logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Agustus 2005 NASIONAL
Line

"Tingalan" Hening dan Tenang

SOLO - Sehabis menjalani upacara ulang tahun tahta atau tingalan jumenengan yang pertama, Hangabehi langsung mengikuti prosesi kirab agung keliling rute lingkar luar Baluwarti. Ritual tingalan yang tenang dan aman, berjalan kurang lebih tiga jam sejak pukul 10.00, sementara itu kirabnya berlangsung mulai pukul 15.00.

Suasana dan pemandangan saat berlangsungnya upacara tingalan boleh dikatakan bertolak belakang dibandingkan malam sebelumnya yang begitu tegang dan menakutkan. Begitu terdengar suara gending Bedaya Ketawang yang mengiringi sajian tarian sakral selama 90 menit, yang tercipta hanya suasana tenang dan hening.

Disaksikan para undangan, Hangabehi duduk di singgasana bersama para dayang pembawa ampil-ampilan (perlengkapan upacara-Red). Begitu semua abdi dalem bupati sepuh dan bupati anom yang kurang lebih berjumlah 2.000 orang menghadap tempat upacara, Pendapa Sasana Sewaka, Nyai RT Secapura memerintahkan kepada abdi dalem pengrawit untuk memulai memperdengarkan gending Bedaya Ketawang.

Gending iringan tarian sakral yang disajikan sembilan penari keraton, segera disuguhkan. Namun sebelum itu, Nyai RT Secapura melaporkan sejumlah nama yang akan diberi penghargaan, karena pengabdiannya di bidang seni dan budaya untuk keraton, komunitas etnik Jawa, dan masyarakat bangsa Indonesia secara luas.

Ditabuhnya gamelan mengalunkan gending Undur-undur Kajongan, menandai berakhirnya seluruh rangkaian upacara tingalan jumenengan. Setelah itu Hangabehi langsung ganti busana untuk menjalani kirab agung.

Selang sejam, kira-kira pukul 15.00, semua peralatan utama kendaraan kirab sudah disiapkan di halaman Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa. Tak lama kemudian, dia mengenakan busana setelan beskap warna jingga berjalan keluar dari Kori Srimanganti.

Sesampai di pendapa, Hangabehi duduk di singgasana yang disiapkan di Bangsal Witana. Di situ, dia mendapat penghormatan oleh para sentana dalem, di antaranya KGPH Kusumayuda, GPH Puger dan GPH Nur Cahyaningrat, sambil menunggu saat kirab.

Kurang lebih setengah jam kemudian, prosesi kirab diberangkatkan. Di dalam formasi, ada dua grup marching band, pasukan pembawa bendera Merah Putih dan panji-panji keraton, baru diikuti prajurit korsik keraton.

Sebagai pembuka jalan, ada empat polisi dari Unit Satwa Polresta Surakarta menunggang kuda.

Di belakang korsik, ada gamelan Carabalen yang ditabuh secara live sambil jalan kaki. Di belakangnya, putra Sinuhun yang bernama GRM Suryo Suharto menunggang kuda yang diikuti enam abdi dalem pembawa songsong atau payung pare anom (simbol Pura Mangkunegaran) dan gula klapa (simbol keraton).

Para prajurit pembawa pusaka tombak dan sembilan bregada prajurit lainnya, menjadi penuntun kereta kuda yang ditumpangi sejumlah cucu almarhum Sinuhun Paku Buwono XII, di antaranya BRM Surya Herbanu dan Suryo Raditya. Di belakangnya, menyusul kereta pembawa sepasang kembar-mayang, sentana dalem yang berjalan kaki dan barulah kereta Kiai Garuda Kencana yang ditumpangi Sinuhun Paku Buwono XIII.

Di belakang kereta Sinuhun yang ditarik delapan kuda itu, ada kereta Kiai Retna Juwita yang ditumpangi GRAy Koes Moertiyah, GRAj Rumbai Kusuma Dewayani dan beberapa putri keraton lain. Dan, menutup barisan kereta adalah Kiai Retna Sewaka yang ditumpangi sesepuh keraton, KGPH Haryo Mataram dan KGPH Kusumayuda.

''Kereta itu sebenarnya untuk Wali Kota dan wakilnya. Tetapi, untuk nyapih hawa (meredam situasi-Red), beliau berdua tidak ikut kirab, tetapi hanya nguntabake (melepas-Red) setelah hadir di upacara tingalan,'' ujar Ebit Pramudijanto, seorang abdi dalem Sasana Wilapa.

Prosesi kirab yang diakhiri oleh barisan abdi dalem Pakasa itu, kembali masuk keraton sekitar pukul 18.00. Berlangsungnya kirab agung yang menelusuri rute Jalan Slamet Riyadi-Kapten Mulyadi-Veteran dan Jalan Yos Sudarso berlangsung aman dan lancar. (won,G8-14v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA