logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 22 Agustus 2005 NASIONAL
Line

DPR Mengundang Direktur Kilang Minyak

JAKARTA - Dalam pekan ini, Komisi VII DPR yang membidangi masalah energi sumber daya mineral berencana memanggil para direktur kilang minyak dan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro untuk bersama-sama membahas permasalahan listrik yang sering padam.

Hal tersebut dikatakan oleh Anggota Komisi VII DPR Wahyudin Munawir, Mingggu kemarin, di Jakarta.

''Pada pekan ini kami berencana untuk memanggil direktur kilang minyak se-Indonesia terkait dengan penyediaan cadangan bahan bakar minyak (BBM) dan tentu saja ini ada hubunganya dengan suplai minyak ke PLN,'' katanya.

Pihaknya juga akan mendesak kepada Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro untuk segera melakukan koordinasi dengan PLN, terutama tentang ketersediaan suplai BBM untuk listrik.

''Kami meminta kepada Purnomo mau memberlakukan RUU Migas antara PLN dan BUMN yang lain,'' tambah Wahyudin Munawir.

Dia menilai selama ini tidak ada koordinasi yang baik antara kementrian BUMN dan pihak PLN. ''Ini ada kesan egosentris antardepartemen yang cenderung tidak menyehatkan.''

Untuk mengatasi hal tersebut, lanjut Wahyudin, Komisi VII DPR sudah jauh-jauh hari menyatakan agar pemerintah mau memperhatikan ketersediaan energi di dalam negeri sehingga tidak terjadi kelangkaan pasokan listrik apalagi sampai terjadi pemadaman.

''Kami dengan tegas me- nyatakan agar BUMN dan Departemen ESDM mau memberlakukan sistem DMO (Domestic Market Obligation) sehingga menimbulkan perhatian di dalam negeri,'' katanya.

Apalagi saat ini diduga ada upaya untuk melakukan mark up pasokan energi untuk mencukupi kebutuhan listrik di dalam negeri.

''Jika sudah demikian adanya maka hal ini akan mengakibatkan kontrol kualitas yang tidak baik sehingga mengakibatkan adanya kerusakan pada alat-alat yang berujung pada rendahnya kapasitas yang tidak tersedia dengan baik,'' ujar Wahyudin.

Dia mencurigai, ada dugaan bahwa keaslian barang-barang dan peralatan listrik di PLN adalah barang bekas. ''Ini bisa dilihat dari adanya pembangkit di Suryalaya yang hingga saat ini sudah ngedrop hingga tiga kali,'' katanya.

Soal keterlibatan intelijen asing, Wahyudin mengatakan, kemungkinan itu bisa saja terjadi, mengingat saat ini harga minyak mentah atau crude oil sedang melonjak.

''Mereka yang tidak senang dengan pemerintahan saat ini berusaha keras untuk melakukan sabotase-sabotase untuk mengganggu stabilitas keamanan dalam negeri.'' (aih-49n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA