logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 26 Agustus 2005 MURIA
Line

Gelar Panggung Rakyat 2005

Selalu Ada Pertanyaan soal Merdeka

SERASA lengkap gelar Panggung Rakyat 2005 yang diprakarsai Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Jepara dan terselenggara di halaman depan gedung DPRD Jepara, Rabu (24/8) malam. Kalangan birokrasi, wakil rakyat, akademisi, masyarakat, LSM, dan seniman, kumpul menjadi satu dan secara bergantian mengungkapkan perasaanya tentang "Merdeka untuk Siapa?"

Adalah Bupati Jepara, Drs H Hendro Martojo MM, yang tampak begitu bersemangat. Dia mendapat giliran pertama untuk menggemakan puisinya di depan ratusan pengunjung yang mulai kedinginan dengan tiupan sepoi angin malam. Hendro membacakan puisi berjudul "Jeparaku, Jeparamu, Jepara Kita" yang ia tulis di layar ponselnya. Dengan sendiri duduk di undakan pintu masuk gedung yang menjadi latar acara, ia gemakan satu demi satu bait puisi berbahasa Jawa itu.

"Aku wong Jepara, sing wadon ayu sing lanang sembada, yen kabeh nyambut gawe, sing sengkut ngisi kamardikan. Lumaku terus, terus lumaku, aja leren-leren. Delengen wae, ana sing isih papa, ana sing isih nelangsa, ana sing ora bisa sekolah, ana sing ora bisa nyambut gawe. Sing penting maju terus, ngawal apa wae, sing gawe masyarakat maju, sing gawe masyarakat luwih pinter. Ibu Pertiwi nunggu jawaban pitakonmu dhewe...." Sampai bait ini mendadak Hendro berhenti. "Maaf, ada telepon masuk," celetuknya. Kontan saja insiden itu membuat pengunjung terpingkal.

Dia mencoba mengurai, masih banyak tugas dari setiap pribadi untuk memaknai dan mengisi kemerdekaan. Bertanya tentang hakikat kemerdekaan adalah salah satu langkah positif.

Jika Hendro dalam Panggung Rakyat itu mempersilakan setiap orang untuk bertanya tentang hakikat kemerdekaan, maka Sa'dullah Assa'idi, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Kudus, lebih jelas memaknai hakikat dan untuk siapa kemerdekaan itu. Pria asal Jawa Timur itu menyebut konsistensi jiwa sebagai inti kemerdekaan.

"Dalam Islam, orang sering menyebutnya dengan istikamah," tuturnya analitik.

Ia lantas mendedah sabda Rasulullah SAW bahwa tidak akan istikamah iman seorang hamba sebelum hati, lisan, dan amalnya juga istikamah. Sebaliknya ia berujar, selagi hati, lisan, dan amal seseorang tak istikamah, yang kerap muncul adalah kemunafikan.

"Saya menyebut introspeksi sebagai langkah awal penting untuk mengisi kemerdekaan. Dalam batas minimal, setiap pribadi bisa melakukannya. Tanpa ini, slogan merdeka tak lebih dari omong kosong," ujarnya. Lantas untuk siapa kemerdekaan itu?

"Pada hakikatnya, kemerdekaan adalah untuk setiap jiwa yang konsisten," imbuhnya.

Mengingatkan Generasi

Selanjutnya Nurul Aini SPd SIP, Ketua Komisi C DPRD, mengingatkan generasi Jepara untuk meneladani para pendahulu seperti keadilan Ratu Shima, kegigihan Ratu Kalinyamat, dan kearifan Sultan Hadlirin (waliyullah yang juga suami Ratu Kalinyamat).

Secara beruntun Kakandepag Drs H Surandim Ahmad SH melantunkan puisi berjudul "Edan" yang mengungkap hakikat kegilaan adalah gila harta, wanita, dan jabatan. Sementara itu seniman Ali Emje melantunkan "Konser Air Mata" disusul seniman-seniman lainnya dengan pesan puisi yang mengusik slogan merdeka. Mereka sepertinya menyadari betapa selalu ada pertanyaan kemerdekaan.

Acara tersebut bertambah gayeng karena diselingi grup band Pribumi asal Kelurahan Krapyak, Jepara yang mengusung lagu-lagu milik Iwan Fals seperti "Sarjana Muda" dan "Bento". (Muhammadun Sanomae-17n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA