| Senin, 22 Agustus 2005 | WACANA |
tajuk rencanaDi Tengah Pengosongan Jalur Gaza- Militer Israel dalam beberapa hari terakhir ini melakukan pengosongan paksa atas rumah-rumah warga Yahudi garis keras yang menolak dipindahkan dari Jalur Gaza ke Tepi Barat. Bentrokan tidak dapat dihindari. Kaum garis keras, terutama di permukiman Kfar Darom, mengedepankan para pemuda radikal untuk berhadapan dengan militer. Mereka enggan dipindah dan mengosongkan rumah karena yakin Gaza merupakan tanah leluhur kaum Yahudi seperti ditulis dalam kitab suci mereka. Sekalipun mendapatkan perlawanan sengit, pengosongan 21 permukiman -berdasarkan Rencana Gaza PM Ariel Sharon- berjalan lebih cepat daripada dugaan. Permukiman di Jalur Gaza itu dihuni sekitar 8.500 orang Israel yang hidup di tengah-tengah 1,4 juta warga Palestina. - Sharon tampaknya tidak main-main dengan rencananya. Dia rela berhadapan dengan kelompok garis keras dalam pemerintahannya. Benjamin Netanyahu, mantan PM, telah mengundurkan diri dari kabinet sebagai protes atas Rencana Gaza. Pengunduran diri itu tidak melemahkan tekad sang jenderal purnawirawan untuk cepat-cepat mundur dari Jalur Gaza. Untuk sementara, dia dianggap sebagai malaikat oleh bangsa Palestina, namun setan di mata sebagian rakyat Israel. Waktu jugalah yang akan membuktikan, apakah dia konsisten atau menjelma menjadi setan bagi Palestina dan sebaliknya malaikat bagi bangsanya. Yang pasti, ada harga yang harus dibayar. Palestina mendapatkan Jalur Gaza, tetapi kehilangan sebagian wilayah Tepi Barat Sungai Yordan. - Israel berharap pengosongan yang diikuti juga oleh penarikan pasukan itu dapat mengendurkan ketegangan dengan Palestina. Namun jika disimak, Rencana Gaza itu semata-mata hanya demi kepentingan Israel sendiri. Sharon sudah kewalahan menjaga keamanan orang-orang Yahudi di Jalur Gaza yang nyaris setiap hari menjadi sasaran serangan kaum militan Palestina. Dengan memindahkan mereka ke Tepi Barat -yang jauh lebih luas arealnya ketimbang Jalur Gaza- pihak keamanan Israel bakal mampu menjaga orang-orang sipilnya secara lebih baik dan terfokus. Apalagi warga Yahudi eks penduduk Gaza itu direlokasi ke permukiman-permukiman yang sekelilingnya telah dipagari tembok tinggi kokoh yang oleh Israel disebut Tembok Keamanan. - Apa pun latar belakangnya, dan bagaimana kelak proses perdamaian akan berjalan, warga Palestina sudah sepatutnya bergembira. Mereka sekarang punya wilayah sendiri yang sepenuhnya dihuni bangsa Arab. Mereka dapat membangun Jalur Gaza tanpa khawatir bakal terjadi friksi bahkan konflik dengan warga Israel. Maka mereka semestinya memanfaatkan peluang itu. Perjuangan untuk mendirikan negara merdeka Palestina jelas tidak bisa mendapatkan hasil seketika, meskipun ''peta jalan'' perdamaian - yang macet - menetapkan berdirinya negara seperti itu pada akhir 2005. Tepi Barat, yang bakal menjadi ajang tarik ulur antara Palestina dan Israel, biarlah dipikirkan kemudian. Ibarat upaya menangkap dua burung, apa salahnya tangkap dulu yang kecil. - Dapat dimaklumi juga kalau ada bangsa Palestina yang skeptis. Mereka curiga, Sharon memberikan Jalur Gaza hanya untuk mengukuhkan cengkeraman di Tepi Barat, tempat 240.000 warga Yahudi hidup berdampingan secara tidak damai dengan 2,4 juta warga Palestina. Maka, harus ada langkah lebih lanjut dari Israel untuk memulai lagi proses ''peta jalan damai'' yang disusun kelompok empat (AS, Rusia, Uni Eropa, dan PBB). Amerika, yang punya pengaruh paling kuat terhadap Israel, seyogianya jadi pelopor untuk menghidupkan kembali perundingan. Tahun 2005 tinggal empat bulan lagi. Mana mungkin negara Palestina dapat eksis pada akhir tahun ini, jika PM Sharon dibiarkan menyibukkan diri dengan rencananya sendiri dan lupa atau pura-pura lupa pada peta jalan damai. - Kaum militan Palestina di wilayah itu mulai sekarang kita harapkan mampu menahan diri. Janganlah lagi mereka melancarkan serangan-serangan lintas batas terhadap orang Israel atau kepentingan Israel. Presiden Palestina Mahmud Abbas tampaknya memegang komitmen untuk mengekang aksi kaum militan dalam upaya mempertahankan gencatan senjata yang rapuh. Sekali serangan dilancarkan, militer Israel pasti akan masuk lagi ke Jalur Gaza untuk memburu militan yang melancarkan serangan sehingga kedamaian takkan pernah dirasakan warga Palestina di sana. Tanpa perdamaian dan rasa aman, pembangunan sulit berlangsung. Perjuangan memang masih panjang, namun Jalur Gaza dapat dijadikan pijakan kokoh untuk maju sedikit demi sedikit. |