| Kamis, 25 Agustus 2005 | PANTURA |
HUT Ke-383 Kabupaten PekalonganTak Hanya Memindahkan Bangunan FisikHARI INI, Kamis (25/8), Kabupaten Pekalongan memeringati HUT Ke-383. Sang Merah Putih, spanduk, dan umbul-umbul warna-warni sudah sepekan lalu memenuhi Kota Kajen, ibu kota Kabupaten Pekalongan yang baru berusia empat tahun. Usia 383 tahun memang bukan usia muda bagi kabupaten berpenduduk 849.928 jiwa itu. Sejak 1622 yang dijadikan sebagai tahun resmi berdirinya Kota Santri, telah melewati berbagai sejarah baik pada masa Kerajaan Mataram, pemerintahan Hindia Belanda, sampai pascakemerdekaan. Peringatan HUT tahun ini menandai banyaknya perkembangan yang telah dilalui daerah yang kini mempunyai luas wilayah 836,13 km2. Peringatan kali ini juga menjadi monumen pada akhir masa pemerintahan Bupati Drs H Amat Antono dan Wakil Bupati Dra Hj Siti Qomariyah MA. Sejak pelantikan mereka pada Juni 2001 lalu itu, daerah yang terdiri atas 19 kecamatan, 270 desa, dan 13 kelurahan itu telah banyak mengalami perubahan bentuk. Pemindahan ibu kota dari Jalan Nusantara Kota Pekalongan ke Kajen menjadi monumen bagi masyarakat Kota Santri. Selepas itu, secara sporadis berbagai bangunan fisik berdiri di Kota Kajen dan lima tahun lebih dikenal sebagai daerah pelosok. Dari mulai alun-alun, gedung Pemkab, pendapa, gedung DPRD, Majid Agung Al Muhtarom, Mapolres, Kejari, berbagai gedung dinas dan instansi lain, serta RSUD Kajen yang hari ini akan diresmikan. Dalam berbagai kesempatan, Bupati Drs H Amat Antono selalu menegaskan, memindahkan ibu kota tidak hanya memindahkan bangunan fisik namun memindahkan kehidupan. Dengan demikian, pendirian fasilitas publik seperti rumah sakit adalah keharusan. Meski berawal dari titik nol, bukan berarti membuat daerah itu stagnan. Perlahan berbagai perkembangan telah dilalui daerah yang tahun lalu mempunyai pendapatan Rp 311 miliar. Secara makro, pertumbuhan ekonomi tahun lalu juga meningkat 4,03% atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya, yaitu 3,57%. Hal itu dipengaruhi pertumbuhan berbagai sektor, seperti perdagangan pertanian dan sektor jasa. Jumlah penduduk miskin juga berkurang dari 211.824 pada 2003 menjadi 182.734 jiwa (21,50%) pada 2004. Diseimbangkan Di bidang pertanian, produksi pangan surplus 79.450,50 ton. Berbagai potensi yang dimiliki, seperti pertanian, perdagangan, peternakan, serta wisata, menurut pandangan Antono, menjadi penyemangat untuk bergerak lebih maju. "Landasan ke depan telah kita miliki. Tekad, kerja keras, dan kebersamaan akan mengisi kekurangsempurnaan itu," ujarnya saat memaparkan pencapaian empat tahun kepemimpinannya, belum lama ini. Ketua DPRD Asip Kholbihi menandaskan, pembangunan fisik yang mendominasi Kajen ke depan harus lebih diseimbangkan dengan daerah lain. Dengan demikian, kesan Kajen sentris dan ketimpangan pembangunan bisa hilang. "Daerah-daerah penyangga lain di Kabupaten Pekalongan juga harus mendapat perhatian lebih," ungkapnya, kemarin. Selain menyeimbangkan dalam artian pemerataan wilayah, pembangunan ke depan juga harus imbang dalam artian bentuk. Pembangunan fisik harus diimbangi dengan pembangunan mental dan nonfisik lain sehingga penciptaan budaya dan mental masyarakat ataupun penyelenggara pemerintahan bisa terus diperbaiki. (Muhammad Burhan-52j) |