logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 15 Agustus 2005 SALA
Line

Ayam Bangkai Diduga Beredar di Pasaran

KLATEN - Ada dugaan daging ayam bangkai dari luar daerah beredar di beberapa pasar di Klaten. Sehubungan dengan itu, Sub Dinas Peternakan diminta untuk lebih teliti memantau peredaran daging ayam, karena daging bangkai tak baik untuk kesehatan.

Berkait dengan adanya isu beredarnya ayam bangkai, anggota Komisi II DPRD Klaten, dokter hewan Suharna dan Sudarwadi BA melakukan investigasi ke sejumlah pasar, Sabtu (12/8) pukul 05.30. Investigasi bersama sejumlah wartawan itu, gagal melihat secara langsung proses jual beli ayam bangkai.

''Sayang, kami tak bisa melihat langsung transaksi ayam bangkai. Banyak laporan dari masyarakat yang curiga ada ayam bangkai dijual. Untuk membuktikannya, butuh penelitian di laboratorium,'' kata Suharna yang juga anggota Fraksi Keadilan Sejahtera (FKS) itu.

Namun, dia sempat membeli sampel potongan dada ayam yang diduga mati bukan karena disembelih dari seorang penjual di Pasar Wedi. Daging yang dibeli itu mudah hancur, dan beraroma tidak segar.

''Lihat, daging ini mudah hancur, dan sepagi ini bau dan warnanya sudah tidak segar lagi. Ciri ayam bangkai adalah dagingnya mudah busuk, karena darah tidak dibuang seperti kalau dipotong. Daging bangkai, juga disukai lalat hijau,'' ujarnya.

Di salah satu pegadang di Pasar Cawas, Sudarwadi, menemukan daging kepala dan leher berbumbu yang diduga bermasalah. Saat kulit daging dikelupas, daging di bawahnya berwarna merah kehitaman.

''Pedagangnya mengaku mendapatkan dagangan dari pemasok asal Yogya. Saat diterima, bentuknya berupa potongan kepala dan leher yang sudah bersih. Uniknya, pemasok tidak menjual bagian tubuh yang lain,'' kata anggota Fraksi Kebangkitan Bersama (FKB) itu.

Laboratorium

Di Pasar Klaten, mereka menemukan potongan daging kepala dan leher digoreng tepung dijual oleh seorang pedagang dengan harga murah, rata-rata Rp 700/potong. Kata penjualnya, itu ayam darah beku. Ia mengaku mendapat pasokan dari Yogya.

Pedagang itu juga menjual daging segar. Di antara barang dagangannya, ditemukan potongan sayap yang dagingnya berwarna biru kehitaman. Saat dibedah, warna gelap itu diduga berasal dari darah yang membeku.

''Kehadiran kami ke pasar, murni investigasi, sehingga tak ada tindakan apa pun. Untuk membuktikan apakah kecurigaan kami benar, butuh penelitian laboratorium. Masyarakat jangan panik; hanya sebagian kecil daging yang dijual kami curigai,'' ujar Suharna.

Dia menyarankan agar konsumen tidak menjatuhkan tuduhan tanpa didasari dengan penelitian yang memadai. Sebaiknya konsumen membeli daging dari penjual yang dipercaya memiliki akhlak yang baik, sehingga daging yang dijualnya sehat dan halal. Masih banyak daging halal yang dijual di pasaran. (F5-16a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA