logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 21 Agustus 2005 BINCANG BINCANG
Line

Sang Jomblo yang Intelek


SM/Hartono Harimuurti

SIAPA yang menyangka jika Effendi Gazali MPS ID PhD ternyata pernah menjadi pelawak. Pria kelahiran Padang 5 Desember 1966 ini pada tahun 80-an pernah ngetop bersama grup lawak mahasiswa Uni-versitas Indonesia bernama Ikatan Remaja Memble Aje (IRMA). "Saya ini humoris. Dan saya suka menonton pelawak manggung. Lalu saya salurkan potensi saya ini. Karena kami mahasiswa tentunya ingin dong ngelawak yang intelek gitu lho," kata Dosen Pascasarjana FISIP UI ini.

IRMA kali pertama pentas di acara-acara UI. Lalu mengisi acara ke kampus-kampus lain di Jakarta, serta umum. Saking larisnya, sampai-sampai Effendi terpaksa menyeriusi hobinya itu. "Kami sampai serius menyiapkan teman biar tidak terjadi pengulangan-pengulangan yang membuat penonton bosan. Jadi kuliah serius, ngelawak juga serius. Tapi saya nggak pernah bercita-cita jadi pelawak karena saat itu banyak pelawak yang ber-madesu alias bermasa depan suram," kata lajang asli Minang ini. Menurut pendapat dia, sebagai ukuran ngetopnya IRMA -yang lahir hampir bersamaan dengan Bagito pimpinan Miing (masih di radio)- adalah dengan tampil di TVRI 13 episode.

Namun Effendi justru kecewa. "Namun dari 13 episode yang direkam, hanya dua yang ditayangkan. Yang ditayangkan itu yang paling nggak ada apa-apanya. Lawakan kami memang sering berupa kritik sosial. Pemerintah Orde Baru ternyata gerah juga. Namun gimana lagi karena TVRI masih satu-satunya televisi."

Ketika anggotanya selesai kuliah, IRMA pun bubar. Effendi yang lulus dari Jurusan Komunikasi FISIP UI, kemudian meniti karier sebagai wartawan olahraga di Tabloid Mingguan Bola. Dia memilih menjadi wartawan, karena profesi ini sesuai dengan latar belakang pendidikannya dan hobi bermain sepak bola. "Saya ingin bekerja dibidang yang saya kuasai serta yang sesuai hobi. Jadi kloplah menjadi wartawan olahraga yang meliput soal sepak bola. Saya pernah meliput Piala Dunia 1990 di Italia," kata Ketua Alumni Soccer Club (ASC) UI ini.

Selepas menjadi wartawan, dia tertarik untuk lebih mendalami komunikasi. Lalu dia masuk program Pascasarjana Fisip UI di Jurusan Komunikasi. Menjelang reformasi, pada 1997 dia dan rekan-rekan sesama mahasiswa Pascasarjana UI bergabung dalam FORUM WACANA (mahasisWA pasCA sarjaNA) UI. Effendi bahkan menjadi president Forum ini pada periode 1997-1998. "Wacana terbentuk, karena waktu itu banyak yang sinis terhadap aksi mahasiswa UI. Banyak yang mengatakan kalau itu kerja amatiran. Kami jawab ooo tunggu dulu, lihat kita dong yang dari Pascasarjana. Ada konseptor di balik aksi adik-adik kami seperti Faisal Basri, Kristianto Wibisono, Fadjul Rahman juga La Ode Ida dan saya termasuk di dalamnya," kata pria yang juga hobi diskusi dan membaca berbagai buku ini.

Effendi menyukai berdiskusi, karena menganggapnya sebagai cara yang sangat efektif untuk mentransfer pengetahuan, selain membaca buku. Lulus S2, Effendi mengabdi menjadi dosen di almamate. Dia kemudian mendapat beasiswa untuk mengambil program Master of International Comunication di

Cornell University, New York, AS. Setamat dari Cornel, Effendi mengambil PhD di bidang komunikasi politik di Nijmegen University Belanda. "Sebenarnya saya ditawari S3 di Indiana University, tapi saya tidak tertarik suasananya, karena berbeda jauh dari New York. Akhirnya saya ditawari beasiswa ke Belanda. Ya saya ambil, agar dapat suasana yang beda sekalian, karena di Eropa."

Effendi memutuskan untuk mengambil komunikasi politik karena berdasarkan pemikiran bahwa cepat atau lambat demokrasi akan berkembang di seluruh dunia. Negara-negara yang semula totaliter akan berubah menjadi demokratis. Dan itu semua bisa berjalan bila ditunjang proses komunikasi politik yang efektif dari media-media yang makin sadar akan perannya dalam sebuah perubahan. "Di Indonesia saat ini citra lebih penting daripada isi. Pemimpin terpilih karena pencitraan tanpa didukung substansi. Atau istilahnya komunikasi tanpa substansi. Karena itu saya berobsesi menghidupkan Salemba School untuk untuk meningkatkan media literacy dan campaign literacy di Indonesia," kata dia.

Menurut pendapat dia, masyarakat perlu disadarkan agar nanti tidak segan-segan menboikot tayangan atau gambar, iklan dan sebagainya yang tidak mendidik alias menjerumuskan. Atau mengadukan hal itu ke Komisi Penyiaran Indonesia, dengan demikian rakyat tidak pasrah begitu saja dicekoki sesuatu yang tidak bermutu.

Bagaiman keluarga Effendi? Ternyata dia masih menjomblo alias membujang. "Saya pernah mempunyai girlfriend saat kuliah di Cornell. Saat saya mau serius alias mau mengajak dia menikah dan ikut ke Indonesia, dia menolak. Penolakannya itu lebih karena harus ikut ke Indonesia he he he, tapi kan saya harus kembali ke Indonesia," katanya. (Hartono Harimurti-35)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA