logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 15 Agustus 2005 PANTURA
Line

Kenaikan Harga BBM Tak Pengaruhi Industri Batik

PEKALONGAN - Kenaikan harga BBM yang terjadi selama ini ternyata tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap perkembangan industri batik di Kota Pekalongan. Hal itu diakui oleh sejumlah pengusaha dan pedagang batik di Pasar Grosir Setono, Kota Pekalongan.

Para pengusaha batik mengaku tetap dapat menjalankan usahanya dengan lancar, meskipun terjadi kenaikan harga BBM. Pasalnya, kenaikan harga BBM tidak terlalu menambah biaya produksi yang selama ini harus mereka keluarkan.

Menurut Wakil Direktur Pasar Grosir Setono Nadhirin Khasani, selama ini hampir semua pedagang batik di Pasar Grosir Setono adalah pengusaha (produsen) batik. Sekitar 75% produk yang dipasarkan merupakan hasil olahan sendiri.

Nadhirin menjelaskan, dalam mengolah dan memproduksi pakaian batik, para pengusaha tidak menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Menurut mereka, BBM hanya berpengaruh terhadap biaya transportasi. Sementara itu, transportasi dari rumah produksi ke toko atau pasar tidak terlalu jauh. Sebab, masih dalam satu wilayah kota sehingga kenaikan harga BBM tidak terlalu berdampak pada industri tersebut dan mereka tetap dapat menjual dengan harga bersaing (murah).

Menurut Nadhirin, justru saat ini yang menjadi kendala bagi para pengusaha dan pedagang batik adalah meningkatnya persaingan. Pasalnya, jumlah pengusaha dan pedagang batik semakin banyak. Sementara itu, mereka lebih banyak mengandalkan pembeli yang datang dan belum mampu menemukan pasar-pasar baru.

Hal itu seperti terlihat di pasar Grosir Setono. Di pasar itu, banyak pedagang yang terlihat mengganggur. Pasalnya, jumlah pedagang sudah melebihi kapasitas. Menurut Nadhirin, akibat kelebihan kapasitas, hanya beberapa pedagang yang mampu meraih keuntungan dari penjualan produk sehari-hari. Mereka itu adalah pedagang berskala besar dan memiliki lebih dari satu kios.

Omzet para pedagang tersebut bisa mencapai Rp 2 juta-Rp 3 juta per hari. Namun pedagang berskala kecil, omzet yang diperoleh sekitar Rp 300.000-Rp 500.000 per hari.

Menurut seorang pedagang Pasar Grosir Setono, Rini, jumlah pedagang semakin banyak karena prospek usaha itu dinilai menjanjikan. Awalnya, hanya ada 50 pedagang di pasar tersebut. Omzet mereka pun saat itu sangat tinggi sehingga menarik pedagang lain untuk ikut berjualan di sana. Akibatnya, jumlah pedagang di Pasar Grosir Setono membeludak, akhirnya menimbulkan iklim kompetisi yang sangat tinggi. Bahkan, Rini mengaku pernah tidak menjual satu lembar pakaian pun dalam waktu satu minggu. (H17-50n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA