logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Agustus 2005 BANYUMAS
Line

Dijanjikan Hadiah, Beri Info soal Agen Minyak yang Nakal

PURWOKERTO-Himpunan Wiraswastawan Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Wilayah Banyumas akan memberikan hadiah jika ada warga masyarakat memberikan informasi soal agen dan pangkalan menyalurkan minyak tanah bersubsidi tidak sesuai dengan ketentuan.

Juga bila agen itu menyalurkan minyak tanah ke industri baik besar maupun kecil.

Sekretaris Hiswana Migas Edy Mulyadi Sayidi menyatakan hadiah Rp 1 juta bagii penemu agen dan pangkalan yang menjual di atas harga eceran tertinggi Rp 950/l serta ke industri. ''Itu keputusan rapat seluruh pengurus. Kami menyadari harus ada kontrol dari masyarakat untuk menemukan agen dan pangkalan nakal'' ujar Edi, kemarin.

Dia menyatakan agen dan pangkalan yang menyimpang akan dicabut izin usahanya. Langkah itu merupakan bagian dari upaya mengatasi kelangkaan minyak tanah di Banyumas, Purbalingga, Cilacap, dan Banjarnegara selama dua pekan terakhir ini.

''Penjualan minyak di atas harga eceran tertinggi dan ke industri menimbulkan gejolak harga. Jatah minyak tanah untuk empat kabupaten sudah ditentukan. Bila ada penjualan ke industri pasti menimbulkan kekurangan pasokan ke masyarakat.''

Dirugikan

Sementara itu, sejumlah pedagang kaki lima dan usaha kecil di Purwokerto yang merasa dirugikan akibat kelangkaan minyak berniat meminta ganti rugi ke pemerintah dan Hiswana Migas.

Tuntutan itu mengacu ke kasus pemadaman listrik beberapa waktu lalu. Saat itu PLN bersedia memberikan ganti rugi.

Besar ganti rugi kini dikaji sejumlah paguyuban pedagang kaki lima dan usaha kecil dan menangah, seperti Forum Komunikasi Usaha Kecil, Minuman, dan Makanan serta Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa (FKKB) Banyumas.

''Kami dirugikan akibat kelangkaan minyak. Sebagian usaha kami, terutama pedagang kaki lima, terhenti,'' ujar Sunarso, pedagang di kawasan Kebondalem.

Ketua Forum Komunikasi Usaha Kecil Gunawan Santosa mengatakan, akibat kesulitan mendapatkan minyak tanah, puluhan usaha kecil berhenti. Akibatnya, pekerja diliburkan.

''Jika itu tak bisa diatasi, kami rugi besar. Sekarang yang berhenti sekitar 30%. Kalau tak ada solusi, kalangan pedagang dan usaha kecil bisa menuntut ganti rugi,'' ujar dia.

Minyak yang langka membuat harga melambung antara Rp 1.400- 1.600/l. Bahkan di Purwokerto, harga di tingkat eceran Rp 2.000/l. Kemelambungan harga itu dipicu oleh para spekulan. Mereka diduga membeli ke pangkalan dan menjual kembali ke konsumen atau industri kecil. (G22-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA