logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 25 Agustus 2005 SALA
Line

Mengenalkan Arsip sebagai Warisan Budaya

ADA pemandangan yang berbeda di Gedung KNPI Sragen, Rabu (24/8) kemarin. Tak seperti biasanya, tempat tersebut dipenuhi papan-papan yang sudah ditempeli foto-foto lama.

Menariknya, sebagian besar dari foto-foto itu adalah foto lama yang banyak mengungkap tentang perjalanan sejarah bangsa di masa lalu. Lihat saja, misalnya, foto pengibaran bendera merah putih bersamaan dengan saat dibacakannya teks Proklamasi Kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Atau lihatlah pula, bagaimana wajah dari Kantor Perhewanan Kabupaten Dati II Sragen yang pernah dibidik kamera pada sekitar 1954.

Begitulah, di antaranya apa yang terlihat dalam Pameran Arsip dengan tema "Arsip sebagai warisan budaya bangsa''.

Pameran yang digelar selama dua hari, mulai 24 hingga 25 Agustus, tersebut diselenggarakan oleh Badan Arsip Daerah Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sragen.

Sebagaimana tema yang diangkat, pameran tersebut memang banyak menghadirkan catatan-catatan sejarah yang pernah mengiringi bangsa Indonesia. Seperti terlihat kemarin, catatan sejarah itu bukan hanya diungkapkan dalam bentuk foto, namun juga dalam wujud rekaman film dokumenter, tekstual (surat), dan gambar.

''Selain untuk memeriahkan HUT Ke-60 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi Ke-55 Provinsi Jawa Tengah, kami juga berharap kegiatan tersebut bisa untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap nilai budaya dan nilai kebangsaan,'' ujar Kepala Badan Arsip Daerah Provinsi jawa Tengah, Dra Rosiana Sahli, dalam sambutannya.

Cukup Diminati

Barangkali saja, apa yang diharapkan oleh Rosiana Sahli itu tidaklah sia-sia. Setidaknya, seperti yang terlihat kemarin, pameran itu memang cukup mendapatkan perhatian dari masyarakat, khususnya bagi anak-anak sekolah. Banyak siswa SD yang bukan hanya sekadar hadir, namun juga menjadikan pameran itu sebagai reverensi.

Simak, misalnya, dengan apa yang dilakukan oleh para siswa dan siswi SD Muhammadiyah I Sragen, yang kemarin mengunjungi pameran itu. Dengan bimbingan dua guru mereka, yakni Sukamtini dan

Sutrisno, para siswa itu telah menjadikan pameran tersebut seperti gudang literatur untuk mendukung pendidikannya.

Di salah satu sudut, beberapa siswa tampak telaten mengamati foto-foto dengan seksama. Bahkan mereka tidak hanya melihat, namun juga satu demi satu mencatat keterangan fotonya. Sementara itu di sudut lain, beberapa siswa terlihat ada yang memiliki kesibukan berbeda; melihat film dokumenter melalui layar yang terpasang di sudut ruangan.

''Pameran seperti itu memang sangat berguna bagi para siswa. Setidaknya untuk anak-anak SD, bisa menjadi bahan literatur untuk mendukung mata pelajaran IPS dan PPKn,'' ujar Sukamtini, diiyakan Sutrisno.

Dengan kenyataan seperti itu, maka tema yang diangkat rasanya memang mengena. Paling tidak, itu sudah dirasakan oleh murid-murid SD Muhammadiyah I Sragen. Bagi mereka, semakin banyak arsip yang dipamerkan, semakin banyak pula wawasan literatur yang didapatkan.

Kebetulan, arsip-arsip yang dipamerkan itu adalah rekaman peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu antara 1851 hingga masa sekarang. Jadi, betapa bergunanya ketika Badan Arsip Pemprof dan Pemerintah Kabupaten menghadirkan ratusan foto, puluhan surat, dan juga sejumlah film dokumenter yang pernah menjadi saksi bisu perjalanan bangsa Indonesia.(Wisnu Kisawa-16a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA