logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 22 Agustus 2005 NASIONAL
Line

Resep Jusuf Kalla Atasi Konflik Aceh

DALAM menyelesaikan konflik di Nanggroe Aceh Darussalaam (NAD), Wakil Presiden Jusuf Kalla mengaku memiliki resep tersendiri untuk menyelesaikan konflik yang sudah berlangsung kurang lebih 29 tahun itu.

''Kiat yang saya miliki adalah dengan menunjuk wakil-wakil yang berasal dari kawasan Indonesia Timur. Saya pilih Hamid Awaluddin dan Sofyan Djalil,'' katanya kepada hadirin di sela-sela pemberian penghargaan Bakrie di Hotel Niko Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Wakil-wakil yang ditunjuk oleh pemerintah itu tidak saja harus memiliki ketangguhan di dalam berdiplomasi dan bernegosiasi, namun juga harus mengetahui secara detil kebudayaan dan perilaku orang Aceh. ''Ini untuk mengetahui kebiasaan umum orang Aceh sehingga pada saat perundingan menemui kebuntuan tidak akan mengalami kesulitan karena sudah memahami adat kebiasaan pihak perunding yang merupakan asli orang Aceh,'' ujarnya.

Oleh karena itu, Hamid Awaluddin yang notabene bukan merupakan orang Aceh itu harus mau berjibaku untuk belajar tradisi dan kebudayaan orang Aceh sedetil-detilnya. ''Hamid saya bekali dengan buku-buku dan harus belajar bahasa ibu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,'' tandas Jusuf Kalla.

Strategi yang digunakan itu terbukti ampuh dalam menyelesaikan konflik melalui meja perundingan. Pada saat telah tercapai kesepakatan tersebut, Kalla sontak terkejut dan tersentuh ketika pada akhir sebuah pidato, Hamid mengucapkan pantun Aceh yang sangat terkenal. ''Kira-kira kalau diterjemahkan artinya seperti ini. Tidak ada hujan yang tak berhenti, tidak ada perang yang tak usai.''

Akibat pantun tersebut, Kalla lantas menelepon Hamid dan menanyakan kepadanya dari mana dia memperoleh istilah tersebut. ''Saat itu Hamid mengatakan kepada saya lewat ponsel, bukankah Bapak yang menyuruh saya belajar bahasa Aceh.''

Kalla mengaku memang menyuruh belajar, tapi dari mana dapat istilah itu. Hamid yang tidak ingin mengecewakan Kalla pun berujar, ''Bapak jangan bilang siapa-siapa ya. Istilah itu saya dapat dua hari yang lalu sebelum penandatanganan perjanjian damai. Saat itu saya menonton film ''Tjoet Nya Dien.'' Nah pada akhir adegan tersebut, Christine Hakim (pemeran Tjoet Nyak Dien) mengucapkan sebait pantun asal Aceh tersebut yang lalu saya kutip dalam pidato pengantar saya seusai penandatanganan perjanjian damai dengan Gerakan Aceh Merdeka.''

Keruan saja cerita Kalla itu lantas disambut tawa oleh hadirin yang saat itu sedang menghadiri malam penyerahan penghargaan Bakrie yang salah satunya diberikan kepada adinda Dhini Pramita Susanti, pelajar SMU 3 Semarang. (Ali Imron Hamid-49n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA