logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Agustus 2005 NASIONAL
Line

Pemerintah Siap Stabilkan Rupiah

  • Langkah Konkret Diumumkan Hari Ini

JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (30/8), menggelar rapat kabinet paripurna untuk menyikapi terus anjloknya rupiah yang pada perdagangan kemarin sempat menembus Rp 11.000 per dolar AS. Diharapkan langkah konkret pemerintah untuk meredam merosotnya rupiah itu sudah dapat diumumkan hari ini, memperkuat enam langkah kebijakan yang lebih dulu dikeluarkan Bank Indonesia (BI).

Presiden terpaksa mengambil inisiatif memberikan keterangan pers, setelah upayanya meyakinkan pelaku pasar dengan menemui pimpinan BI dan merespons desakan perombakan tim ekonomi tidak juga mengubah sentimen pasar. Rupiah yang pada hari sebelumnya bertengger di level Rp 10.669 per dolar tidak tertahankan lagi dan sempat menembus Rp 11.000, angka terendah dalam enam bulan terakhir.

Tampil formal - tidak seperti biasanya - mengenakan setelan jas lengkap, SBY mengakui, pemerintahnya saat ini dihadapkan pada situasi dan permasalahan yang cukup sulit serta berat. Menurutnya ini terjadi karena dua hal. Yakni tingginya harga minyak dunia dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

''Saya menilai persoalan ini memang cukup serius, meskipun tidak berarti tidak ada solusi yang dapat kita ambil. Saya percaya kita akan menemukan solusi dan cara-cara mengatasi permasalahan ini secara tepat,'' katanya mencoba tetap optimistis.

Presiden mengaku, dua-tiga hari belakangan ini pihaknya menerima cukup banyak masukan dan saran dari berbagai pihak, antara lain para ekonom, pengamat, pelaku dunia usaha, mantan menteri ekonomi dan gubernur BI, bahkan juga dari lembaga-lembaga ekonomi dan keuangan internasional.

Atas pertimbangan dan masukan banyak pihak tersebut, Presiden setuju perlunya diambil langkah-langkah signifikan baik oleh pemerintah maupun otoritas moneter. Terutama yang mengait pada kebijakan fiskal dan kebijakan ekonomi lainnya.

''Langkah ini sedang kita godok secara matang dan akan segera saya sampaikan kepada publik serta saya jalankan. Dan, dalam proses ini saya pimpin langsung,'' tegasnya.

Ia juga mendukung kebijakan yang telah diambil BI untuk mengangkat kembali nilai tukar rupiah dan berharap langkah-langkah tersebut tepat, cepat dan menyentuh akar permasalahan sebenarnya.

Presiden mengatakan, permasalahan nilai tukar sangat berkaitan dengan permintaan dan penawaran, di samping faktor-faktor lain di luar aspek ekonomi. Karena itu, setiap solusi yang diambil perlu dipertimbangkan secara menyeluruh dan komprehensif.

''Segera setelah ini kita akan lakukan sinkronisasi, koordinasi, dan langkah nyata. Insya Allah dalam waktu dekat, mudah-mudahan besok malam, sudah dapat saya sampaikan jabaran langkah-langkah konkret apa yang kita ambil untuk mengatasi pelemahan nilai tukar ini,'' tandas dia.

Kepada masyarakat, Presiden meminta tetap tenang dan mendukung upaya bersama pemerintah dan BI yang tengah mengupayakan jalan keluar atas persoalan ini. Lebih dari itu, SBY minta tidak dikembangkan pandangan yang tidak benar seolah-olah apa yang terjadi sekarang sama dengan krisis ekonomi yang terjadi pada 1998.

''Ini penting, jangan sampai Saudara-saudara kita di seluruh tanah air memiliki persepsi seolah-olah sama dengan kondisi seperti itu, meskipun saya mengatakan masalah ini tidak boleh kita anggap remeh,'' tuturnya.

Presiden secara terus terang mengakui tahun 2005 ini memang tahun yang berat, termasuk permasalahan ekonomi.

''Namun, saya yakin seberat apa pun masalahnya dapat kita temukan solusinya. Dan, saya tetap yakin perkembangan ekonomi kita ke depan dari tahun ke tahun akan dapat kita tingkatkan.'' (A20-14v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA