| Rabu, 31 Agustus 2005 | BANYUMAS |
Perajin Tungku Mandirancan Kewalahan Layani PesananBEBERAPA pekan terakhir ini, permintaan akan tungku dari kapur batu meningkat. Tak ayal, para perajin tungku di Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen, Banyumas, kewalayan memenuhi pesanan. Saman, seorang perajin, menuturkan saat ini ada pesanan 70 buah tungku belum terlayani. Sebab, tenaga sangat sedikit, hanya tujuh orang. Sehari setiap orang rata-rata membuat dua tungku. Mereka menjual tungku itu Rp 20.000/buah. Setelah dikurangi setoran ke pemilik gunung kapur, penghasilan bersih mereka rata-rata Rp 30.000/hari. Walau pesanan banyak, perajin tak bisa meningkatkan produksi karena tak bisa menambah tenaga. Tak ada lagi orang mau menekuni pekerjaan itu. Mungkin karena risiko berat dan pekerjaan itu melelahkan. Sejak dulu teknik pembuatan tungku tak berubah. Mereka mengambil bongkahan kapur dari gunung dengan linggis, martil, dan betel. Setelah itu mereka membentuk bongkahan menjadi tungku dengan kapak dan parang. Tangan Hampa Banyak produksi mereka dibeli pedagang dan dibawa ke berbagai daerah. Tak sedikit pembeli untuk dipakai sendiri. ''Banyak yang datang ke sini, tetapi pulang dengan tangan hampa,'' tuturnya. Dia tak bisa menduga apakah peningkatan pesanan akibat banyak rumah tangga beralih memakai kayu bakar setelah minyak tanah langka. Sepengetahuan dia, warga yang memakai tungku biasanya juga memiliki kompor minyak. Tungku Mandirancan selalu laris. Dalam setahun hanya sepekan menjelang Idul Fitri, pemasaran melesu. Pada saat seperti itu bisa ada stok barang di lokasi pembuatan. Di luar waktu itu, barang habis. Bahkan pemesan seringa memaksa perajin menerima uang muka. Padahal, mengambil bongkahan kapur pun belum. Pemasaran tungku buatan warga desa 10 km di selatan Purwokerto itu meliputi eks Karesidenan Banyumas. Umumnya tungku laris di wilayah yang berdekatan dengan hutan, seperti Kalibening (Banjarnegara) serta Kedungbanteng, Cilongok, Rawalo, dan Baturraden (Banyumas). Saman yang memiliki tungku pembakaran kapur menuturkan kayu bakar untuk membakar kapur Rp 30.000/m3, sedangkan untuk rumah tanga Rp 14.000/pikul yang setara dengan 12 l minyak tanah. Niwan, perajin lain, menuturkan sudah 20 tahun lebih membuat tungku. Walau melelahkan, hasilnya jelas. Asal mau bekerja keras, kata dia, barang pasti laku. ''Sejak muda saya selalu berusaha di bidang material bangunan karena itu satu-satunya keahlian saya,'' tutur Saman. (Budi Hartono-53) |