logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 23 Agustus 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Stop, Korban KA

Masih amankah bepergian dengan transportasi kereta api. Itu kira-kira yang ada dalam benak masyarakat. Bagaimana keraguan itu tidak muncul dari tahun ke tahun, ganti dirut, menhub tapi ada saja kecelakaan KA ini. Misal KRL menabrak KRL yang sedang lansir di Pasar Minggu Jakarta baru-baru ini.

Di Ketanggungan Barat KA mena-brak kereta yang sedang lansir, di Sumpiuh kereta api terguling karena relnya bergeser disodok atap mobil boks dan lainnya. Belum lagi KA nabrak mobil, bus, truk di berbagai perlintasan. Inilah potret buruk perkereta-apian saat ini.

Evaluasi, modernisasi dan perbaikan manajemen adalah kalimat yang selalu keluar dari menhub berganti menhub setiap kali ada kecelakaan. Buktinya, radio panggil dengan suara ''byar pet'' masih tetap dipakai masinis, lampu sinyal yang redup, perlintasan tidak berpalang sudah banyak memakan korban.

Saya dengan keterbatasan wacana mencoba urun rembuk sbb:

Infrastruktur. Modernisasi sistem komunikasi, rambu-rambu dan lain-lain. Kontrol jalur rel secara ketat, termasuk pemasangan portal jembatan di atas jalan kendaraan umum. Pemasangan palang pintu di semua persilangan jalan umum.

SDM (khusus untuk jabatan masinis, Pengatur Perjalanan Kereta Api, pengontrol rel kereta api, penjaga pintu dan lain-lain harus ada perhatian khusus, karena menyangkut keselamatan orang banyak. Rekrutmen harus bersih dari KKN, memenuhi standar intelektual, emosional dan spiritual.

Adakan cek kesehatan fisik dan mental, safety meeting berkala untuk penyegaran akan pentingnya keselamatan kerja. Ada pendekatan keadilan dan manusiawi, dengan memberikan kelebihan gaji, tunjangan kesejahteraan apapun bentuknya dibandingkan jabatan lain yang setingkat.

Keuangan. Bisa menggandeng atau bermitra dengan pihak swasta untuk penyegaran keuangan yang akhirnya bisa meningkatkan kinerja. Subsidi dari pemerintah untuk kereta ekonomi dan lain-lain harus tepat waktu.

Arif Budiadji

Jl Kalibener 453 Kranji, Purwokerto

***

Perekrutan Guru

Saya setuju dengan berita sistem perekrutan guru bantu melalui tahapan lama wiyata bakti dan usia

Hal ini karena selama ini nasib guru bantu (GB) dan guru tidak tetap (GTT) yang sudah lama mengabdi kurang menjadi pertimbangan. Mohon pihak terkait bertindak lebih adil dibanding tahun lalu.

Contoh, sudah wiyata bakti puluhan tahun tidak diterima, tetapi yang sama sekali belum mengabdi atau baru wiyata bakti beberapa bulan diterima jadi PNS. Kalau pertimbangan diterima berdasarkan hasil tes akademik GB/GTT yang sudah lama mengabdi akan kalah nilainya, karena rata-rata mereka sudah memikirkan kebutuhan keluarga.

Kelebihan mereka sudah berpengalaman, tahu dan paham daerah/medan yang ditempuh sehingga tidak diragukan lagi kemampuannya. Contoh, pengangkatan perangkat desa selain kades dan kadus, wiyata bakti sebagai andalan utama untuk diusulkan menjadi perangkat desa.

Eko Sumartono SPd

Sendangsoko Rt 7/Rw 2 Jakenan, Pati

***

Guru Kontrak Depag

Sudah dua kali proses perekrutan guru kontrak Depag yang menurut pendapat saya kurang manusiawi, karena membuat pontang-panting pelamar bahkan ada yang tidak tahu. Padahal itu hak mereka (GTT) di lingkungan madrasah. Saya heran kenapa kepala sekolah tak tahu pengumuman pengadaan guru kontrak.

Kalau pun tahu mungkin sudah hari kedua atau terakhir pendaftaran, serta persyaratan belum lengkap. Tolong dengan hati nuraninya para pejabat tinggi Depag yang membuat kebijakan ini ditinjau lagi. Membuat gundah, kecewa karena merasa hak untuk mendaftar dan memenuhi persyaratan harus kandas akibat pengumuman yang tidak sampai pada madrasah atau sekolah masing-masing.

Eko Sumartono SPd

Sendangsoko Rt 7/Rw 2 Jakenan, Pati

***

Tanggapan Cheng Ho yang Menangis

Untuk Bpk Haryanto HS di Semarang sebaiknya sebelum menulis tanggal 30-7-2005 sebaiknya tanya dulu tentang dewa agar tidak terjadi kesalahpahaman. Saya ingin meluruskan pernyataan Bpk Sindu Dharmali bahwa Bung Karno pun bisa dijadikan dewa.

Siapa pun orangnya apa pun bangsanya dan agamanya bisa saja dijadikan dewa oleh orang-orang yang percaya dan kagum pada orang tersebut. Cara memberi penghormatan pada dewa atau menyembah dewa adalah dengan cara orang-orang yang percaya atau orang yang menjadikan dewa itu sendiri.

Bukan dengan cara atau agama si dewa dan dewa tidak mungkin dijauhi sesama bahkan semua orang boleh memberi penghormatan kalau benar-benar percaya.

Saya orang aliran kepercayaan ingin menjadikan Bpk Haryanto sebagai dewa karena saya kagum dan percaya, walau Bpk beragama lain.

Tetapi cara saya memberi penghormatan pada Bpk memakai cara saya sendiri. Ada altar, patung, lilin, dupa dan sesaji. Pertanyaan, apakah tidak lebih kacau kalau saya memberi penghormatan pada Bpk pakai cara agama yang Bpk anut. Mohon direnungkan!

Benny Usman

Jl Sedompyong II/28, Semarang

***

Renungan Agustus bagi Orang Kampung

Setiap bulan Agustus Bangsa lndonesia mengenang dan merenungkan kembali para Pejuang Kemerdekaan. Betapa cerdasnya dan cermatnya para tokoh kemerdekaan, dengan semangat dan pengorbanannya, bukan hanya mampu mengantarkan negeri ini merdeka, tetapi sekaligus mampu menyiapkan/merumuskan pirantinya.

Pertama, Bangsa Indonesia Merdeka, bukan merupakan pemberian dari Belanda atau Jepang. Kedua, para tokoh Kemerdekaan mampu merumuskan/menyiapkan sistem demokrasi sendiri sehingga tidak mengadopsi/menganut negara lain.

Ketiga, para tokoh juga mampu merumuskan sistem perekonomian melalui koperasi yang dulu disahkan menjadi soko guru ekonomi bangsa. Yang menjadi pertanyaan, mengapa koperasi sekarang tidak lagi menjadi soko guru ekonomi bangsa.

Padahal di saat bangsa mengalami krisis moneter, satu-satunya lembaga ke-uangan swasta yang tidak kolaps adalah Koperasi Simpan Pinjam Jasa atau dikenal Kospin Jasa yang berkantor pusat di Pekalongan.

Kami orang kampung beranggapan, saat ini yang dibutuhkan bangsa adalah berdiri tegak, lurusnya jiwa besar dan budi luhur di setiap tingkatan pemimpin. Demikian cara orang kampung dalam merenungkan bulan Agustus ini, semoga bangsa Indonesia lebih maju darl sebelumnya.

Turadi S

JI.Sundoro 28 Kauman, Batang

***

Soal Survey Bank Mandiri

Menindaklanjuti Surat Pembaca saya berjudul ''Survey Bank Mandiri'' yang dimuat tanggal 7 Agustus 2005, saya mengucapkan terima kasih kepada PT Bank Mandiri Semarang (Kanwil VII Pemuda dan CLPC Semarang). Atas penjelasan yang diberikan, saya tidak ada ganjalan lagi dan permasalahan saya dengan Bank Mandiri sudah selesai.

Drs. Hartono

Klipang Permai Blok J-113 Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA