| Senin, 22 Agustus 2005 | NASIONAL |
Mengukir Masa Depan di ''Kota Ukir'' (1)Setelah Mahir Baru Berani Pulang
Tidak cukup hanya mengandalkan bakat turunan untuk menjadi ahli ukir andal. Semua keahlian pada prinsipnya bisa dipelajari. Paling tidak, itu yang tertangkap dari semangat dibukanya sekolah ukir di Jepara yang juga menampung pemuda dari luar Jawa. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Sukardi menelusuri sekolah ukir (nonformal) di Tahunan, Jepara. ''DOK...dok..dok...kres...kres." Alunan suara khas itu tak hanya terdengar di brak-brak mebel ukir di Jepara. Suara ayunan palu kayu dan pisau tatah menggores kayu tersebut juga mulai terdengar di kelas-kelas ukir. Belajar seni ukir menjadi pilihan sebagian pemuda, yang datang tak hanya dari sekitar Jepara, tetapi juga dari luar kota, bahkan luar Jawa. Tidak perlu seleksi ketat dan birokrasi rumit untuk menjadi siswa sekolah (nonformal) ukir. Latar belakang pendidikan formal dan usia mereka pun bervariasi. Ada yang hanya tamat SD, namun ada juga yang sudah lulus SLTA. Bahkan ada yang lulusan sekolah menengah industri kerajinan (SMIK). Bukan pengakuan lewat selembar sertifikat yang mereka butuhkan, pembuktian lewat karya berkualitaslah yang menjadi obsesi mereka. ''Saya masuk ke sini karena diajak teman, Mahfud. Setelah belajar setahun, kami belum berani pulang kampung. Pengalaman dan keterampilan yang kami miliki belum cukup. Karena itu, setelah keluar, kami ingin cari pengalaman dulu di Jepara, baru kemudian setelah cukup akan mencoba membuka usaha sendiri di kampung," tutur Farid (22), siswa Kelas Pembangunan Tahunan Jurusan Ukir di Desa /Kecamatan Tahunan, Jepara, angkatan 2004. Pemuda asal RT 2 RW 4 Desa Timbangan, Boja, Kendal itu mengaku belum punya pekerjaan tetap semenjak lulus dari madrasah aliyah negeri (MAN) pada 2002. Dari hasil perbincangan dengan kawannya, dia memutuskan untuk pergi ke Jepara. Biaya pendidikan Rp 600.000 /tahun dia nilai masih terjangkau. Apalagi bagi murid luar kota, disediakan penginapan di kompleks sekolah ukir yang terletak di kiri jalan (utara) jalan raya Jepara-Kudus Km 4. Ada tiga ruang, dua untuk ruang belajar yang diasuh Fatchuri, satu ruang untuk asrama. "Untuk asrama gratis. Untuk makan sehari-hari, bisa masak sendiri dan kami menyediakan peralatannya. Kalau mau jajan, di sini juga banyak warung makan." Kawan seangkatan Farid, Fauzi (20), memiliki cerita lain sehingga bisa sampai di kelas ukir. Alumni SMU Purwodadi 2003 itu tak tahu kalau ada sekolah ukir. "Hanya saya dengar Jepara itu pusat ukir, maka saya coba jalan-jalan dan turun di warung depan itu. Saya coba tanya apa ada tempat untuk belajar ukir, saya langsung ditunjukkan ke sini," tuturnya. Soal rencana setelah selepas dari pendidikan ukir, pemuda asal Tanggungharjo, Kecamatan /Kabupaten Grobogan itu akan mencari pengalaman dan memperdalam keahlian mengukir dengan mencari pekerjaan di Jepara. Sebab, pengalaman dan terjun langsung di brak-brak industri mebel-ukir akan memperkaya pengalaman dan mengasah keahliannya. Bekal Hidup Belajar di kelas ukir yang hanya membutuhkan waktu setahun itu bisa menjadi pertimbangan praktis dalam membekali diri untuk menyongsong masa depan. Pada saat banyak lulusan SLTA dan perguruan tinggi yang masih dipusingkan oleh keterbatasan lapangan pekerjaan, belajar ukir menjadi salah satu solusi. Pemuda dari keluarga tak mampu tentu akan berpikir praktis bagaimana secepatnya punya keahlian dan bisa bekerja. Itu penuturan Deni (15), siswa sekolah ukir asal Desa Bucu, Kecamatan Kembang, Jepara, yang baru lulus dari MTs Muhammadiyah Bucu 2005. Begitu lulus, dia tak mau ikut berebut masuk SLTA. Mahalnya biaya pendidikan formal adalah pertimbangan utama. Sebagai anak pertama dari dua bersaudara pasangan Suratman-Sayuti yang bekerja sebagai petani kecil, remaja yang baru tumbuh itu tertantang untuk segera ikut membantu perekonomian keluarga, dan pilihannya jatuh untuk belajar ukir. Biaya pendidikan tahun ini Rp 700.000 dia nilai masih terjangkau. "Apalagi membayarnya boleh diangsur sebagian dulu," ujar Deni yang baru sebulan belajar dan tinggal di asrama kelas ukir Tahunan. Musta'alim (15), asal Desa Damarjati, Pecangaan, memilih belajar ukir dulu sebelum bekerja di perusahaan mebel agar memiliki bekal yang cukup. Sebab, jika tak memiliki ilmu pertukangan dan mengukir, bekerja di brak mebel paling-paling hanya akan menjadi tukang amplas. "Saya masuk sekolah ukir diberi tahu kakak yang bekerja di desa ini. Kalau bisa menjadi tukang kayu dan bisa mengukir akan mendapatkan hasil yang lumayan," ujar siswa Sekolah Ukir Fedep di Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Jepara itu. Keberadaan sekolah yang dibina SMKN 2 (dulu SMIK Negeri Jepara) dan Sekolah Tinggi Teknologi dan Desain NU (STTDNU) -yang baru berganti nama dari Akademi Teknologi Industri Kayu (Atika)- berada di tengah perkampungan yang dikenal sebagai salah satu sentra mebel ukir di Jepara. Penuturan Yoyo Susanto (21), alumnus 2004 Sekolah Menengah Industri Kerajinan (SMIK) di Barito, Kalimantan Tengah itu bisa jadi kritik untuk sekolah formal kejuruan. Setelah belajar tiga tahun, Yoyo mengaku belum bisa mempraktikkan ilmu yang diperoleh di bangku sekolah. "Terus terang, saya merasa belum bisa apa-apa. Sebab, di sekolah dulu kebanyakan teori saja. Begitu lulus saya tak punya keahlian sesuai dengan sekolah kejuruan yang saya pilih. Akhirnya saya putuskan ke Jepara dan masuk di sekolah ukir Fedep ini," tutur Yoyo. Dia tahu ada sekolah yang banyak mengajarkan praktik langsung untuk menjadi ahli ukir dari saudaranya di Semarang. Karena memiliki bekal awal yang lumayan dibandingkan dengan kawan-kawannya yang hanya tamat SD atau SMP, Yoyo lebih cepat menyerap ilmu yang diberikan instruktur Subandi. Baru belajar dan tinggal di asrama sekolah ukir Fedep selama enam bulan, dia sudah mendapatkan order mengukir dari sebuah perusahaan. "Saya tidak mematok harga untuk pekerjaan ini. Ini kan masih masa belajar. Ya, hitung-hitung sekalian untuk mematangkan keahlian. Saya tak puas hanya bekerja di perusahaan orang. Entah berapa tahun ke depan, saya harus pulang untuk membuka usaha sendiri di daerah kami." (34n) | ||||