| Kamis, 25 Agustus 2005 | WACANA |
Surat PembacaRondiyah, Kau di Mana ?Kami tiga bersaudara, Rondiyah bin Djumar (30) terakhir kabarnya tinggal di Semarang, Marliyah bin Djumar (25) Plandaan RT 2/RW 2 Jengglungharjo Kecamatan Tanggunggunung, Tulungagung dan Slamet Riyadi alias Nur Khamim (24) Karang Jengkol RT 9/RW 3 Kutasari Purbalingga. Kami terpisah sejak kecil karena kedua orang tua kami asal Desa Kebonodem Kecamatan Brangsong, Kendal meninggal dunia. Sampai sekarang kakak (Rondiyah) tidak diketahui keberadaannya. Kami merindukan. Kepada pembaca yang mengetahui keberadaannya mohon memberitahu kami atau kades Kebonadem di 081 565 78108. Marliyah Plandaan Rt 2/Rw 2 Jengglungharjo Tanggunggunung, Tulungagung *** Tentang BNI Undip Surat Pembaca saya yang dimuat 15 Agustus 2005 mengenai kassa BNI Undip, masalah tersebut telah diselesaikan secara baik dan kekeluargaan oleh Bpk Richardo Monggur Hutahaean SE selaku pimpinan BNI Undip dan Bpk Dwi Djatmoko pada hari itu juga. Terima kasih atas kesigapan dalam menyelesaikan masalah. semoga dapat lebih meningkatkan mutu pelayan. Desty P Setyaningsih Jl Wahyu Temurun VII-24, Semarang *** Soal BRI Kalierang Saya Daroji loper koran, tinggal di Dukuh Karangdempul RT 2/RW 7 Desa Jatisawit, Bumiayu Brebes, merasa kaget setelah mencermati Surat Pembaca 18 Agustus 2005 tentang "BRI Kalierang". Saya bukan peminjam/penabung bank tersebut, tetapi nasabah BRI Unit Kaliwadas. Saya juga tidak pernah mengirimkan surat tersebut. Untuk itu saya mohon maaf kepada BRI Unit Kalierang dan kepada Suara Merdeka mohon kembalikan nama baik BRI Unit Kalierang. Daroji -Kedua surat memakai fotokopi KTP yang nomor maupun berlaku serta tandatangannya sama-Red *** Surat dari Sukorejo Salam sejahtera kepada semua pembaca. Saya pendatang baru penulis di rubrik Surat Pembaca dengan rendah hati dan tulus ingin berkenalan, berjabat tangan dan menyapa khususnya kepada Joko Suprayoga (kebetulan sama-sama orang Sukorejo, Kendal). Ariyo Widiyanto AMd (Cepiring Kendal). Juga kepada Ahmad Fahruddin (Bawang, Batang). Djzim Ngazmi (Blora). Siti Jazimah (Salam Magelang). Mereka ini penulis produktif Surat Pembaca Suara Merdeka serta kepada lainnya, yang tak dapat saya sebutkan satu-persatu dan kepada seluruh anggota Surat Pembaca Fans Club. Harapan saya, semoga rubrik ini menjadi media bagi publik untuk mempererat persaudaraan antara sesama anak bangsa, dialog, tukar informasi, tukar pikiran dan wawasan, komplain. Juga lebih dari itu, menjadi forum untuk menyuarakan kaum "pinggiran" lewat tulisan. Tulisan tersebut terkadang menggelitik, menyindir. mengeritik dan mengkritisi setiap perkembangan, perubahan dan dinamika yang ada di sekitar kita. Masyarakat belajar untuk berani menjadi "juru bicara kebenaran", walau konsekuensi dan resikonya tidak ringan, dibenci, dikucilkan, diancam serta disingkirkan. Marilah semua ambil bagian untuk melakukan "kontrol ketat" terhadap jalannya roda pemerintahan di era civil of society. Bila ada salah dalam menulis dan merangkai kata, mohon maaf dan saya tunggu tanggapan, pendapat, saran dan kritiknya. Bravo Surat Pembaca Fans Club. S Joko Wiyono Sudagaran Sukorejo, Kendal *** Hadiah Beli Honda FIF telah menanggapi Surat Pembaca saya yang dimuat 18 Agustus 2005 dengan mengirim utusannya ke kantor saya dan menjelaskan segala sesuatunya dengan baik. Dengan ini maka permasalahan saya dengan FIF selesai. Sussetyadi Handoko Jl Gombel Permai VII/118, Semarang *** Simbol Korupsi Dalam tayangan layar kaca untuk pemberitaan yang berhubungan dengan dugaan korupsi selalu menggunakan simbol uang ratusan ribu rupiah bergambar Proklamator lengkap dengan gambar tikus. Apakah untuk menggambarkan uang tidak ada simbol lain yang tepat. Menurut saya lebih baik diganti dengan kantong uang karena sang Proklamator dilecehkan oleh tikus-tikus yang menggerogoti uang rakyat. Sudah sepantasnya lembaga yang mengatur pemberiataan menentukan sikap untuk menghormati pahlawan Proklamator. M Bachrun BSc Jl Kalipucung 7 Rt 6/Rw 9 Kendal *** Salut soal Cheng Ho Salut, kata itulah yang terlintas dalam benak saya karena masyarakat dan Pemkot Semarang masih memiliki kepekaan terhadap pelestarian kebudayaan. Salah satunya diwujudkan dalam "Peringatan 600 th Pelayaran Cheng Ho" yang bertaraf internasional ini. Ternyata di tengah situasi kota yang kotor oleh tumpukan sampah dan ancaman rob yang datang kapan saja, Pemkot dan panitia bisa menghadirkan sisi lain kota. Jalan-jalan semarak oleh lampion dan ornamen bercirikan negeri China, kelenteng kelenteng dihias sebagai salah satu magnet penarik wisatawan. Tak tanggung-tanggung panitia juga menghadirkan replika kapal Laksamana Cheng Ho dan sederet acara yang dijamin meriah dan memukai pandangan mata. "Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui" ini mungkin peribahasa yang pas untuk peringatan kali ini, Dalam acara ini rekor Muri terpecahkan, yaitu bermain barongsai terlama. Peringatan kali ini benar-benar gawe yang luar biasa karena melibatkan ratusan pendukung acara. Saya yakin keberhasilannya tak hanya melibatkan salah satu pihak saja dan tak bisa dipungkiri media massa berperan sekali. Salah satunya ya Suara Merdeka yang tak pernah lupa untuk memuat jalannya acara dan menyuguhkan informasi seputar Cheng Ho. Saya berharap keberhasilan peringatan kali ini dapat diterapkan Pemkot dalam acara lain, misal dugderan yang sebentar lagi akan datang. Pokoknya salut deh buat Semarang. Veronica Eka Sari P Jl Welirang I/44, Semarang *** Warga Dambakan SMUN Sawangan Di tahun 60-an saya bersekolah di SMA I Magelang yang jaraknya sekitar 16 kilomter dari kampung saya di Kecamatan Sawangan. Waktu itu saya beserta teman-teman ada yang berjalan kaki kemudian naik kereta dari stasiun Blabag dan ada juga yang naik sepeda ontel sampai ke sekolah. Sekarang, empat puluh tahun dari masa SMA saya, murid-murid SMU dari Kecamatan Sawangan masih harus sekolah SMU di Kota Magelang atau di kecamatan lain karena di Sawangan belum ada SMU Negeri seperti kecamatan lainnya. Tidak tahu mengapa Sawangan satu-satunya kecamatan yang belum ber-SMU Negeri. Memang para murid sekarang lebih beruntung tidak harus jalan kaki atau naik sepeda ontel, karena sudah ada angkodes atau bus; tetapi biayanya mencapai kurang lebih Rp 5.000/hari. Mohon Bpk Bupati mempertimbangkan SMU Negeri di daerah saya. Saya yakin masyarakat akan sangat berterima kasih dan mau diajak berpartisipasi untuk terwujudnya permohonan ini. Sumartoyo Sawangan Rt 4/Rw 2, Magelang |