logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Agustus 2005 NASIONAL
Line

Pemerintah Tak Ubah Asumsi RAPBN

JAKARTA - Pemerintah tetap menggunakan asumsi dasar ekonomi makro yang dipergunakan dalam penyusunan RAPBN 2006, dengan pertumbuhan ekonomi 6,0-6,5 persen, laju inflasi 6,5- 8,0 persen, tingkat bunga SBI tiga bulan 7,0 - 8,5 persen.

Juga harga minyak mentah Indonesia 40 - 45 dolar AS per barel, tingkat produksi minyak Indonesia 1,075 - 1,125 juta barel per hari, dan nilai tukar Rp 9.000 -Rp 9.400/dolar AS.

Hal ini dikatakan Menteri Keuangan Jusuf Anwar dalam jawaban pemerintah terhadap pemandangan umum DPR tentang Nota Keuangan dan RAPBN 2006, dalam sidang paripurna DPR, Selasa (30/8).

Menkeu mengatakan, pemerintah tidak bisa serta merta menetapkan perubahan asumsi dasar, sekalipun disadari perkembangan berbagai faktor eksternal dan internal yang bergerak sangat dinamis dalam waktu relatif cepat.

''Sekalipun hal itu mengakibatkan beberapa asumsi dasar ekonomi makro yang telah disepakati dalam Pembicaraan Pendahuluan RAPBN 2006, dirasakan menjadi tidak realistis sesuai dengan kondisi terkini, namun pemerintah tidak bisa dengan serta merta menetapkan secara sepihak asumsi dasar perhitungan RAPBN 2006 yang berbeda dari kesepakatan, sekalipun hal itu realistis,'' katanya.

Menurutnya, jika perubahan asumsi itu dilakukan, maka pemerintah melanggar kesepakatan yang telah diputuskan bersama DPR dan Gubernur BI. Karena itu, pemerintah memandang perlu diupayakan langkah-langkah untuk lebih mengendalikan defisit anggaran secara bertahap, seraya menurunkan stok utang pemerintah dan rasionya terhadap PDB, serta merumuskan strategi pembiayaan anggaran yang tepat dan terkendali.

''Untuk mengendalikan defisit anggaran itu, akan dilakukan melalui peningkatan penerimaan negara dengan merumuskan dan melaksanakan secara konsisten dan sistematis langkah-langkah pembaruan perpajakan dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP),'' jelasnya.

Selain itu, lanjut dia, pemerintah juga akan melakukan pengendalian dan peningkatan efisiensi dan efektivitas belanja negara, serta mobilisasi sumber-sumber pembiayaan anggaran.

Sementara itu, prioritas pembangunan yang dijadikan pedoman bagi penyusunan RAPBN 2006 adalah penanggulangan kemiskinan dan pengurangan kesenjangan; peningkatan kesempatan kerja, investasi dan ekspor, revitalisasi pertanian dan pedesaan, peningkatan aksesibilitas serta kualitas pendidikan dan kesehatan. Kemudian penegakan hukum, pemberantasan korupsi dan reformasi birokrasi, penguatan kemampuan pertahanan, pemantapan keamanan dan ketertiban serta penyelesaian konflik.

Faktor Eksternal

Menurut Menkeu, penguatan dolar AS dipicu oleh membaiknya perekonomian AS, peningkatan suku bunga The Fed, dan tingginya harga minyak dunia. Selain itu, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar juga didorong oleh kebutuhan permintaan valuta asing di Indonesia yang relatif tinggi untuk pembayaran utang dan membiayai impor. Hal ini terkait dengan kebutuhan investasi yang meningkat.

''Melemahnya nilai tukar rupiah pada gilirannya juga akan meningkatkan tekanan inflasi dan tingkat bunga. Perkembangan tersebut mengisyaratkan bahwa tekanan terhadap beberapa indikator ekonomi makro saat ini disebabkan oleh faktor eksternal, khususnya meningkatnya harga minyak dunia,'' tutur Anwar yang semalam (Selasa malam) bersama Gubernur BI terbang menuju Tokyo.

Sampai dengan akhir tahun 2005, kata dia, tingkat bunga The Fed diperkirakan pada level yang cukup tinggi, yaitu sekitar 4 persen. ''Kenaikannya diperkirakan tidak berlanjut pada tahun 2006. Dengan demikian, tren penguatan mata uang dolar akan tertahan. Hal tersebut juga ditambah dengan masih relatif tingginya defisit anggaran dan neraca pembayaran AS,'' ucapnya.

Jusuf Anwar menegaskan, gejolak ekonomi nasional dari faktor eksternal diharapkan akan kembali stabil dalam tahun 2006. ''Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak selamanya dapat dijelaskan kepada publik secara gamblang. Namun percayalah, masalah nilai tukar, kami dan BI akan terus mengawasi. Begitu juga dalam pasar modal, yang memang banyak unsur dan spekulasi. Pada gilirannya, menguatnya dolar ini dapat mendorong ekspor Indonesia.''(sas-14t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA