| Senin, 15 Agustus 2005 | PANTURA |
Momong Anak sambil Buka Praktik PijatKEINGINAN untuk membantu orang secara ikhlas, menjadi modal Salman (26) ketika mulai membuka pratik memijat. ''Saya ingin membantu orang-orang yang sedang kecapaian atau masuk angin. Silakan, yang membutuhkan, saya siap dan tidak mematok harga,'' ujarnya. Penduduk Dusun Dampyak, Desa Depok, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, itu menjelaskan, bersama istrinya, Sugiyanti (24), ia mengontrak rumah di belakang pasar. Ditempat itu pula, dia membuka usaha pemijatan. Sore hari, dia pindah di alun-alun sebelah timur, depan Satlantas. Alasannya, sambil mencari nafkah juga momong Bilal (4), anaknya. ''Homi anak saya bermain. Kebetulan di alun-alun ramai, sehingga dia senang. Apalagi kalau melihat lalu lintas, terutama bus maupun truk yang mondar-mandir,'' ujarnya. Salman mengisahkan, dia mendapat ilmu pijat dari pakdenya, Waryadi, yang ahli sangkal putung di daerah Talun, Kabupaten Pekalongan. Saat itu, usia Salman baru 13 tahun. ''Awal mula saya membantu Pakde, ya semacam asistenlah, mulai dari membetulkan otot yang terkilir sampai tulang retak,'' ujar dia berkisah. Ilmu itu dipelajarinya secara serius. Dia terkadang mendapat kesempatan untuk melakukan pemijatan kepada pasien yang mengalami luka ringan. Lama kelamaan, dia diberi kesempatan untuk menangani pasien yang menderita luka serius, meskipun masih di bawah pengawasan pakdenya. ''Kalau Pakde sedang sibuk menangani pasien yang lukanya serius dan kebetulan ada yang datang, saya diberi kesempatan untuk memijat tamu yang baru datang itu. Pakde yang memeriksa dan memegang pertama, kemudian setelah memberi arahan baru saya yang meneruskan,'' ujar dia. Dari kebiasaan itulah, dia kini bisa mempelajari penyakit yang diderita orang, seperti mag atau masuk angin. Itu bisa dirasakan dari getaran otot maupun daging. Orang yang kecapaian, menurutnya, perlu dipijat. Itu terjadi, karena banyak otot yang kaku akibat darahnya tidak lancar. Pelanggan Salman pun kini banyak, mulai dari anggota TNI, polisi, atau orang yang kebetulan lewat dan istirahat sambil bermakan malam di alun-alun. Di tempat itu, kalau malam memang banyak warung yang menjual makanan dan minuman. ''Langganan saya mulai dari polisi sampai dari tentara (aqnggota Kodim) yang kecapaian. Atas seizin Allah, mereka bisa sembuh kembali. Kalaupun ada pasien yang tidak bisa datang sendiri, saya siap ke rumahnya,'' ungkap Salman. Catur Wibawa, penduduk Dracik yang saat itu merasa tidak enak badan, minta dipijat Salman. ''Wah, Bapak masuk angin. Coba saya pijat, mulai dari kaki nya,'' ujar Salman setelah memegang badan pasiennya. Pijat di alam terbuka dengan alas tikar memandang lalu lalang kendaraan yang lewat di depan mata, seakan tak terasa ketika jemari Salman mulai memijat. Dengan modal minyak dan handbody lotion dan kayu sebesar ibu jari, dia siap menjalankan pekerjaanya. ''Rata-rata saya diberi Rp 10.000. Yah, lumayanlah,'' ujar Salman yang menjual jasanya di trotoar Alun-alun Batang sampai pukul 22.00 itu.(Arif Suryoto-52a) |