| Jumat, 26 Agustus 2005 | NASIONAL |
Semiloka Pendidikan PancasilaPerlu Pemberdayaan Lembaga KontrolTEGAL- Idealisme media massa untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila sekarang ini cenderung luntur. Hal itu disebabkan oleh persaingan bisnis yang mengejar laba semata, tanpa menghiraukan kepribadian. Karena itu, perlu pemberdayaan masyarakat dengan cara meningkatkan fungsi lembaga kontrol. Menurut Asisten Direktur Suara Merdeka Drs Adi Ekopriyono MSi, kecenderungan media massa sekarang hanya mengejar laba demi kepentingan bisnis. ''Akibat persaingan bisnis media massa punya frame sendiri, sehingga jika dikaitkan dengan kepribadian Pancasila sudah luntur,'' katanya dalam Semiloka Pendidikan Pancasila di Kota Tegal, kemarin. Dia mengatakan, akibat persaingan bisnis yang berorientasi pada laba, media massa itu miskin wacana. Ini tentu saja membawa konsekuensi berita yang disampaikan ke publik hanya merupakan rekonstruksi peristiwa yang berpihak ke pasar. Lembaga Kontrol Dia mencontohkan, media elektronik yang mengumbar pornografi dan menayangkan atribut bendera kelompok yang mengarah ke disintegrasi bangsa. ''Kalau dipikir, di mana rasa nasionalismenya? Tentu saja kalau dilihat dari kepribadian sudah luntur. Makanya, saya setuju untuk mewujudkan kepribadian Pancasila dengan memberdayakan lembaga kontrol semacam LSM dan ombudsman karena terjadi relasi yang tidak seimbang antara media, pemerintah, dan masyarakat. Media masih terlalu dominan untuk pembentukan pendapat umum.'' Kendati demikian, tidak semua media massa berwajah buruk. Masih cukup banyak media massa melakukan fungsi kontrol yang mengawasi pemerintahan, agar tidak menyimpang dari kepribadian Pancasila. Ini terbukti banyak media yang masih konsisten mengkritisi korupsi dan ancaman disintegrasi bangsa. Wali Kota Tegal Adi Winarso SSos yang diwakili Wakil Wali Kota Dr Maufur MPd dalam kesempatan itu mengatakan, konsep manusia seutuhnya yang berdasarkan Pancasila bersifat integralistik yang disesuaikan dengan struktur sosial masyarakat Indonesia. Pembangunan yang difasilitasi pemerintah di era otonomi bukanlah untuk menggeser pencapaian cita-cita yang telah dirumuskan bangsa ini, namun dalam rangka memperkuat dan memperkukuh sendi-sendi dalam pelaksanaannya. Prof Dr Lasiyo dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai, implementasi Pancasila sebagai stabilitas dan pembangunan nasional masih dihadapkan berbagai permasalahan, di antaranya sebagian warga belum memiliki pemahaman yang memadai dan persepsi yang sama sehingga dalam mengimplementasikan masih ditemukan kejanggalan. Karena itu, perlu dirumuskan metode dan cara implementasi nilai Pancasila secara komprehensif integral melalui pendekatan dialogis persuasif dan penanaman pengetahuan baik secara formal maupun normal. (G12-46t) |