi pelayanan one day service. Pelayanan tersebut berupa pendaftaran, ujian, sekaligus pengumuman hasil ujian masuk dan pendaftaran ulang dilaksanakan dalam satu hari. Progam tersebut diselenggarakan pada 22 Agustus - 10 September 2005. Menurut penuturan Pembantu Rektor I Universitas Muria Kudus Drs Masluri MM, strategi tersebut lebih ditujukan untuk menjaring siswa SMA yang mengikuti ujian nasional (UN) tahap II. ''Jadi, dalam satu hari calon mahasiswa dapat mengetahui apakah dirinya diterima atau tidak. Progam ini mempermudah calon mahasiswa terutama siswa SMA yang mengikuti UN II,'' jelas dia. Lebih lanjut dia menguraikan, UMK mempunyai lima fakultas dan sepuluh progam studi. Yaitu Fakultas Hukum (S1), Progam Studi Psikologi (S1), dan Fakultas Ekonomi dengan Progam Studi Manajemen (S1) dan Akuntansi (D3). Berikutnya, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) dengan Progam Studi Pendidikan Bahasa Inggris (S1) dan Studi Bimbingan dan Konseling (S1), serta Fakultas Teknik dengan Progam Studi Sistem Informasi (S1), Teknik Mesin (D3), dan Teknik Elektronika (D3), juga Fakultas Pertanian dengan Program Studi Agronomi (S1). Menurut dia, terdapat tiga progam studi yang menjadi favorit dari calon mahasiswa baru, yakni Progam Studi Manajemen, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, dan Progam Studi Sistem Informasi. ''Bahkan, khusus untuk penerimaan mahasiswa baru, Program Studi Sistem Informasi telah kami tutup. Target untuk kelas ini telah terpenuhi,'' ungkap dia. Dia menambahkan, pada tahun lalu target jumlah mahasiswa baru 1.020 orang telah terpenuhi. Kini pihaknya menaikkan target menjadi 1.070 mahasiswa baru. Semenjak pendaftaran ulang gelombang I (22 - 26 Juli), data yang tercatat pada Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK) UMK sebanyak 767 calon mahasiswa telah mendaftar pada UMK. Dari jumlah tersebut, 667 orang telah mendaftar ulang. Sedangkan data terakhir hingga Kamis (25/8) menunjukkan jumlah total pendaftar UMK sebanyak 1.165 orang. ''Kebanyakan pendaftar berasal dari Kudus, Pati, dan Jepara. UMK memang lebih memfokuskan untuk menjaring calon mahasiswa dari ketiga daerah tersebut,'' ujar Masluri. Di tempat terpisah, Manajer Humas Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) Drs Rokhmat Akt MM mengakui, jumlah calon mahasiswa baru yang mendaftar ke UTY menurun. Penurunan sekitar 10 persen dan mendekati pendaftaran yang ditutup 31 Agustus, pihaknya sudah menerima sekitar 1.000 mahasiswa dari target 1.100 mahasiswa baru. Tes di UTY diselenggarakan setiap minggu pada hari Rabu. Sementara itu, kondisi PTS di Purwokerto beberapa tahun terakhir ini ibarat hidup enggan mati tak mau. Jalannya berliku dan tampak terseok-seok. Dari tahun ke tahun jumlah mahasiswa baru yang diterima terus berkurang. Padahal, beban operasional untuk pembiayaan pendidikan dan kebutuhan lainnya juga terus berjalan. Itu tidak bisa ditawar, kecuali dari pihak kampus dan yayasan pengelola melakukan efisiensi atau mengambil langkah terburuk, menutup kampusnya daripada merugi terus. Banyak pihak menilai, 2005 adalah tahun kejatuhan atau kolaps bagi PTS di Purwokerto. Booming penerimaan mahasiswa baru telah berlalu. Kini mereka hanya bisa berjuang bagaimana mempertahankan hidup untuk menghindari keterpurukan yang lebih dalam. Lima tahun lalu mereka masih berjaya. Untuk universitas swasta satu angkatan bisa mencapai 1.500 sampai 2.000. Sedangkan untuk sekolah tinggi dan akademi, rata-rata 100 sampai 500 pendaftar. Kondisi ini juga sempat memberi angin segar bagi pembukaan lembaga-lembaga pendidikan dan kursus (LPK) baru, setara D1 dan D2. Saat itu jumlahnya juga begitu menjamur. Tapi bedanya, lima tahun berjalan mereka tetap bertahan. Peminatnya tetap stabil. Sebab, yang tidak mampu kuliah atau ingin cepat kerja banyak lari untuk membekali kemampuan praktis terlebih dulu. Waktunya juga singkat. Penyebab keterpurukan PTS di Purwokerto lima tahun terakhir ini, kata sejumlah kalangan pengelola PTS, di antaranya adalah kampus negeri dari tahun ke tahun terus membuka banyak jurusan atau program studi (PS) baru. Mereka juga sekarang bisa mengadakan seleksi sendiri di luar UMPTN. Dibandingkan dengan kondisi kampus negeri, yakni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), kondisi sebagian besar kampus swasta di Purwokerto kini ibarat arah mata panah berlawanan hingga 180 derajat. Misalnya, Unsoed lima tahun terakhir ini di bawah kepemimpinan dua periode Rektor Prof Rubiyanto Misman mengalami perkembangan begitu pesat. Sebelumnya jumlah program studinya hanya 17, tahun 2005 ini sudah 53 program studi yang tersebar di program D3, S1, dan S2. Secara otomatis jumlah mahasiswanya juga banyak. Tahun ini saja menerima sekitar 5.200 orang. Padahal, kalau pendaftar sekitar 10.000 hingga 12.000, minimal yang diterima 80%, jumlahnya jelas besar. Daya tampung yang disesuaikan dengan kebutuhan yang mampu diambil Unsoed hanya sekitar 30% dari jumlah peminat. Data di Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Wilayah Banyumas menyebutkan, selain dua universitas swasta, yakni UMP dan Unwiku, saat ini untuk sekolah tinggi atau akademi yang masih bertahan ada sekitar 17 kampus. Padahal, empat tahun lalu sekitar 25 kampus. Yang lain tutup, marger, atau berubah haluan jadi kampus lain. Membenarkan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Dr Ir Luthfi Hasan membenarkan adanya penurunan jumlah calon mahasiswa baru yang mendaftar ke kampus yang dipimpinnya. Namun penurunan dalam dua-tiga tahun terakhir masih dalam batas kewajaran. Kalau beberapa tahun sebelumnya jumlah pendaftar mencapai 15.000-20.000 orang, dalam 2-3 tahun terakhir memang menurun. Kalau tahun ajaran sebelumnya masih di atas 10.000 orang, tahun ajaran 2005/2006 tinggal sekitar 9.700 orang untuk diseleksi sesuai dengan kapasitas sekitar 3.300 mahasiswa baru. ''Secara kuantitas dan kualitas sampai sekarang tidak ada penurunan,'' ujar Luthfi Hasan. Jajarannya masih bisa bernapas lega karena masih cukup banyak calon mahasiswa yang bisa diseleksi. Masalahnya, kalau kondisi ini (penurunan) berlangsung terus dikhawatirkan akan menyulitkan kampusnya untuk mendapatkan calon mahasiswa yang berkualitas. Tentang ada perguruan tinggi yang kembang-kempis atau kolaps karena ditinggalkan calon mahasiswa baru, menurut Luthfi Hasan, hal itu tergantung pada niat awal dan misinya. Sejauh ini, tambah Luthfi Hasan, penurunan jumlah calon mahasiswa baru yang mendaftar berpengaruh terhadap keuangan universitas dan biaya belajar-mengajar. (G12,tik,P58,P12,G22-41t) | ||||