| Senin, 29 Agustus 2005 | SALA |
STF Mulai Lagi dari NolALUN-ALUN LOR - Solo Trade Fair (STF) 2005 yang berlangsung 26 Agustus-18 September merupakan bentuk baru kegiatan yang sebelumnya menggunakan bendera Pekan Raya Solo (PRS). Risikonya, bursa dagang dan pameran potensi industri serta perdagangan di wilayah Surakarta dan sekitarnya itu harus mulai lagi dari nol untuk menyosialisasikan brand image berikut hasil-hasil yang pernah dicapai. "Ya, itu sudah menjadi risiko kami bila sekarang memakai bendera baru. Tetapi sekalipun memulai dari nol, kami berharap akan mendapatkan keberhasilan yang sama. Tinggal bagaimana kami pandai-pandai membina relasi dan mempromosikan," tutur Daryono, Manajer Pemasaran PT Citra Pamerindo, penyelenggara STF 2005, kemarin. Karena sekarang masih dalam taraf sosialisasi, lanjut Daryono, STF 2005 tidak mematok target apa pun kecuali sukses promosi dan pengenalan. Dengan demikian, yang dijadikan patokan bukan jumlah pengunjung yang membeli tiket Rp 3.000 (bukan Rp 4.000-Red)/orang, melainkan hasil transaksi para peserta stan yang lebih luas cakupannya. Hasil transaksi peserta stan, kata Daryono, baru akan menjadi target pada STF 2006, bila pesertanya tidak lagi bergantung atau didominasi oleh jenis usaha dagang sebagaimana pasar malam kebanyakan, tetapi jenis-jenis usaha semacam UKM, industri pariwisata, industri secara umum, dan perdagangan yang mengarah pada potensi investasi. "Kalau sekarang masih didominasi multiproduk, tak apalah. Namanya juga baru berangkat dari nol, tetapi sekarang pun sudah berubah. Dari PRS 2004 yang hanya diikuti 6 stan instansi pemerintah, sekarang sudah 25 stan dari Pemkot Solo, Pemkab Sragen, dan Pemprov DKI. Itu sudah luar biasa," tutur Daryono. Target penyelenggara itu seperti gayung bersambut dengan harapan Wali Kota Joko Widodo saat membuka STF, Jumat sore lalu. Wali Kota menyatakan, kalau Kabupaten Sragen, Karanganyar, Boyolali, dan Sukoharjo menjadi ajang investor asing, maka wong Solo dan Pemkot Surakarta justru senang, karena dipastikan yang akan mendapat keuntungan akhirnya Kota Solo juga. " Sebagai wong Solo, kita justru menyambut gembira dan berharap investasi ke daerah-daerah itu kian meningkat, karena pada akhirnya yang untung justru Solo. Misalnya menginap, jajan, dan sebagainya kan di Solo. Inilah yang kita harapkan agar kota kita bisa berperan," tegas Wali Kota. (won-27h) |