| Rabu, 31 Agustus 2005 | NASIONAL |
Tedjowulan Pulang, Hangabehi Ikuti Kirab
SOLO - Entah apa yang dibicarakan empat mata antara raja kembar, KGPH Tedjowulan dan KGPH Hangabehi, yang jelas ontran-ontran yang melanda Keraton Surakarta mulai meredup. Usai pertemuan,Tedjowulan yang sehari sebelumnya menduduki keraton segera pulang. Sementara itu, lawannya, Hangabehi, Selasa kemarin langsung melaksanakan upacara tingalan jumenengan dan kirab. Upacara tradisi keraton itu berjalan lancar . Pertemuan raja kembar yang berebut tahta itu berlangsung sekitar satu setengah jam, Selasa dini hari mulai pukul 02.00, di bangsal Kasentanan dan disaksikan sesepuh keraton, KGPH Haryo Mataram. Dalam kesempatan itu kedua raja tersebut masing-masing didampingi pengacaranya. Pertemuan pertama kedua anak Paku Buwono (PB) XII sejak konflik pecah setahun lalu itu dalam kapasitas sebagai kakak beradik. Menurut sebuah sumber, dalam pertemuan itu mereka lebih banyak membicarakan masalah intern keraton. Adapun persoalan konflik antarkeduanya hanya disinggung sebentar dalam pembicaraan di menit-menit terakhir. ''Masalah konflik intern keraton, menyangkut raja kembar akan dibicarakan empat mata dalam pertemuan selanjutnya,'' kata sumber yang enggan disebut namanya itu. Dengan demikian, Tedjowulan meninggalkan keraton tanpa kesepakatan apa pun terkait dengan penyelesaian konflik intern keraton. Dia meninggalkan keraton sekitar pukul 03.30. Seperti diberitakan sebelumnya, Senin lalu, Tedjowulan bersama pengikutnya menduduki keraton. Langkah itu ditempuh sehubungan dengan rencana Hangabehi untuk menggelar upcara tingalan jumenengan. GPH Suryo Wicaksono, adik dan sekaligus juru bicara Tedjowulan mengemukakan, hanya ada kesepakatan lisan dalam pertemuan empat mata raja kembar tersebut. Dalam kesepakatan lisan itu, kata dia, jumenengan keraton tetap digelar, namun tidak disertai kirab raja. Sebab masalah utama belum diselesaikan, keduanya masih menganggap diri sebagai pengganti PB XII. ''Selanjutnya masing-masing pihak dilarang membuat komentar di media yang dinilai justru akan memperkeruh situasi,'' jelas GPH Suryo yang biasa dipanggil Gusti Nenok. KP Edy Wirabhumi SH selaku sedherek dalem Sinuhun Paku Buwono XIII membenarkan memang betul sudah terjadi pertemuan. Dalam pertemuan itu ada beberapa hal yang disepakati, di antaranya bersepakat untuk tidak mempublikasikan hasil-hasil yang dicapai. ''Jadi, kalau ada yang bilang tidak tercapai apa-apa dan tidak ada kesepakatan, itu pasti yang omong bukan Gusti Tedjo. Artinya, pernyataan itu kemungkinan sudah dipelintir.'' Karena ada kesepakatan keduanya untuk tidak mempublikasikan hasil-hasil yang dicapai. Menurutnya, keterangan pers secara resmi akan diberikan oleh Elza Syarif selaku pengacara Hangabehi. Sementara itu, dari pihak Tedjowulan, juga hanya akan dikeluarkan oleh pengacaranya. Elza Syarif ketika ditanya menyatakan, persoalan antara kedua pihak memang sebaiknya menunggu proses hukum. Sebab, penyelesaian melalui koridor ini berkekuatan pasti, meski ada wilayah-wilayah yang tetap berada di dalam koridor adat. ''Ya, sebaiknya ditunggu saja jalannya proses hukum itu hingga selesai. Karena, masing-masing sudah menjalaninya. Misalnya, proses gugatan pihak Hangabehi yang akan kami masukkan ke Puspom TNI.'' Sementara itu, GRAy Koes Murtiyah tetap akan menempuh jalur hukum atas insiden pendudukan keraton oleh pihak Tedjowulan. Sebab, dalam insiden itu paling tidak tiga kerabat keraton mengalami luka-luka. ''Mereka (pendukung Tedjowulan-Red) sudah berbuat anarkis,'' kata dia yang mengaku dikejar-kejar orang bergolok. Tujuh pendukung Tedjowulan sore kemarin dibawa ke Mapolresta Surakarta. Selain ber-KTP luar kota, mereka dicurigai aparat kepolisian karena membawa-bawa senjata tajam. Mereka diperiksa langsung oleh Wadir Intelkam Polda Jateng, AKBP Lutfi Lubihanto, yang datang ke Solo bersama anggotanya. Menurut Lutfi, tujuh orang itu hanya sekadar diperiksa menyangkut keberadaan mereka di Solo. ''Status mereka sebatas saksi, bukan tersangka.'' Ketujuh orang tersebut merupakan anggota rombongan dari Yayasan Keraton Glagah Wangi Dimak, Demak. Mereka merupakan bagian dari rombongan yang berjumlah 100 orang yang ikut ke Solo. Mereka mengaku datang ke Solo untuk ngalap berkah jumenengan raja, bukan dengan tujuan lain. Mereka justru bingung, karena tidak tahu kalau ada gegeran di keraton. Seorang di antara mereka mengaku membeli arit. ''Senjata tajam itu dibeli untuk cendera mata bukan untuk senjata. Kami tidak tahu ada gonjang-ganjing seperti ini,'' jelasnya.(G8,san,won-14v) | ||||