logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 22 Agustus 2005 RAGAM
Line

Keberadaan Manusia lewat Suatu Proses (3)

Kagumi Ketaqwaan Seseorang

DALAM ayat lain, Alquran dengan sangat tegas melarang kita melirik kesuksesan duniawi yang diperoleh orang lain. Kagumilah seseorang bukan lantaran harta atau pangkat yang dimilikinya, tetapi karena kesucian hati (ketaqwaan) yang berhasil dibangunnya.

- ''Janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kamu cobai mereka dengannya.'' (Thaahaa:131)

- ''Janganlah kamu sekali-kali menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan diantara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.'' (Al-Hijr:88)

Bila kebetulan kita termasuk orang yang dikaruniai banyak harta, maka hendaklah disadari, bahwa harta itu letaknya harus selalu di tangan. Jangan biarkan ia menguasai hati. Ingatlah harta cenderung mengajak pemiliknya untuk membangkang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Nabi Muhammad saw. pun tampaknya sangat menyadari betapa beratnya beban bila dititipi harta yang melimpah. Sikap ini tampak jelas pada perilaku hidupnya yang terkenal sederhana.

Pada salah satu hadistnya diriwayatkan, Rasulullah bersabda: ''Tuhanku telah menawarkan kepadaku untuk menjadikan lapangan di kota Mekah menjadi emas. Aku berkata, 'Jangan Engkau jadikan emas wahai Tuhan! Tetapi cukuplah bagiku merasa kenyang sehari, lapar sehari. Apabila aku lapar, maka aku dapat menghadap dan mengingat-Mu, dan ketika aku kenyang aku dapat bersyukur memuji-Mu.''(HR Ahmad & Turmudzi).

''Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan hartamu, tetapi Allah melihat kepada hati dan amalmu.''(HR. Muslim).

Tentu kita sekarang mengerti, kehidupan di dunia ini haruslah dijadikan arena untuk mengumpulkan pahala. Mengumpulkan pahala tidaklah mudah. Diperlukan perjuangan lahir dan batin untuk melawan godaan nafsu/setan yang menyesatkan. Untunglah Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang melengkapi kita dengan ''alat'' yang dapat memudahkan pengumpulan bekal akhirat ini. Alat yang dimaksud adalah seluruh fasilitas yang kita miliki, yaitu dapat berupa harta dan benda, keluarga, pekerjaan, dan lain-lain. Fasilitas ini tentu saja tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus kita cari dengan gigih.

Firman Allah: ''Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu dan carilah karunia Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.''(Al-Jumu'ah:10). Seluruh fasilitas yang kita miliki, pada hakikatnya adalah hanya sarana untuk kelancaran bertaqwa. Dengan demikian, semakin banyak fasilitas yang kita miliki, maka kualitas taqwa kita pun tentunya harus semakin lebih tinggi.

Dengan memiliki banyak uang misalnya, memudahkan kita bersedekah, menolong orang susah, menyantuni anak yatim, membahagiakan orang tua, melaksanakan ibadah haji, dan lain sebagainya. Dengan memiliki kendaraan, maka kita tidak perlu mengeluarkan banyak energi atau pun naik bus yang penuh dan sesak. Dengan demikian badan kita tetap segar sampai tujuan. Bagaimana dapat shalat dengan baik kalau badan dan pikiran kita lelah? Pekerjaan yang kita miliki, termasuk fasilitas untuk melancarkan taqwa juga. Bila kita tidak memiliki pekerjaan atau tiba-tiba dipecat, maka semangat hidup dapat turun, frustasi dan depresi mental pasti terjadi. Bagaimana dengan kondisi seperti ini dapat diharapkan menghasilkan taqwa yang berkualitas baik?

Pangkat atau kedudukan yang dimiliki juga untuk mempermudah bertaqwa. Dengan pangkat yang tinggi, maka akan mempermudah menghasilkan kualitas taqwa yang lebih baik dibandingkan dengan pegawai rendahan. Keluarga (suami/istri dan anak) saqinah yang dimiliki, itu pun merupakan fasilitas untuk melaksanakan taqwa. Mereka itu pun menjadi pelipur lara yang membuat hati akan lebih mudah untuk melaksanakan taqwa.

Bila kita sedang diserang penyakit malas ataupun merasa jenuh dalam bertaqwa, maka renungkanlah sejenak akan tujuan hidup kita di dunia, lalu gunakan fasilitas yang kita miliki untuk mengusir kemalasan/kejenuhan itu. Misalnya bercengkrama dengan keluarga, ataupun pergi ke tempat hiburan yang dapat menghilangkan perasaan itu.

Jadi jelaslah, fasilitas atau materi yang kita miliki gunanya hanya untuk menunjang kelancaran pelaksanaan taqwa. Bila kita telah menghayati hal ini, maka insya Allah kita tidak akan silau oleh materi ataupun kedudukannya. Karena sesungguhnya, semua itu dititipkan Allah kepada kita semata-mata sebagai alat untuk meningkatkan ketaqwaan saja.

Allah menciptakan surga dan neraka, yang kelak akan diisi oleh manusia. Tempat dimana nanti kita berada? Surga atau neraka, akan ditentukan melalui proses kompetisi yang panjang selama hidup di dunia. Yakni kompetisi dalam mengumpulkan pahala. Kompetisi ini berakhir pada waktu kita mati, karena tidak ada kesempatan pengumpulan pahala lagi setelah kita mati.

''Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagi manusia, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.(Al-Kahfi:7).(Tim Kajian Qolbun Salim-12)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA