| Jumat, 26 Agustus 2005 | MURIA |
Di Wilayah PatiWarga Sulit Cari Minyak TanahPATI - Sejumlah warga Kabupaten Pati, beberapa hari terakhir mulai kesulitan memperoleh minyak tanah. Mereka yang selama ini mengunakan minyak tanah untuk memasak atau untuk keperluan lain itu mengeluhkan hal tersebut. Berdasar pantauan di lapangan, sebenarnya jatah untuk pangkalan minyak tanah selalu dipenuhi para agen yang tergabung dalam Hiswana Migas. Akan tetapi, begitu disalurkan ke pangkalan yang harga eceran tertingginya Rp 985/liter, minyak sudah menghilang dalam waktu sesaat. Menurut salah seorang pemilik pangkalan minyak tanah di Jalan Rogowangso Zaenuri, dia memperoleh jatah dari agen rata-rata delapan drum/hari. Setiap drum itu berisi 200 liter atau total 1.600 liter. Dia membenarkan, di tingkat pengecer dijual Rp 1.000/liter. Akhir-akhir ini juga banyak pembeli yang sejak subuh sudah mengantrekan jerigen di trotoar depan toko dan pangkalan minyak miliknya. Mereka adalah ibu-ibu bakul yang berangkat berjualan di pasar. Dengan demikian, saat pulang sudah memperoleh minyak tanah yang mereka butuhkan. Bagi pembeli lama atau langganan, biasanya beri jatah 10 liter/hari. "Namun untuk pembeli baru, paling banyak hanya bisa kami beri tiga liter," ujarnya. Dijual Lagi Salah seorang ibu rumah tangga yang mengaku membuka usaha warung makan kecil-kecilan Ny Nur, sudah beberapa hari ini mengaku kesulitan mencari minyak tanah. Padahal untuk keperluan memasak dalam satu hari, paling tidak menghabiskan lima liter. Karena itu, ketika di lingkungan tempat tinggal tak lagi ada penjual yang bisa melayani, dia harus mencari ke pangkalan minyak di sekitar Pasar Rogowangsan. Jika melihat jumlah jerigen yang antre, bahkan sampai ada yang membawa becak, tak tertutup kemungkinan barang itu bukan untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Dengan kata lain, ada kemungkinan becak-becak yang mengangkut jerigen itu disuruh orang lain. Mereka dimintai tolong orang lain mengantrekan jerigen dan mendapat upah dari pekerjaan itu. Meski demikian, tukang becak tidak mau menyebutkan siapa orang yang menyuruh dan berapa upah yang dia dapat. Jika kondisi ini terus terjadi, penyaluran minyak tanah bersubsidi untuk rakyat itu hanya isapan jempol belaka. "Apakah pemerintah akan membiarkan hal ini terus berlangsung tanpa ada pengawasan dan tindakan apa-apa?" tanya Ny Nur. (ad-54m) |