logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 15 Agustus 2005 RAGAM
Line

Shalat dan Maksiat

T: Secara singkat saya bertanya, mengapa banyak orang Islam yang melaksanakan shalat, dan semua ibadah dalam Islam, tetapi perilakunya banyak yang tidak sesuai dengan substansi shalat itu sendiri. Seperti disiplin waktu dan disiplin kerja, mencegah perbuatan keji dan mungkar, istiqamah dalam kebaikan dan sebagainya.

Ali, Pekalongan

J: Saudara Ali yang terhormat, saya juga mempunyai pikiran sebagaimana yang Anda pikirkan. Saya juga mempunyai perasaan sedih mengapa mereka demikian. Suasana umat Muslim khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya, keyakinan dan ibadahnya belum bisa diaktualkan dalam bentuk perbuatan sehari-hari. Ibarat shalat terus, tetapi maksiat tetap berjalan (STMJ).

Pokok permasalahannya ialah terletak pada model shalat dan ibadahnya. Mereka lakukan itu semua sekadar formalitas dan legalitas semata. Shalatnya hanya sebatas pengertian fiqh, yakni: ''ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan syarat-syarat tertentu''.

Wujud dari ucapan ialah antara lain membaca fatihah, tahiyyat dan salam, sedang wujud perbuatan ialah berdiri, ruku', i'tidal, sujud dan seterusnya. Ibadah-ibadah itu belum diberi bobot penghayatan terhadap makna yang terkandung di dalamnya, yakni ibadahnya belum dipercantik dan diperindah dengan ihsan, yakni: ''beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, namun apabila kita tidak bisa melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Allah melihat kepada kita''.

Sebagai konsekuensi dari ibadah yang demikian akan memunculkan sikap merasa senantiasa diawasi oleh Allah SWT., yang dalam tasawuf disebut muraqabah. Kita bisa diibaratkan sebagai seorang hamba yang buta, selalu diawasi oleh majikan yang bisa melihat, maka tentu kita tidak bisa berbuat apa-apa khususnya yang negatif. Karena segala gerak-geriknya senantiasa dipantau oleh sang majikan.

Sikap ini tidak hanya dipikir dalam otak dan diucapkan dengan lisan, akan tetapi harus dihayati dengan rasa (hati). Dalam kenyataannya sikap batin seperti yang telah dikemukakan belum tertanam dalam hati, sehingga ibadah yang telah dilakukan belum bisa membekas dan tidak fungsional. Artinya ibadahnya belum bisa berfungsi sebagai sarana pendidikan terhadap akhlak atau budi pekertinya.

Penyebab yang lain ialah mereka shalat (dan tentu semua ibadah yang kita lakukan) tetapi belum khusyu'. Yakni sinkronnya empat unsur: ucapan, perbuatan, pikiran dan perasaan. Sekiranya keempat unsur tersebut tidak bisa sinkron, maka seseorang dikatakan mabuk (tidak ingat apa yang dibaca dan apa yang dilakukan).

Hal ini dilarang oleh Alquran: ''Dan janganlah kamu mendekati shalat dalam keadaan mabuk (sukara) (QS.al-Nisa/4:43). Mabuk dalam tasawuf berbeda dengan pengertian fiqh. Kalau fiqh, mabuk tidak ingat apa-apa karena minum minuman keras, tetapi dalam pengertian tasawuf orang mabuk ialah orang yang tidak ingat gerakan dan bacaannya dalam shalatnya.

Khusyu' berbeda dengan fana', yakni leburnya sifat kemanusiaan, sebagaimana pernah dialami oleh Sayyidina 'Ali kw., ketika anak panah dicabut dari betisnya, dia merasa sakit. Kemudian dia melakukan shalat, anak panah tersebut dicabut, tidak terasa. Tetapi khusyu' masih dalam batas kewajaran, panca indra masih berfungsi normal, hanya saja konsentrasinya pada bacaan dan gerakannya.

Bagaimana usaha untuk khusyu', ada resep yang perlu direnungkan. Yakni pertama, usahakan menuju ke tempat shalat dengan tenang (sakiinah wal waqaar), kedua, membaca surah al-Nas dan Ilaahii anta maqshuudii wa ridlaaka mathluubii, a'thinii mahabbataka wa ma'rifatak (hai Tuhanku, Engkau yang aku tuju, ridla-Mu yang aku cari, berilah aku cinta dan ma'rifat pada-Mu). Ketiga, pandangan mata ke tempat sujud, agar tidak terganggu oleh pandangan mata. Keempat, tidak berada di tepi jendela dan/atau pintu. Kelima, memahami dan mengerti apa yang dibaca dan dilakukan, dan keenam, tumbuhkan rasa haibah (kewibawaan), keagungan Allah dalam diri kita.

Dalam konsep Islam, akidah akan menjadi kokoh apabila ditempa dan dibina dengan ibadah. Demikian pula akidah dan ibadah seseorang yang demikian kuat tadi akan membina akhlak atau budi pekertinya yang baik. Karena dalam Islam dipahami bahwa ibadah merupakan training bagi umat manusia. Jika demikian, maka keberhasilan suatu training bukan trainingnya itu sendiri, tetapi dilihat bagaimana perilaku, akhlak dan budi pekerti sesudahnya. Demikian, semoga ada manfaatnya. Wallahu a'lam bish shawab.(12)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA