logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 16 Agustus 2005 MURIA
Line

Harapan di Balik Kehadiran ''Suara Muria'' (2)

Harus Lebih Merapat pada Rakyat

BICARA tentang bisnis koran, tidak dapat dilepaskan dari idealisme. Pada awal kelahiran sebuah surat kabar, yang menjadi pilar adalah idealisme sang penggagas. Idealisme yang dimaksud adalah upaya mengangkat fakta didasari rasa yang tergelitik oleh keadaan sekitar.

Begitu pula dengan kehadiran penambahan halaman pada Suara Muria mulai Kamis (18/8). Penambahan halaman seharusnya disikapi dengan keberpihakan yang lebih kepada suara akar rumput.

Ketua Yayasan Pembina Universitas Muria Kudus (UMK) Zamhuri dalam pertemuan stakeholder Suara Merdeka di Hotel Griptha, Kudus, Sabtu lalu, mencermati pergeseran posisi koran dari bisnis idealisme menjadi idealisme yang dibisniskan. Dia mengkhawatirkan, hal demikian juga akan terjadi pada Suara Muria yang mengalami penambahan halaman.

Penambahan yang ada tidak hanya dengan menambah porsi berita secara kuantitas namun juga meningkatkan kualitasnya. Misalnya, saran dia, soal akurasi data dan cerita di balik berita. ''Hal itu dapat menambah pemahaman pembaca akan suatu kasus yang sedang diangkat,'' ujar dia.

Bahkan, secara tegas dia meminta agar Suara Muria tidak hanya menjadi corong para pejabat saja. Lebih jauh dia menyarankan, agar pendapat yang bergulir di masyarakat yang merupakan kondisi riil yang berlangsung, dapat juga terungkap. Dengan demikian, terdapat perimbangan antara masyarakat dan pemerintah.

Sementara itu, Kepala Sub-Bagian Pemberitaan Humas Setda Kudus Sutiyo menekankan perlunya forum interaksi antara masyarakat dan pejabat pemerintahan.

Hal itu, lanjutnya, merupakan tugas media untuk menjembataninya. ''Jadi, warga merasa ada kedekatan dengan media yang mereka pilih,'' ujar dia.

Sementara itu, Public Relation Pura Group Hasan Aoni Aziz US menekankan, Suara Muria perlu lebih berhati-hati dalam menerima masukan masyarakat. Pada dasarnya, semua informasi khususnya yang akan diwartakan kepada publik, kebenarannya agar dicek silang terlebih dulu.

Dia mencontohkan penggunaan SMS (pesan pendek) interaktif pada sejumlah media juga berpotensi menimbulkan fitnah. Karena itu, perlu proses seleksi dan penggalian data yang lebih mendalam. (Anton Wahyu Hartono, Satryani Kartika Ningrum-54j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA