logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Agustus 2005 MURIA
Line

Kembalinya Nelayan yang Hilang (2-Habis)

Acara Pernikahan pun Nyaris Tertunda

IMAM ZAENURI (24) merasa paling cemas di balik tragedi hilangnya dua nelayan Desa Ujungwatu Kecamatan Keling Kabupaten Jepara yang juga kakak dan adiknya sendiri, masing-masing Ahmad Rifai (27) dan Nur Ariyadin (20) sejak Jumat (26/8) hingga diketemukan pada Senin lalu (29/8).

Dengan berharap-harap cemas, Senin itu Imam bersama seluruh anggota keluarganya, termasuk ayahnya Rohim (53) tak bisa menahan kesedihan di balik kedukaan. Bagaimana tidak, hari itu adalah hari di mana Imam harus menyebar undangan pernikahannya yang ia rencanakan berlangsung pada Senin mendatang (5/9).

Ia berencana menikahi Anik Widayanti, gadis asal Desa Ngancar Kecamatan Keling. "Kalau saya belum mendengar kepastian kabar kakak dan adik saya, maka pernikahan akan ditunda. Bagaimanapun saya ingin saudara ada disamping saya saat saya menikah," kata Imam sekitar 45 menit sebelum memperoleh kabar kakaknya telah pulang dalam keadaan selamat.

Ya Senin itu undangan pernikahan yang sudah siap disebar, urung dibagikan. Rumahnya yang bersih dan tertata mengisyaratkan hajat pernikahan itu tak lama lagi akan berlangsung. Ia merasa "beruntung" sebelum tahu kakak dan adiknya masih hidup atau sudah ditelan asinnya air Laut Jawa.

"Biasanya Mas Rifai berangkatnya bersama saya, tapi Jumat (26/8) lalu ia mengajak adik saya, Ariyadin. Maklum saya sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahan," kata anak ketiga dari tujuh bersaudara itu dengan pasrah.

Imam yang hanya lulusan SD itu tidak tahu sampai kapan pernikahannya akan digelar sejak kabar hilangnya dua saudaranya itu. "Pokoknya sampai saya mendengar kejelasan nasib saudara saya itu, baru saya bisa melangsungkan pernikahan," tuturnya, lirih.

Ia hanya meminta doa orang-orang yang mengunjunginya agar saudaranya itu bisa pulang dengan selamat. "Doakan saja semoga saudara saya selamat," pintanya saat Suara Merdeka berpamitan usai wawancara dengan dia.

Dikabulkan

Kurang lebih 45 menit setelah ucapan itu dilontarkan, agaknya dicatat oleh malaikat dan pada hari itu pula dikabulkan oleh Allah SWT. Terbukti, kerumunan nelayan datang dengan memboyong dua saudaranya yang beberapa hari dikabarkan hilang di laut.

Tak hanya Imam yang menangis, ayah ibunya, tetangganya, dan sanak familinya semuanya menangis saking gembira dan harunya. Rifai dan Ariyadin yang melepas bajunya tak bisa bicara banyak saat orang-orang tercinta itu mendekap dan menciuminya.

Dua saudara yang nyaris bernasib naas itu bergegas menuju dapur. Namun puluhan orang tetap mengejarnya, untuk memastikan yang dilihatnya itu adalah benar-benar Rifai dan Ariyadin, yang sempat menjadi tanda tanya seluruh warga desa sebelum diketemukan.

Lantas bagaimana pernikahan Imam? "Saya akan merembuknya kembali dengan keluarga calon mempelai wanita untuk bisa melangsungka acara pernikahan pada Senin (5/9)," kata Rohim, ayah Imam.

Kesedihan yang menimpa keluarga nelayan kecil itu berubah total menjadi kebahagiaan yang berlipat. Anggota keluarga yang disangkanya telah tiada ternyata kembali dengan selamat, walau Ariyadin tampak kelihatan shock dengan kejadian yang menimpanya itu.(Muhammadun Sanomae-17)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA