logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Agustus 2005 SEMARANG
Line

Koleksi Indian pun Tersedia

SEORANG lelaki berbadan tegap dengan bertelanjang dada berdiri di depan sebuah stan pameran. Di tangan kirinya memegang busur panah, sedangkan tangan kanan memegang kapak seperti orang yang siap berperang. Sekujur tubuhnya dipenuhi berbagai aksesori Suku Indian.

Sekilas lelaki tersebut mirip manusia betulan, padahal kalau melihatnya dari dekat, maka kita akan tahu itu hanyalah patung dari bahan fiber. Ukurannya dibuat persis dengan tinggi manusia Indonesia, bahkan raut wajahnya juga didesain sedemikian rupa hingga mirip asli.

Patung tersebut merupakan salah satu dari puluhan model pernik-pernik yang dimiliki Indian Estetika. Diawali dari rasa suka, Khairul, lelaki asal Padang ini mengembangkan berbagai pernik-pernik khas Indian.

Usaha yang dikembangkannya itu dimulai 1998 silam. Beragam koleksi dari gantungan kunci, asbak, tas, hiasan dinding potongan kepala, macam tutul hingga patung utuh seukuran manusia lengkap dengan aksesorisnya, memenuhi showroom-nya.

Khairul mengatakan, untuk mendapatkan hasil seperti sekarang ini, ia memulainya dari bawah.

Bahkan saat pertama kali mengikuti pameran di PRPP, dia hanya menggunakan tempat di emperan saja. Kini, usahanya telah berkembang pesat dan ia juga memiliki showroom di Yogyakarta maupun di Ubud, Bali.

Wisatawan

Jumlah karyawannya hingga sekarang mencapai 70 orang yang berpusat di Nogotirto Gamping, Sleman, Yogyakarta.

''Kebanyakan peminat produk ini adalah wisatawan mancanegara yang sedang berwisata di Indonesia,'' katanya ketika ditemui saat berpameran di PRPP Jateng Expo 2005.

Usahanya ini berkembang cepat setelah merambah pasar di Bali. Banyak pemilik toko suvenir di obyek wisata terbaik di dunia itu terpikat dengan produk yang dihasilkan Khairul.

''Tak jarang pula wisatawan mancanegara yang diantar pemandu wisata datang ke showroom kami untuk melihat langsung produksinya dan melakukan transaksi. Mereka membeli dalam jumlah banyak, lalu dijual lagi di negaranya,'' katanya.

Produk-produk tersebut dijual mulai harga Rp 3.000 hingga Rp 2,5 juta. Untuk masalah desain, dia banyak memerhatikan lekuk-lekuk model Indian melalui majalah, katalog, ataupun juga internet. Lalu, kata dia, model itu dikembangkannya sendiri.

Menurutnya model Indian ini memiliki tiga karakter dengan kekhasan berbeda.

''Model Suku Apache biasanya mengenakan bornet, semacam mahkota dari bulu angsa yang menghias dikepalanya,''katanya.

Sedangkan Suku Moha identik dengan rambut seperti punker dan suku Sioux memiliki mata yang lebih sipit.

''Ketiga karakter tersebut mengenakan aksesoris yang sama,'' tambahnya.

Selain menjual produk, ia juga menerima sewa patung untuk interior. Umumnya, pengguna jasa sewa ini adalah pengelola hotel yang ingin mendesain interiornya bernuansa Indian. (Moh Anhar-18)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA