| Senin, 15 Agustus 2005 | SALA |
Deklarasi Warsito-Wuryadi Tanpa Dihadiri BupatiKLATEN - Bupati Klaten, H Haryanto Wibowo, tidak hadir dalam deklarasi calon bupati (cabup) dan calon wakil bupati (cawabup) H Warsito-H Wuryadi yang diusung PDI-P, di GOR Gelarsena, Klaten, Minggu (14/8). Ketidakhadiran Bupati dari PDI-P itu, semakin memperkuat dugaan terjadinya friksi di dalam partai berlambang banteng moncong putih tersebut. Wakil Bupati, Wisnu Hardono SH, dalam sambutannya tidak menyebutkan dirinya hadir mewakili Bupati Haryanto. Dia hanya mengatakan, bupati mendapat undangan seperti halnya wakil bupati. Dia mengaku datang sebagai pejabat negara. Wisnu memberikan sambutan tidak lebih dari tiga menit. Ketika ditemui selesai acara, Wisnu mengaku tidak mendapat perintah khusus dari Haryanto untuk hadir atas nama pemerintah. Dia juga mengaku tidak tahu di mana Haryanto berada saat acara berlangsung. ''Saya tidak tahu persis, di mana posisi bupati saat ini. Saya hanya mendengar, anak bupati, yakni Andi, sakit. Mungkin beliau menunggui,'' ujar wakil bupati dari Partai Golkar tersebut. Acara deklarasi itu sendiri berlangsung meriah, dihadiri lebih dari seribu kader dan simpatisan PDI-P. Selain pengurus DPC, mereka juga berasal dari pengurus partai di tingkat ranting dan PAC. Di tempat duduk tamu undangan, tampak Ketua DPC PDI-P Klaten, Harri Pramono, beserta seluruh pengurus harian; anggota DPR RI, Ario Bimo; anggota DPRD Jateng, Slamet Wiryoatmojo; dan sesepuh PDI-P, Mbah Broto. Dari unsur Pemerintah Daerah Klaten, hanya hadir Wabup, Wisnu Hardono. Harri Pramono dalam pidatonya menegaskan kembali bahwa pasangan Warsito-Wuryadi adalah calon bupati dan wakil bupati resmi dari PDI-P. Dia mengajak seluruh kekuatan PDI-P Klaten untuk bersatu memenangkan keduanya dalam pilkada 26 September mendatang. Harri Pramono sempat melontarkan kembali penyegelan kantor DPC oleh sekelompok orang yang mengaku anggota satgas dan pengurus PAC. Namun, berkat bantuan mereka yang masih loyal kepada DPC, maka umur penyegelan hanya berlangsung selama tujum jam. Deklarasi diakhiri dengan pelepasan burung merpati putih oleh mereka yang akan terlibat dalam pilkada, yaitu Warsito-Wuryadi, Harri Pramono, dan tim sukses. Merpati sebagai lambang perdamaian, dilepas agar pilkada dapat dimenangkan PDI-P secara damai. Sementara itu, sebelum resmi dideklarasikan, pasangan Warsito-Wuryadi sempat menghadapi berbagai hambatan. Pencalonannya dipermasalahkan, dengan mempertanyakan dana kampanye Rp 3 miliar yang harus disetor ke DPC.(F5-16a) |