| Senin, 15 Agustus 2005 | PANTURA |
Masak Bermain Gobak Sodhor Harus Dilatih?KEGEMBIRAAN anak usia sekolah, terlihat ketika mereka mengikuti lomba permainan tradisional gobak sodhor di Alun-alun Kota Tegal, Jumat (12/8) lalu. Begitu pun pendukung maupun penonton perlombaan. Mereka bersorak, menyaksikan tim yang dijagokan tampil menyerang maupun bertahan. Koordinator lomba, Ali Rosyidi, mengatakan, setiap tim mendapat jatah menyerang dan bertahan. "Ketika satu tim mendapat giliran bertahan, anggota akan mempertahankan setiap petak daerahnya agar tidak kebobolan lawan. Namun tim bertahan menjaga pada garis masing-masing, tidak boleh melewatinya," papar dia di sela-sela perlombaan. Batasan waktu yang diberikan, kata dia, setiap sesi berdurasi tujuh menit. Sayangnya, kegembiraan anak-anak itu hanya pada momen tersebut, karena ruang terbuka Kota Bahari yang makin menyempit saat ini. Tingkat hunian yang cukup padat, mengakibatkan mereka tidak lagi mempunyai tempat bermain. Sehingga, permainan tersebut tak banyak dijumpai sekarang ini. Bahkan, banyak anak di kota di wilayah pantai utara (pantura) Jawa itu mengaku tidak mengenal permainan tradisional tersebut, seperti yang dikeluhkan oleh sejumlah peserta lomba yang diselenggarakan dalam rangka menyambut HUT Ke-60 Kemerdekaan RI. "Habis tidak ada yang melatih, ya kami kalah," ujar salah satu peserta dari tim yang kalah pada babak semi final. Kemudian koordinator lomba, Ali Rosyidi, menimpali sambil bercanda. "Masa bermain gobak sodhor harus dilatih?" ujar dia. Menurut Ali, hal tersebut menunjukkan anak tidak lagi akrab dengan permainan rakyat itu. "Termasuk generasi tahun sembilan puluhan, tidak banyak yang mengenal permainan yang mengandalkan strategi dan fisik itu," ujar dia. Peserta lomba tersebut, kata Ali, terdiri atas siswa SD, SMP, dan SMA. Mereka bergabung dalam tim dengan jumlah anggota tujuh orang untuk siswa SD, serta lima orang untuk siswa SMP dan SMA. "Lomba diikuti siswa SD berjumlah 28 tim, SMP 23 tim, dan SMA 21 tim,'' paparnya. Di sela-sela kegiatan tersebut Ali mengatakan, lomba tersebut diselenggarakan karena tidak memerlukan biaya mahal. Di samping itu, peserta dan penonton dapat bergembira bersama. Mengenai ide lomba tersebut, dikatakan sebagai upaya mengembangkan kembali olahraga tradisional atau olah raga rakyat itu. Pada akhirnya, hasil lomba menganugerahkan pemenang per kategori. Untuk tingkat SD, juara I SD Mintaragen, juara II SD Margadana 8, dan juara III SD Randugunting 3. Tingkat SMA, juara I SMAN 3, juara II SMK N 3, dan juara III SMA N III. "Untuk tingkat SMP, juara I SMPN 10, juara II SMPN 19, dan juara III SMP N 18.(Siti Kholidah-52a) |