logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 29 Agustus 2005 RAGAM
Line

Ikhlas Beramal

T: Assalamu'alaikum wr. wb. Prof. Amin Syukur, pada beberapa Senin yang lalu, telah dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan suara dari dalam diri. Ada yang berasal dari Malaikat, Hawa Nafsu, Syetan dan dari Tuhan dengan ciri-cirinya masing-masing.

Saya ingin bertanya, bagaimana seandainya ada bisikan dari dalam diri saya yang menyatakan: ''Kamu melakukan sesuatu itu karena kepingin dipuji oleh orang lain''. Kemudian dari bisikan itu saya ragu-ragu untuk melakukan suatu tindakan, bahkan meninggalkannya. Suara apakah itu? Suara Syetan, Hawa Nafsu, Malaikat, Hatinurani atau bahkan suara Tuhan? Wassalamu'alaikum wr. wb.

Polo di Kudus

J: Alhamdulillah, Saudara Polo mempunyai pemikiran yang kritis terhadap tulisan saya, semoga Anda termasuk golongan yang mendengar atau membaca kebenaran kemudian mau mengamalkan yang baik (QS. al-Zumar/39:17).

Memang amal kebaikan harus disertai niat yang tulus (murni) karena Allah SWT, ketulusan inilah yang disebut ikhlas. Untuk menuju ke tujuan tersebut tidak mudah karena tidak terlepas dari godaan. Godaan itu macam-macam, ada yang bernada menghambat, misalnya: ''jangan melakukan itu'' atau menakut-nakuti sehingga ragu-ragu melakukannya bahkan meninggalkannya, seperti yang Anda ceritakan tadi dan sebagainya.

Yang jelas seluruh aktivitas atau meninggalkannya, dalam bentuk apa pun harus disertai niat ikhlas. Dengan pertanyaan Anda tadi, saya teringat sebuah hadits yang menyatakan: ''Meninggalkan amal karena takut riya` (pamer), maka disebut riya` juga''. Jadi seseorang yang meninggalkan amal bukan karena Allah SWT, tetapi karena takut dipuji atau dicaci orang lain disebut riya`. Di sini tujuan syetan untuk menghambat seseorang akan tercapai.

Mengamalkan sesuatu atau meninggalkannya harus disertai niat ikhlas karena-Nya. Godaannya itu kadang-kadang berupa bisikan dari dalam diri: ''Jangan-jangan amalmu ini tidak ikhlas''. Kemudian tidak jadi mengamalkannya. Ini adalah salah satu bentuk godaan syetan, karena tujuan syetan ialah kita tidak beramal. Sekiranya ada bisikan seperti tadi, maka kita harus memohon ampunan Allah (istighfar), dan tetap mengamalkan suatu perbuatan. Meskipun dalam mengamalkan ada terbetik sedikit pamer (riya`), dengan suatu harapan tidak seluruh amal tersebut terdapat rasa riya`, ada sekian prosennya ikhlas.

Biasanya bagi pemula ada sedikit bangga ('ujub) dengan amalnya, ingin terkenal (sum'ah), ingin memamerkannya (riya`), tetapi lama kelamaan perasaan tersebut akan berkurang bahkan bisa hilang sama sekali. Jadi kalau ada godaan dari dalam yang demikian tadi, maka teruskan beramal, lama-lama menjadi ikhlas.

Anda hendaknya ingat sebuah hadits yang artinya: ''Semua manusia itu binasa kecuali orang yang berilmu, yang berilmu pun binasa kecuali orang yang beramal, dan orang yang beramal itu pun binasa, kecuali orang yang ikhlas karena Allah, dan yang ikhlas itu dalam godaan yang besar''. Godaan itu datang dari syetan, karena dia pernah bersumpah kepada Allah SWT, akan selalu mengganggu kita, sebagaimana difirmankan Allah SWT.: ''demi keagungan-Mu, saya akan menghalangi mereka seluruhnya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas (QS. Shad/38:83).

Dalam ayat lain dia akan menghambat jalan menuju kebenaran dari semua penjuru, sebagaimana firman Allah SWT.: ''Saya pasti mengganggu jalan-Mu yang lurus, kemudian aku datangi mereka dari arah depan, belakang, kanan dan kiri. Dan Kamu tidak menjumpai kebanyakan mereka orang-orang yang bersyukur'' (QS. al-A'raf/7:16-17).

Untuk menanggulangi itu, hendaknya seseorang menyadari posisi dan kondisi dirinya dan siapa Tuhannya dibandingkan dengan orang yang dipameri itu. Dengan penyadaran ini insya Allah akan terpatahkan niat yang tidak ikhlas tersebut. Niat yang ikhlas tetap harus dilaksanakan, meskipun dalam menjalankan atau memberikan sesuatu perlu diperlihatkan dengan tujuan tertentu. Semisal memberi infak dengan dinyatakan di depan umum untuk memberi motivasi kepada orang lain untuk membantu kepentingan tertentu.

Atau memberi contoh kepada yang lain agar menirunya, berdasarkan kepada Alquran: ''Jika kamu nampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali, dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu'' (al-Baqarah/2:271). Dan jika diperlihatkan akan mendapat dua pahala, yakni pahala amalnya dan pahala ditiru oleh orang lain, tanpa dikurangi pahalanya sedikit pun (al-Hadits).(12)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA