| Rabu, 31 Agustus 2005 | NASIONAL |
Nilai-nilai Kejawaan Perlu DiimplementasikanSEMARANG-Nilai-nilai kejawaan tak semata-mata berpengaruh terhadap eksistensi kebudayaan Jawa. Lebih dari itu, ia punya peran besar dalam pembinaan kebudayaan bangsa. Salah seorang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jateng Sudharto mencatat tiga konsepsi Jawa yang punya saham membangun karakter bangsa Indonesia, yakni prinsip religiusitas, prinsip hidup rukun dan toleran, serta sikap hormat kepada sesama manusia. Hal itu dia sampaikan dalam diskusi bertema "Sumbangan Jawa untuk Pembangunan Karakter Bangsa" di Kantor Redaksi Harian Umum Suara Merdeka, Jalan Raya Kaligawe Km 5, Selasa (30/8). Menurutnya, kondisi tersebut dapat terwujud sejauh nilai-nilai kejawaan dipahami secara benar sesuai dengan konsep nilai dan kebudayaan Timur yang bersifat spiritual, bukan dengan kerangka Barat yang materialistis. Meski demikian, Sudharto tak menyangkal ada unsur budaya Jawa yang kerap dipersepsikan negatif, seperti mistikisme, feodalisme, dan penindasan akibat struktur masyarakat yang hierarkis. Karena itu, dia menyatakan perlu penyeleksian. Namun yang terpenting dari semua itu adalah implementasi nilai-nilai kejawaan dalam laku hidup sehari-hari. "Nilai-nilai Jawa semestinya tidak cuma diinventarisasi, tapi harus diimplementasikan. Dalam hal ini, para pemimpin harus memberi contoh." Sesuai dengan tema, diskusi yang terselenggara atas kerja sama Dewan Riset Daerah Jateng dengan Suara Merdeka itu menyoal anasir nilai-nilai budaya Jawa dalam proses pembangunan karakter bangsa. Selain Sudharto, beberapa pemakalah lain menyampaikan pokok-pokok pemikirannya. Mereka adalah mantan Gubernur Jateng HM Ismail, Ketua Yayasan Studi Budaya Kantil Prof Dr Soetomo WE, pemerhati budaya Jawa Hertoto Basuki, Rektor STSI Surakarta Prof Dr Sutarno, dan Ketua Pepadi Jateng Sutadi. Tampak hadir Wakil Gubernur Jateng Drs Ali Mufis MPA, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Sasongko Tedjo, serta sejumlah pakar dan pemerhati budaya, antara lain Ahmad Tohari, Setiadji Pantjawidjaja, dan Prof Dr Abu Su'ud. Acara dipandu Darmanto Jatman. Budaya Jawa Ali Mufiz dalam sambutannya menyampaikan perlunya menempatkan budaya Jawa dalam konteks pergaulan nasional dan global. Untuk itu harus dilakukan pemilahan, unsur mana yang masih relevan dipertahankan, dan mana yang patut dibuang. Hal itu penting agar kita sebagai orang Jawa dapat menyesuaikan diri dengan kecenderungan global tanpa mengalami keterasingan. Dia lantas menyebut tiga kecenderungan global yang tak bisa tidak harus diselaraskan. Pertama, global ethics, di dalamnya mencakup nilai-nilai demokrasi, keadilan, dan penegakan hukum. Kedua, globalisasi ekonomi, meliputi perdagangan bebas, regionalisasi ekonomi, internasionalisasi masalah domestik, dan struktur pasar kapitalistik. Adapun kecenderungan global ketiga adalah transparansi informasi yang amat muskil untuk dibendung.(H6-29t) |