| Senin, 22 Agustus 2005 | WACANA |
tajuk rencanaKeraton Solo Digeruduk- Episode konflik Keraton Surakarta Hadiningrat tampaknya masih jauh dari selesai. Sudah beberapa bulan berkesan adem, kini muncul kembali ke permukaan. Dengan alasan ingin pulang, Gusti Ratu Alit yang disertai sejumlah pendukungnya diadang sehingga tak bisa masuk keraton. Tentu saja dengan argumentasi masing-masing yang memang sudah susah untuk dipertemukan. Ternyata publik keliru dalam menilai perkembangan situasi yang sudah terlihat adem beberapa saat lalu. Ketika suasana tenang, publik menilai, wah suasana sudah adem. Berati kedua pihak sudah merasa capai berkonflik, malu ditonton masyarakat awam, atau sudah saling memahami posisinya. Demikian juga masing-masing pihak sudah tidak lagi mempertontonkan nafsu, tetapi sudah kembali ke hati nurani. - Anggapan masyarakat itu ternyata tidak benar, bahkan jauh dari apa yang terjadi. Kesan adem beberapa saat lalu, langsung saja buyar ketika Gusti Ratu Alit disertai -untuk tidak mengatakan membawa- sejumlah pendukungnya. Keraton geger lagi. Bagaimanapun aksi itu tentu dilihat orang banyak dengan tafsir sendiri-sendiri. Kalau dulu, awam datang ke keraton ingin melihat keagungan keraton berikut pernik-perniknya, kemarin yang dilihat tentu bukan sesuatu yang baik. Dari pemandangan seperti itu, awam lalu berkesan, wah keraton sedang digeruduk. Itulah kesan yang muncul dalam banyak perbincangan di tengah masyarakat, termasuk di pasar-pasar. Sebuah pemandangan yang kontras dengan apa yang selama ini dikesankan keraton. - Meskipun dengan alasan ingin pulang, melihat kamar pusaka yang katanya sudah digergaji, kedatangannya ke keraton dengan membawa massa bukan pemandangan yang indah. Masyarakat lalu dengan mudah bisa menilai bahwa apa yang dilakukan oleh kubu Tedjowulan jauh dari apa yang seharusnya dilakukan orang keraton. Dengan guyon publik menilai, kok semakin jauh dari tata nilai yang selama ini dikembangkan keraton-keraton Jawa. Sudah pengangkatannya sebagai raja dilakukan di luar keraton, langkah-langkahnya pun semakin jauh dari sopan santun keraton. Suara awam seperti itu bisa dimaklumi karena dalam pikiran orang banyak, keraton itu pusat ajaran kebudayaan Jawa seperti yang pernah dituliskan oleh begitu banyak pujangga-pujangga masyhur. - Dengan melihat konflik dan gegeran yang berlangsung seperti itu, wajar jika pandangan masyarakat pun berubah tentang keraton. Lalu muncul pertanyaan, apa sih yang sudah diberikan keraton kepada masyarakat? Jika belum, maka adanya seperti tiada. Dan, tiadanya pun tak berarti apa-apa. Adanya seperti tiada karena adanya tidak memberikan manfaat, tidak memberikan pencerahan bagi kehidupan, dan tidak memberikan andil bagi ruh kebudayaan Jawa. Sebagai bentuk fisik, keraton memang wujud. Tetapi wujud yang tanpa ruh adalah muspra. Jika keraton memang memberikan ruh pada kebudayaan, maka hal itu akan sumrambah ke dalam tata nilai dan kehidupan masyarakat Jawa. Sebaliknya jika tidak, adanya seperti tiada itu. - Jika semakin hari semakin menjemukan dan menjenuhkan, konflik itu hanya akan melahirkan sinisme di masyarakat. Jika orang awam yang tidak memiliki berbagai gelar agung saja bisa menciptakan tata tentrem seperti diperlihatkan pada masyarakat Jawa saat ini, kenapa keraton yang katanya disebut-sebut sebagai punjernya kebudayaan Jawa malah tampil sedemikian seronok. Dengan kenyataan seperti itu maka tidaklah mengherankan manakala sejumlah penerima gelar keraton dari Paku Buwono XII mulai merosot kebanggaannya. Padahal, para peneriman gelar itu dulu menerimanya dengan tulus, setulus yang memberikannya. Mereka menerima karena telah dianggap memberikan andil bagi berkembangannya keraton dan kebudayaan Jawa. - Bagi kita, konflik di keraton saat ini bukanlah pemandangan yang indah. Meskipun itu sebuah dinamika, bukanlah dinamika yang seharusnya dikembangkan dan dipelihara. Rasanya, masyarakat perlu diberi pamandangan yang lebih menyejukkan dan enak dilihat. Sebagai keluarga besar putra-putri keraton yang telah misuwur keagungannya, seharusnya bisa memperlihatkan sebuah pemandangan yang guyub rukun dan penuh keteladanan. Jika kerabat keraton masih merasakan perlunya hadir dalam keteladanan demikian, pastilah konflik ini akan segera selesai. Sebuah pepatah mengatakan: durung gedhe yen durung wani cilik, durung menang yen durung wani kalah. Namun repotnya, belenggu nafsu kadangkala memang mengalahkan hati nurani. |