| Minggu, 21 Agustus 2005 | OLAHRAGA |
Tapal Batas bagi ChelseaOleh: Amir Machmud NSLOGIKA apakah yang mampu membatasi upaya pencapaian manusia untuk meraih kemenangan? Kalau pertanyaan itu disampaikan kepada Roman Abramovich, jawabannya mungkin: ambisi tidak mengenal logika - kecuali dia benar-benar kehilangan modal dan spirit untuk memborong semua bintang di supermarket sepak bola. Sang Roman Emperor membangun kerajaan dengan ketidakpedulian, mirip ketika Silvio Berlusconi mendapat banyak cibiran karena dianggap lebih mengedepankan luapan ambisi ketimbang etika saat membentuk AC Milan sebagai kesebelasan paling ditakuti pada dekade 1990-an. Dalam skala yang sama, Florentino Perez juga secara liar mengangankan Los Galacticos, kumpulan para galactico untuk membentuk kerajaan langit di Madrid. Lalu batas apakah yang mampu mengeliminasi ambisi agar moral rivalitas tetap terjaga, bukan semua diatasnamakan kekuatan uang hanya untuk memompa raihan kemenangan? Di hadapan langkah-langkah Abramovich - setidak-tidaknya sekarang ini - , kritik hanyalah arakan mega yang melintas di langit ambisi. Tak ada tepi yang menjadi horison. Ya, adakah kapitalisme mau mengenal "tepian" untuk mendialogkan upaya pencapaian dengan sentuhan-sentuhan nurani? Ketika semua itu bertemu dengan kepentingan industri informasi, jadilah persenyawaan yang berkekuatan "sensasi". Jadi, apa pun bentuknya, ambisi itu diperkuat kebutuhan sensasi tren mediatika, sekaligus yang merangsang untuk terus melakukan kejutan dan keunggulan kompetitif. Misalnya, kendati harga Shaun Wright-Phillips - 21 juta pound - ketika diambil dari Manchester City dinilai terlalu tinggi oleh Arsene Wenger sehingga cenderung "merusak pasar", bukankah program transfer Chelsea jalan terus? Direktur Peter Kenyon bersama pelatih Jose Mourinho tak berhenti untuk merealisasi operasi boyongan Michael Essien dari Olympique Lyonnais dengan 26 juta pound atau sekitar Rp 465,1 miliar. Dan, kita percaya, masih banyak daftar incaran pemain berkemampuan puncak yang masuk dalam agenda "bedhol desa" ke Stamford Bridge. Hanya Steven Gerrard yang untuk sementara ini tidak larut dalam logika Chelsea, dan itu jelas sebuah dekonstruksi ketika iming-iming penebalan kantong bisa diluruhkan oleh kesetiaan Stevie G kepada Liverpool. Mourinho menyindir keputusan Stevie itu sebagai langkah keliru, namun hakikatnya dia sedang merasa tertampar karena ternyata ada juga profesional yang tak tergoda hanya oleh pesona materi. * * * YANG menjadi persoalan, memang logis jika penawaran-penawaran ala Chelsea memincut pemain mana pun. Dan, akibatnya bisa sangat merusak. Ketika operasi transfer belum tuntas, si pemain cenderung bersikap ogah-ogahan di klub asalnya. Kasus Essien merupakan salah satu contoh betapa Lyon menjadi korban provokasi Chelsea. Presiden Lyon Jean-Michel Aulas dan pelatih Gerard Houllier semula tak ingin melepas pemain asal Ghana tersebut, karena dia adalah aset terbesar. "Tetapi, ketika seorang pemain tak ingin lagi memperkuat sebuah klub, Anda harus membuka pintu untuknya," kata Houllier. Kasus Essien mirip dengan proses kepindahan Robinho ke Real Madrid. Santos FC memilih melepas setelah tahu hati remaja penuh bakat itu tidak lagi bertambat di sana. Kalau bukan karena Pele turun tangan, nasib Robinho boleh jadi akan digantung, kendati Santos dirayu dengan biaya kepindahan yang menggiurkan. Ya, ada kesetiaan yang secara sadar dirusak dengan provokasi besaran transfer. Ada pendekatan-pendekatan ilegal yang menciptakan rasa saling tidak percaya di klub asal si pemain - seperti skandal pertemuan rahasia Rio Ferdinand dan Ashley Cole dengan petinggi Chelski. Pada titik inilah kita memahami kegeraman Arsene Wenger, karena langsung atau tidak langsung operasi semacam itu tentu memengaruhi loyalitas seorang pemain. Kalaupun Cole menunjukkan sikap profesional untuk memperpanjang keberadaan di Highbury, bukankah telanjur muncul luka, termasuk di kalangan suporter Arsenal? Pada sisi lain, betapa hebat kolaborasi Abramovich - Kenyon - Mourinho yang saling mengisi dari kapasitas finansial, manajemen perburuan pemain, dan pengarsitekan tim. Persenyawaan yang mungkin Alex Ferguson pun sulit menemukannya bersama Malcolm Glazer, setidak-tidaknya dari aspek kemauan untuk menembus batas kemampuan yang secara umum dimiliki klub-klub Eropa. Piala Liga sudah di tangan, gelar Liga Primer 2004-2005 telah masuk perbendaharaan. Kalau di Liga Champions 2005 mereka dihentakkan oleh kenyataan kalah dari Liverpool - klub yang tidak memiliki kapasitas belanja seperti mereka, moral apakah yang hendak dikatakan kecuali bahwa perburuan memang belum selesai? Ketika perburuan belum usai, tapal batas apa yang harus ditembus oleh Roman Emperor? Lalu, kalau pendakian mencapai puncak, aksi apa lagi untuk mempertaruhkan kejayaan? Diam-diam betapa ngeri menyaksikan kompetisi uang, dan para pemain - yang terdiri dari darah dan daging - diperlombakan demi pergulatan ambisi mereka yang sembari tertawa-tawa atau mengerutkan dahi ketegangan, duduk di balkon kehormatan stadion-stadion Eropa. - Amir Machmud NS, wartawan Suara Merdeka (31) |