| Rabu, 31 Agustus 2005 | SEMARANG |
Hidupkan Aktualitas HadisBERKAT ketekunannya mempelajari ilmu agama sejak kecil, Prof Dr H Moh Erfan Soebahar MAg dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo dalam Ilmu Hadis. Predikat tersebut dia rintis semenjak menimba ilmu di pesantren, ditambah dengan tempaan pendidikan dari lingkungan keluarga yang juga dekat dengan dunia kepesantrenan. Pengukuhannya sebagai guru besar dilakukan Rabu (31/8) ini di auditorium kampus III IAIN, Ngaliyan, Semarang. Alumnus S-3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu akan menyampaikan pidato berjudul "Respons Muhadditsun Menghadapi Tantangan Kehidupan Umat, Studi tentang Hadits sebagai Sumber Ajaran Keagamaan di Era Nabi, Kodifikasi, dan Informasi" yang berupaya menjaga kelestarian hadis sebagai sumber ajaran dan sebagai wacana keilmuan. ''Dengan mempelajari hadis, kita bisa mengetahui segala sesuatu dari Nabi SAW karena hadis merupakan laporan tentang pernyataan, perilaku, persetujuan, bahkan tampilan fisiknya. Dalam hadis tercakup juga sunah yang memuat ajaran keagamaan sebagai tuntunan dalam menjalani kehidupan,'' kata pria kelahiran Bondowoso, 24 Juni 1956 itu. Lebih lanjut ia menjelaskan, dari sudut posisi, Alquran menjadi sumber utama, sedangkan hadis menjadi sumber pendampingnya yang menjelaskan Alquran. Ayah dari Kurnia Muhajarah (20), Naily Kamaliah (19), Norannabiela (15), dan Mohammad Nabiel Erfan (14) ini juga menjelaskan tugas muhadditsun saat ini lebih tertantang bagaimana menghadapi keberadaan hadis agar tetap bisa diamalkan oleh umat pada masa kehidupan sesudah Nabi. Muhadditsun itu adalah mereka yang banyak menekuni secara detail tugas-tugas yang terkait dengan laporan hadis. ''Dari muhadditsun inilah hadis-hadis menyebar ke tengah-tengah masyarakat untuk kehidupan umat, tak terkecuali zaman Nabi SAW, zaman ketika hadis dibukukan, juga zaman kita sekarang. Sebab, hadis seperti halnya Alquran yang dijadikan sumber ajaran dan pegangan umat dalam mengarungi kehidupan,'' kata suami Hj Nur Lathifah BA itu. Menurutnya, muhadditsun harus bisa mengambil sikap tegas yang mampu mengubah orientasi dari paradigma tulis yang berkisar pada kebolehan dan pelarangan penulisan hadis ke paradigma riset. ''Upaya yang dilakukan yakni mengadakan penelitian-penelitian tentang penulisan laporan kitab-kitab hadis. Hal itu dimaksudkan agar aktualitasnya mampu menemukan bentuk yang sesuai,'' tuturnya. (Moh Anhar-60n) |