| Senin, 15 Agustus 2005 | SALA |
Monumen 45 MemprihatinkanBANJARSARI - Siswa SMAN 1 Surakarta memiliki cara lain untuk memeringati HUT Kemerdekaan RI. Kemarin, mereka mengecat Monumen 45 Banjarsari. Kawasan yang dipenuhi pedagang kaki lima (PKL) itu, ramai oleh kegiatan para siswa yang masih mengenakan seragam pramuka. "Selesai mengikuti upacara peringatan Hari Pramuka, siswa langsung saya bawa ke sini. Kebetulan lokasinya tidak jauh dari sekolah," kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Drs Bambang Budi Hartono. Ide pengecatan itu, berawal dari keprihatinan siswa terhadap kondisi monumen yang diresmikan 10 November 1976 itu. Hampir seluruh relief yang menggambarkan serangan umum empat hari di Solo (7-10 Agustus 1949), tertutup coretan pilox warna-warni. Patung pejuang yang berdiri gagah di tengahnya pun pudar dimakan usia. "Saya mencoba menangkap keprihatinan siswa. Ketika ide itu mereka tawarkan, langsung saya ajak untuk mengaplikasikannya dalam bentuk kegiatan ini," imbuh Mayor Haristanto, Presiden Republik Aeng-Aeng, salah seorang pendukung kegiatan tersebut. Beberapa elemen masyarakat juga terlibat dalam kegiatan itu, di antaranya Real Estat Indonesia (REI) Solo sebagai penyedia cat, Asosiasi Kontraktor Listrik Indonesia (AKLI), dan Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UNS yang merancang pewarnaan monumen. Kian Memprihatinkan Beberapa hari sebelumnya, lokasi tersebut juga dibersihkan oleh ratusan pelajar dari SDN Kestalan, SDN Margorejo, SMPN 4, dan STM Kristen 2. Lahan yang dulu merupakan taman kota itu, kini kondisinya memang kian memprihatinkan. Apalagi, PKL yang memenuhi tempat tersebut makin menghilangkan fungsinya sebagai paru-paru kota. Sehubungan dengan banyak ruang publik yang berubah fungsi menjadi lokasi PKL itu, mengundang keprihatinan Wali Kota, Joko Widodo. "Ruang publik di Solo sangat kurang. Padahal, keberadaannya sangat penting untuk keseimbangan lingkungan perkotaan yang kian sarat dengan polusi dan masalah lainnya," tuturnya beberapa waktu lalu. Pemkot berencana mengembalikan lahan itu ke fungsi semula. Pada APBD 2005, telah dialokasikan Rp 100 juta untuk pembenahan lahan di dekat Pasar Semanggi, yang akan difungsikan untuk merelokasi PKL di Monumen 45 yang jumlahnya kini ratusan. Tak pelak, kegiatan pengecatan yang dilakukan siswa SMAN 1 Surakarta kemarin itu membuat PKL di sekitar tempat itu khawatir. "Wah, ek-gek ndang dipindah ki (Waduh, jangan-jangan akan segera dipindah ini-Red)," komentar beberapa PKL. Selama ini, Pemkot memang kesulitan menertibkan lokasi itu. PKL yang telanjur mapan enggan dipindah, dengan alasan di lokasi baru belum tentu diminati pembeli. (G13,kl3-27a) |