logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Agustus 2005 MURIA
Line

Pendapatan Angkudes Turun Drastis

  • Akibat Sulit Cari Premium

KUDUS - Pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang seret dalam sepekan terakhir ini, selain membuat panik pengguna kendaraan bermotor ternyata mengurangi pendapatan awak angkudes. Pendapatan setiap awak turun hingga 50%.

Ketua Paguyuban Angkudes Rahmad Hidayatullah Jurusan Padurenan-Klumpit Drs Mustam Effendi kepada Suara Merdeka mengemukakan, pendapatan awak 16 angkudes yang dia pimpinnya dipastikan anjlok hingga 50%.

"Sebenarnya, hal itu tidak hanya kami rasakan pada pekan-pekan ini saja tetapi sudah sejak Juli lalu," ungkapnya.

Pasalnya, lanjut dia, sebelum pasokan premium tersendat seperti sekarang ini setiap hari dia dan rekan-rekannya mampu narik empat kali pergi pulang. Namun, sekarang ini hanya bisa narik dua kali saja.

"Selepas pukul 12.00, biasanya kami kehabisan bensin," ujarnya.

Pada saat itu pihaknya ikut ngantre di SPBU untuk membeli premium. Sebab, biasanya pasokan BBM datang.

Padahal, biasanya pada jam-jam itu pula mereka banyak mendapatkan penumpang langganan, seperti para bakul dan buruh dari sejumlah brak (gudang produksi rokok) yang sedang pulang kerja.

Dalam kondisi demikian, rata-rata setiap awak hanya bisa membawa pulang Rp 5.000 - Rp 10.000/hari. Padahal sebelum Juli, pendapatan bersih mereka di atas nominal tersebut.

Pendapatan itu merupakan hasil bersih setelah dikurangi setoran Rp 40.000.

Bagi awak yang angkudesnya diperoleh dengan cara mengangsur, harus menyisihkan pendapatan Rp 2.261.200 per bulan selama tiga tahun. "Hasil segitu apa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup?" keluhnya.

Hal senada juga disampaikan oleh awak angkudes bernama Bagong yang beroperasi di jalur Terminal Bareng - Terminal Induk. Biasanya, dia bisa membayar setoran Rp 80.000/hari. Namun akhir-akhir ini hanya bisa membayar Rp 60.000, sisanya biasanya dibawa pulang dulu untuk makan.

"Paling saya hanya dapat Rp 15.000, separo dari hasil yang biasa saya dapat sebelum masa sulit cari bensin itu," tandasnya.

Sementara itu, Rif'an, awak angkudes jurusan Terminal Jetak - Terminal Induk menyatakan sekarang merupakan masa tersulit untuk mencari uang. Selagi bensin sulit didapat dan membelinya pun harus antre, dia tak berani mencari penumpang di semua jalan seperti biasanya.

Yang dia lakukan, hanya ngetem di sejumlah brak untuk mengangkut langganan tetapnya.

"Kami tak ingin berisiko. Jika meleset, tentunya kami akan lebih merugi. Pendapatan saat bensin seret seperti sekarang ini saja sudah anjlok setengah dari sebelumnya," tutur dia. (H8-54j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA